GLOBALISASI INDONESIA

Leave a comment

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah serta inayah- Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas kewarganegaraan tentang “ Pengaruh Globalisasi Bagi Indonesia di Berbagai Bidang”
Kami mengucapkan terimakasih kepada guru pembimbing kami yang bernama “ Ibu Fery Minarti IP, S.Pd” yang telah memberi kami kesempatan untuk mengerjakan makalah tentang “Pengaruh Globalisasi Bagi Indonesia di Berbagai Bidang”. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Kami para penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca, khususnya Siswa- siswi SMA NAHDLATUL ULAMA 1 GRESIK.

Gresik, 25 januari 2011

Tim penyusun

Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang ……………………………………………………………………………..
1.2 Rumusan Masalah ………………………………………………………………………..
1.3 Maksud dan tujuan penulisan ………………………………………………………..
1.4 Identifikasi masalah ……………………………………………………………………..

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian globalisasi ……………………………………………………………………..
2.2 Ciri-ciri globalisasi ………………………………………………………………………….
2.3 Teori globalisasi ………………………………………………………………………………
2.4 Sejarah globalisasi …………………………………………………………………………..
2.5 Dampak globalisasi ………………………………………………………………………….
BAB III PEMBAHASAN

3.1 Pengaruh globalisasi di bidang sosial budaya ……………………………………
3.2 Pengaruh globalisasi di bidang ekonomi …………………………………………..
3.3 Pengaruh globalisasi di bidang politik ………………………………………………
3.4 Pengaruh globalisasi di bidang teknologi informasi ……………………………
3.5 Pengaruh globalisasi di bidang hukum …………………………………………….
3.6 Pengaruh globalisasi di bidang pertahanan keamanan ………………………

BAB IV PENUTUP

4.1 Simpulan ……………………………………………………………………………………..
4.2 Saran …………………………………………………………………………………………..

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………………………
LAMPIRAN ……………………………………………………………………………………………………

BAB 1

Pendahuluan

1.1 Latar belakang

Globalisasi adalah suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari proses manusia global itu. Kehadiran teknologi informasi dan teknologi komunikasi mempercepat akselerasi proses globalisasi ini. Globalisasi menyentuh seluruh aspek penting kehidupan. Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan baru yang harus dijawab, dipecahkan dalam upaya memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan kehidupan. Globalisasi sendiri merupakan sebuah istilah yang muncul sekitar dua puluh tahun yang lalu, dan mulai begitu populer sebagai ideologi baru sekitar lima atau sepuluh tahun terakhir. Sebagai istilah, globalisasi begitu mudah diterima atau dikenal masyarakat seluruh dunia. Wacana globalisasi sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu mengubah dunia secara mendasar. Globalisasi sering diperbincangkan oleh banyak orang, mulai dari para pakar ekonomi, sampai penjual iklan. Dalam kata globalisasi tersebut mengandung suatu pengetian akan hilangnya satu situasi dimana berbagai pergerakan barang dan jasa antar negara diseluruh dunia dapat bergerak bebas dan terbuka dalam perdagangan. Dan dengan terbukanya satu negara terhadap negara lain, yang masuk bukan hanya barang dan jasa, tetapi juga teknologi, pola konsumsi, pendidikan, nilai budaya dan lain-lain. Konsep akan globalisasi menurut Robertson (1992), mengacu pada penyempitan dunia secara insentif dan peningkatan kesadaran kita akan dunia, yaitu semakin meningkatnya koneksi global dan pemahaman kita akan koneksi tersebut. Di sini penyempitan dunia dapat dipahami dalam konteks institusi modernitas dan intensifikasi kesadaran dunia dapat dipersepsikan refleksif dengan lebih baik secara budaya. Globalisasi memiliki banyak penafsiran dari berbagai sudut pandang. Sebagian orang menafsirkan globalisasi sebagai proses pengecilan dunia atau menjadikan dunia sebagaimana layaknya sebuah perkampungan kecil. Sebagian lainnya menyebutkan bahwa globalisasi adalah upaya penyatuan masyarakat dunia dari sisi gaya hidup, orientasi, dan budaya. Pengertian lain dari globalisasi seperti yang dikatakan oleh Barker (2004) adalah bahwa globalisasi merupakan koneksi global ekonomi, sosial, budaya dan politik yang semakin mengarah ke berbagai arah di seluruh penjuru dunia dan merasuk ke dalam kesadaran kita. Produksi global atas produk lokal dan lokalisasi produk global.
Globalisasi adalah proses dimana berbagai peristiwa, keputusan dan kegiatan di belahan dunia yang satu dapat membawa konsekuensi penting bagi berbagai individu dan masyarakat di belahan dunia yang lain.(A.G. Mc.Grew, 1992). Proses perkembangan globalisasi pada awalnya ditandai kemajuan bidang teknologi informasi dan komunikasi. Bidang tersebut merupakan penggerak globalisasi. Dari kemajuan bidang ini kemudian mempengaruhi sektor-sektor lain dalam kehidupan, seperti bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain. Contoh sederhana dengan teknologi internet, parabola dan TV, orang di belahan bumi manapun akan dapat mengakses berita dari belahan dunia yang lain secara cepat. Hal ini akan terjadi interaksi antarmasyarakat dunia secara luas, yang akhirnya akan saling mempengaruhi satu sama lain, terutama pada kebudayaan daerah,seperti kebudayaan gotong royong,menjenguk tetangga sakit dan lain-lain. Globalisasi juga berpengaruh terhadap pemuda dalam kehidupan sehari-hari, seperti budaya berpakaian, gaya rambut dan sebagainya

1.2 Rumusan masalah

Permasalahan yang akan kita bahas dalam makalah ini berhubungan dengan pengaruh globalisasi terhadap bangsa dan Negara Indonesia di bidang politik, ekonomi, sosial budaya, teknologi informasi, hukum, dan pertahanan keamanan. Serta menyebutkan indikator yang menunjukkan perubahan akibat pengaruh globalisasi terhadap bidang-bidang tersebut.

1.3 Maksud dan Tujuan Penulisan
Makalah yang berjudul “Pengaruh Globalisasi di Indonesia” ini sengaja dibuat sebagai syarat untuk melengkapi tagihan nilai mata pelajaran PKN tapel : 2010 – 2011 SMANU 1 Gresik. Sedangkan tujuan dari pembuatan makalah ini untuk mengetahui pengaruh globalisasi terhadap bangsa Indonesia di berbagai bidang, selain itu juga untuk meningkatkan kesadaran remaja untuk menjunjung tinggi kebudayaan bangsa sendiri karena kebudayaan merupakan jati diri bangsa. Kita sebagai pelajar wajib mengetahui pengaruh globalisasi pada bangsa Indonesia.

1.4 IDENTIFIKASI MASALAH

Mengidentifikasi pengaruh globalisasi di berbagai bidang. Dalam perkembangannya globalisasi menimbulkan berbagai masalah dalam berbagai bidang, misalnya :
– hilangnya budaya asli suatu daerah atau suatu negara
– terjadinya erosi nilai-nilai budaya,
– menurunnya rasa nasionalisme dan patriotisme
– hilangnya sifat kekeluargaan dan gotong royong
– kehilangan kepercayaan diri
– gaya hidup kebarat-baratan.

Bab II

Landasan Teori

2.1 Pengertian Globalisasi

Menurut asal katanya, kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Achmad Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.
Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuk yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya, agama, politik, teknologi informasi, hukum dan pertahanan keamanan. Theodore Levitte merupakan orang yang pertama kali menggunakan istilah Globalisasi pada tahun 1985.
Scholte melihat bahwa ada beberapa definisi yang dimaksudkan orang dengan globalisasi:
• Internasionalisasi: Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantung satu sama lain.
• Liberalisasi: Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatan tarif ekspor impor, lalu lintas devisa, maupun migrasi.
• Universalisasi: Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.
• Westernisasi: Westernisasi adalah salah satu bentuk dari universalisasi dengan semakin menyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga mengglobal.
• Hubungan transplanetari dan suprateritorialitas: Arti kelima ini berbeda dengan keempat definisi di atas. Pada empat definisi pertama, masing-masing negara masih mempertahankan status ontologinya. Pada pengertian yang kelima, dunia global memiliki status ontologi sendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara.

2.2 Ciri Globalisasi
Berikut ini beberapa ciri yang menandakan semakin berkembangnya fenomena globalisasi di dunia.
• Perubahan dalam Konstantin ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang seperti telepon genggam, televisi satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya, sementara melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda.
• Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization (WTO).
• Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa (terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga internasional). saat ini, kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya dalam bidang fashion, literatur, dan makanan.
• Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi regional dan lain-lain.
Kennedy dan Cohen menyimpulkan bahwa transformasi ini telah membawa kita pada globalisme, sebuah kesadaran dan pemahaman baru bahwa dunia adalah satu. Giddens menegaskan bahwa kebanyakan dari kita sadar bahwa sebenarnya diri kita turut ambil bagian dalam sebuah dunia yang harus berubah tanpa terkendali yang ditandai dengan selera dan rasa ketertarikan akan hal sama, perubahan dan ketidakpastian, serta kenyataan yang mungkin terjadi. Sejalan dengan itu, Peter Drucker menyebutkan globalisasi sebagai zaman transformasi sosial.

2.3 Teori Globalisasi
Cochrane dan Pain menegaskan bahwa dalam kaitannya dengan globalisasi, terdapat tiga posisi teoritis yang dapat dilihat, yaitu:
• Para globalis percaya bahwa globalisasi adalah sebuah kenyataan yang memiliki konsekuensi nyata terhadap bagaimana orang dan lembaga di seluruh dunia berjalan. Mereka percaya bahwa negara-negara dan kebudayaan lokal akan hilang diterpa kebudayaan dan ekonomi global yang homogen. meskipun demikian, para globalis tidak memiliki pendapat sama mengenai konsekuensi terhadap proses tersebut.
• Para globalis positif dan optimistis menanggapi dengan baik perkembangan semacam itu dan menyatakan bahwa globalisasi akan menghasilkan masyarakat dunia yang toleran dan bertanggung jawab.
• Para globalis pesimis berpendapat bahwa globalisasi adalah sebuah fenomena negatif karena hal tersebut sebenarnya adalah bentuk penjajahan barat (terutama Amerika Serikat) yang memaksa sejumlah bentuk budaya dan konsumsi yang homogen dan terlihat sebagai sesuatu yang benar dipermukaan. Beberapa dari mereka kemudian membentuk kelompok untuk menentang globalisasi (antiglobalisasi).
• Para tradisionalis tidak percaya bahwa globalisasi tengah terjadi. Mereka berpendapat bahwa fenomena ini adalah sebuah mitos semata atau, jika memang ada, terlalu dibesar-besarkan. Mereka merujuk bahwa kapitalisme telah menjadi sebuah fenomena internasional selama ratusan tahun. Apa yang tengah kita alami saat ini hanyalah merupakan tahap lanjutan, atau evolusi, dari produksi dan perdagangan kapital.
• Para transformasionalis berada di antara para globalis dan tradisionalis. Mereka setuju bahwa pengaruh globalisasi telah sangat dilebih-lebihkan oleh para globalis. Namun, mereka juga berpendapat bahwa sangat bodoh jika kita menyangkal keberadaan konsep ini. Posisi teoritis ini berpendapat bahwa globalisasi seharusnya dipahami sebagai “seperangkat hubungan yang saling berkaitan dengan murni melalui sebuah kekuatan, yang sebagian besar tidak terjadi secara langsung”. Mereka menyatakan bahwa proses ini bisa dibalik, terutama ketika hal tersebut negatif atau, setidaknya, dapat dikendalikan.

2.4 Sejarah Globalisasi
Banyak sejarawan yang menyebut globalisasi sebagai fenomena di abad ke-20 ini yang dihubungkan dengan bangkitnya ekonomi internasional. Padahal interaksi dan globalisasi dalam hubungan antarbangsa di dunia telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Bila ditelusuri, benih-benih globalisasi telah tumbuh ketika manusia mulai mengenal perdagangan antarnegeri sekitar tahun 1000 dan 1500 M. Saat itu, para pedagang dari Tiongkok dan India mulai menelusuri negeri lain baik melalui jalan darat (seperti misalnya jalur sutera) maupun jalan laut untuk berdagang. Fenomena berkembangnya perusahaan McDonald di seluroh pelosok dunia menunjukkan telah terjadinya globalisasi.
Fase selanjutnya ditandai dengan dominasi perdagangan kaum muslim di Asia dan Afrika. Kaum muslim membentuk jaringan perdagangan yang antara lain meliputi Jepang, Tiongkok, Vietnam, Indonesia, Malaka, India, Persia, pantai Afrika Timur, Laut Tengah, Venesia, dan Genoa. Di samping membentuk jaringan dagang, kaum pedagang muslim juga menyebarkan nilai-nilai agamanya, nama-nama, abjad, arsitek, nilai sosial dan budaya Arab ke warga dunia.
Fase selanjutnya ditandai dengan eksplorasi dunia secara besar-besaran oleh bangsa Eropa. Spanyol, Portugis, Inggris, dan Belanda adalah pelopor-pelopor eksplorasi ini. Hal ini didukung pula dengan terjadinya revolusi industri yang meningkatkan keterkaitan antarbangsa dunia. berbagai teknologi mulai ditemukan dan menjadi dasar perkembangan teknologi saat ini, seperti komputer dan internet. Pada saat itu, berkembang pula kolonialisasi di dunia yang membawa pengaruh besar terhadap difusi kebudayaan di dunia.
Semakin berkembangnya industri dan kebutuhan akan bahan baku serta pasar juga memunculkan berbagai perusahaan multinasional di dunia. Di Indinesia misalnya, sejak politik pintu terbuka, perusahaan-perusahaan Eropa membuka berbagai cabangnya di Indonesia. Freeport dan Exxon dari Amerika Serikat, Unilever dari Belanda, British Petroleum dari Inggris adalah beberapa contohnya. Perusahaan multinasional seperti ini tetap menjadi ikon globalisasi hingga saat ini.
Fase selanjutnya terus berjalan dan mendapat momentumnya ketika perang dingin berakhir dan komunisme di dunia runtuh. Runtuhnya komunisme seakan memberi pembenaran bahwa kapitalisme adalah jalan terbaik dalam mewujudkan kesejahteraan dunia. Implikasinya, negara negara di dunia mulai menyediakan diri sebagai pasar yang bebas. Hal ini didukung pula dengan perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi. Alhasil, sekat-sekat antarnegara pun mulai kabur.
2.5 Dampak Globalisasi
1. Dampak globalisasi dalam bidang ekonomi, antara lain :
Globalisasi dan liberalisme pasar telah menawarkan alternatif bagi pencapaian standar hidup yang lebih tinggi. Semakin melebarnya ketimpangan distribusi pendapatan antar negara-negara kaya dengan negara-negara miskin. Munculnya perusahaan-perusahaan multinasional dan transnasional. Membuka peluang terjadinya penumpukan kekayaan dan monopoli usaha dan kekuasaan politik pada segelintir orang. Munculnya lembaga-lembaga ekonomi dunia seperti Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, WTO.

2. Dampak Globalisasi dalam bidang Sosial Budaya :
Semakin bertambah globalnya berbagai nilai budaya kaum kapitalis dalam masyarakat dunia. Merebaknya gaya berpakaian barat di negara-negara berkembang. Menjamurnya produksi film dan musik dalam bentuk kepingan CD/ VCD atau DVD.

3. Dampak Globalisasi dalam bidang Politik
Negara tidak lagi dianggap sebagai pemegang kunci dalam proses pembangunan. Para pengambil kebijakan publik di negara sedang berkembang mengambil jalan pembangunan untuk mengatasi masalah sosial dan ekonomi. Timbulnya gelombang demokratisasi (dambaan akan kebebasan ).
4. Dampak globalisasi dalam bidang Hukum pertahanan dan keamanan
• Menguatnya supremasi hokum, demokratisasi dan tuntutan dilaksanakannya HAM
• Menguatnya regulasi hokum dan pembuatan peraturan perundang-undangan untuk kepentingan rakyat.
• Aparat hukum dituntut lebih professional, transparan dan akuntabel.

Bab III

Pembahasan

3.1 Pengaruh Globalisasi di Bidang Sosial Budaya
Gaung globalisasi, yang sudah mulai terasa sejak akhir abad ke-20, telah membuat masyarakat dunia, termasuk bangsa Indonesia harus bersiap-siap menerima kenyataan masuknya pengaruh luar terhadap seluruh aspek kehidupan bangsa. Salah satu aspek yang terpengaruh adalah kebudayaan. Terkait dengan kebudayaan, kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Atau kebudayaan juga dapat didefinisikan sebagai wujudnya, yang mencakup gagasan atau ide, kelakuan dan hasil kelakuan (Koentjaraningrat), dimana hal-hal tersebut terwujud dalam kesenian tradisional kita. Oleh karena itu nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan atau psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran.
Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari kebudayaan Bagi bangsa Indonesia aspek kebudayaan merupakan salah satu kekuatan bangsa yang memiliki kekayaan nilai yang beragam, termasuk keseniannya. Kesenian rakyat, salah satu bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia tidak luput dari pengaruh globalisasi.
Globalisasi dalam kebudayaan dapat berkembang dengan cepat, hal ini tentunya dipengaruhi oleh adanya kecepatan dan kemudahan dalam memperoleh akses komunikasi dan berita namun hal ini justru menjadi bumerang tersendiri dan menjadi suatu masalah yang paling krusial atau penting dalam globalisasi, yaitu kenyataan bahwa perkembangan ilmu pengertahuan dikuasai oleh negara-negara maju, bukan negara-negara berkembang seperti Indonesia. Mereka yang memiliki dan mampu menggerakkan komunikasi internasional justru negara-negara maju. Akibatnya, negara-negara berkembang, seperti Indonesia selalu khawatir akan tertinggal dalam arus globalisai dalam berbagai bidang seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, termasuk kesenian kita.
Wacana globalisasi sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu mengubah dunia secara mendasar. Komunikasi dan transportasi internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa. Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara menyeluruh. Simon Kemoni, sosiolog asal Kenya mengatakan bahwa globalisasi dalam bentuk yang alami akan meninggikan berbagai budaya dan nilai-nilai budaya.
Dalam proses alami ini, setiap bangsa akan berusaha menyesuaikan budaya mereka dengan perkembangan baru sehingga mereka dapat melanjutkan kehidupan dan menghindari kehancuran. Tetapi, menurut Simon Kimoni, dalam proses ini, negara-negara harus memperkokoh dimensi budaya mereka dan memelihara struktur nilai-nilainya agar tidak dieliminasi oleh budaya asing. Dalam rangka ini, berbagai bangsa haruslah mendapatkan informasi ilmiah yang bermanfaat dan menambah pengalaman mereka.
Terkait dengan seni dan budaya, Seorang penulis asal Kenya bernama Ngugi Wa Thiong’o menyebutkan bahwa perilaku dunia Barat, khususnya Amerika seolah-olah sedang melemparkan bom budaya terhadap rakyat dunia. Mereka berusaha untuk menghancurkan tradisi dan bahasa pribumi sehingga bangsa-bangsa tersebut kebingungan dalam upaya mencari indentitas budaya nasionalnya. Penulis Kenya ini meyakini bahwa budaya asing yang berkuasa di berbagai bangsa, yang dahulu dipaksakan melalui imperialisme, kini dilakukan dalam bentuk yang lebih luas dengan nama globalisasi.

3. 2 Pengaruh Globalisasi di Bidang Ekonomi

Globalisasi ekonomi sebenarnya sudah terjadi sejak lama, masa perdagangan rempahrempah,masa tanaman paksa (cultuur stelsel) dan masa dimana modal swasta Belanda zaman colonial dengan buruh paksa. Pada ketiga periode tersebut hasil bumi Indonesia sudahs ampai ke Eropah dan Amerika. Sebaliknya impor tekstil dan barang-barang manufaktur. betapapun sederhananya, telah berlangsung lama. Globalisasi ekonomi sekarang ini adalah manifestasi yang baru dari pembangunan kapitalisme sebagai sistem ekonomi internasional, Seperti pada waktu yang lalu, untuk mengatasi krisis, perusahaan multinasional mencari pasar baru dan memaksimalkan keuntungan dengan mengekspor modal dan reorganisasi struktur produksi.
Pada tahun 1950an, investasi asing memusatkan kegiatan penggalian sumber alam dan bahan mentah untuk pabrik-pabriknya. Tiga puluh tahun terakhir ini, perusahaan manufaktur menyebar keseluruh dunia, Dengan pembagian daerah operasi melampaui batas-batas negara, perusahaanperusahaan tidak lagi memproduksi seluruh produk disatu negara saja. Manajemen diberbagai benua, penugasan personel tidak lagi terikat pada bahasa, batas negara dan kewarganegaraan.
Pada masa lalu bisnis internasional hanya dalam bentuk export – import dan penanaman modal. Kini transaksi menjadi beraneka ragam dan rumit seperti kontrak pembuatan barang, waralaba, imbal beli, “turnkey project,” alih teknologi, aliansi strategis internasional, aktivitas financial, dan lain-lain, Globalisasi menyebabkan berkembangnya saling ketergantungan pelaku-pelaku ekonomi dunia. Manufaktur, perdagangan, investasimelewati batas-batas negara. meningkatkan intensitas persaingan. gejala ini dipercepat oleh kemajuan komunikasi dan tran-sportasi teknologi.
Manakala ekonomi menjadi terintegrasi, harmonisasi hukum mengikutinya. Terbentuknya WTO (World Trade Organization) telah didahului atau diikuti oleh terbentuknya blok-blok ekonomi regional seperti Masyarakat Eropah, NAFTA, AFTA dan APEC. Tidak ada kontradiksi antara regionalisasi dan globalisasi perdagangan. Sebaliknya,
integrasi ekonomi global mengharuskan terciptanya blok-blok perdagangan baru.
Bergabung dengan WTO dan kerjasama ekonomi regional berarti mengembangkan institusiyang demokratis. memperbaharui mekanisme pasar, dan memfungsikan sistim hukum. Prinsip-prinsip “Most -Favoured – Nation.” “Transparency,’’ “National Treatment..’ “Non – Dicrimination” menjadi dasar WTO dan blok ekonomi regional,26 Bagaimana juga karakteristik dan hambatannya, globalisasi ekonomi menimbulkan akibat yang besar sekali pada bidang hukum. Globcilisasi ekonomi juga menyebabkan terjadinya globalisasi hukum, globalisasi hukum tersebut tidak hanya didasarkan kesepakatan internasional antar bangsa, tetapi juga pemahaman tradisi hukum dan budaya antara Barat
dan Timur.

Globalisasi hukum terjadi melalui usaha-usaha standarisasi hukum. antara lain melalui perjanjian-perjanjian internasional. General Agreement on Tariff and Trade (GATT) misalnya, mencantumkan bebarapa ketentuan yang harus dipenuhi oleh negara-negara anggota berkaiian dengan penanaman modal, hak milik intelektual, dan jasa prinsip-prinsip“Non-Discrimination,” “Most Favoured Nation,” “National Treatment,” “Transparency” kemudian menjadi substansi peraturan-peraturan nasional negara-negara anggota.
Globalisasi dibidang kontrak-kontrak bisnis internasional sudah lama terjadi. Karena negara-negara maju membawa transaksi-transaksi baru ke negara-negara berkembang, maka partner mereka dari negara-negara berkembang menerima model-model kontrak bisnis internasional tersebut, bisa karena sebelumnya tidak mengenal model tersebut, dapat juga karena posisi tawar yang lemah, Oleh karena itu tidak mengherankan, perjanjian patungan (joint venture), perjanjian waralaba (franchise), perjanjian lisensi, perjanjian keagenan,hampir sama disemua negara.
Konsultan hukum suatu negara dengan mudah mengerjakan perjanjian-perjanjian semacam itu di negara-negara lain. Persamaan ketentuan-ketentuan hukum berbagai negara bisa juga terjadi karena suatu negara mengikuti model negara maju berkaitan dengan institusi-institusi hukum untuk mendapatkan modal. Undang-Undang Perseroan Terbatas berbagai negara. dari “Civil Law” maupun “Common Law” berisikan substainsi yang serupa.30 Begitu juga dengan peraturan Pasar Modal, dimana saja tidak banyak berbeda, satu dan yang lain karena dana yang mengalir ke pasar-pasar tersebut tidak lagi terikat benar dengan waktu dan batas-batas negara, Tuntutan keterbukaan (transparency) yang semakin besar, berkembangnya kejahatan intiernasional dalam pencucian uang (money laundering) dan “insider trading” mendorong kerjasama internasional.
Usaha-usaha untuk menyamakan peraturan dibidang perburuhan dan lingkungan hidup masih akan terus berjalan, Negara-negara maju meminta agar negaranegara berkembaug memperbaiki kondisi perburuhan dan perlindungan Lingkungan hidup, tidak saja didasari oleh hak-hak azasi manusia. Tetapi juga persaingan perdagangan. Upah dan jaminan buruh yang rendah, serta peraturan perlindungan lingkungan hidup yang longgar menurut negara maju adalah “social dumping” yang merugikan daya saing mereka.

3.3 Pengaruh Globalisasi di Bidang Politik

Globalisasi politik merupakan pergulatan global dalam mewujudkan kepentingan para pelaku yang menjalankannya. Pelaku globalisasi bidang politik:
• Semua Negara
• Organisasi antar pemerintah: ASEAN, NATO dll.
• Perusahaan internasional dan transnasional
Pemerintah nasional yang dipilih secara demokratis, tidak lagi dapat mengontrol batas-batas Negara mereka.

Globalisasi dan Risiko
1. Lingkungan
• Bergantungnya manusia pada sumber-sumber alam yang akan menyebabkan krisis lingkungan hidup.
• Polusi lingkungan: pencemaran atmosfer, pencemaran sungai oleh limbah industri.
• Masalah hutan: populasi dunia terlalu cepat dan banyak, sehingga lahan untuk perumahan dan bahan mentah untuk memenuhi kebutuhan sudah mulai langka.
• Pemanasan global (global warming). Peningkatan jumlah emisi (penyinaran/pemancaran) dari industri ke atmosfer meningkatkan suhu global.

2. Kesehatan
• Dampak lapisan ozon
• Manufactured risk pada makanan: kemanjuan proses pembuatan makanan dengan zat kimia berbahaya.
3. Mayarakat risiko global
Perubahan pola pekerjaan, mundurnya tradisi dan adapt-istiadat dalam identitas diri.

3. 4 Pengaruh Globalisasi di Bidang Teknologi Informasi

Di era globalisasi, teknologi informasi berperan sangat penting. Dengan menguasai teknologi dan informasi, kita memiliki modal yang cukup untuk menjadi pemenang dalam persaingan global. Di era globalisasi, tidak menguasai teknologi informasi identik dengan buta huruf.

Teknologi Informasi (TI) dan multimedia telah memungkinkan diwujudkannya pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, yang melibatkan siswa secara aktif. Kemampuan TI dan multimedia dalam menyampaikan pesan dinilai sangat besar. Dalam bidang pendidikan, TI dan multimedia telah mengubah paradigma penyampaian materi pelajaran kepada peserta didik. Computer Assisted Instruction (CAI) bukan saja dapat membantu guru dalam mengajar, melainkan sudah dapat bersifat stand alone dalam memfasilitasi proses belajar.

Penekanan penting akan memaksimumkan sumber daya manusia di semua sektor, berarti kita akan membutuhkan sistem komunikasi yang sangat efektif. Apabila kita merespons pada kebutuhan fokus awal seharusnya lebih berdasarkan penerimaan informasi daripada penyebaran informasi. Hal ini hampir memutarbalikan peran jika dibandingkan dengan peran komunikasi administrasi pendidikan yang dulu.

Perbedaan utama antara negara maju dan negara berkembang adalah kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan yang pesat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi di negara-negara maju karma didukung oleh sistem informasi yang mapan. Sebaliknya, sistem informasi yang lemah di negara-negara berkembang mengakibatkan keterbelakangan dalam penguasaan.ilmu pengetahuan.dani teknologi. Jadi jelaslah bahwa maju atau tidaknya suatu negara sangat di tentukan oleh penguasaan teirhadap informasi, karena informasi merupakan modal utama dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan.teknologi yang menjadi senjata pokok untuk membangun negara. Sehingga apabila satu negara ingin maju dan tetap eksis dalam persaingan global, maka negara tersebut harus menguasai informasi. Di era globalisasi dan informasi ini penguasaan terhadap informasi tidak cukup harnya sekedar menguasai, diperlukan kecepatan dan ketepatan. Sebab hampir tidak ada guna menguasai informasi yang telah usang, padahal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat mengakibatkan usia informasi menjadi sangat pendek, dengan kata lain, informasi lama akan diabaikan dengan adanya informasi yang lebih baru.

Masukan (input) dan kontribusi langsung dari para pemegang peran (stakeholders) yang lain; siswa, orang tua dan anggota masyarakat juga memberikan informasi yang sangat membantu dan meningkatkan dukungan masyarakat bagi pengembangan sekolah. Jika obyektifitas utamanya adalah memaksimalkan pendidikan sumber daya manusia maka hal itu telah meningkatkan hubungan komunikasi kita dengan seluruh sektor lingkungan pendidikan dan para pemegang peran (stakeholders). Lagipula kunci utama untuk meningkatkan komunikasi harus terfokus pada saling berbagi komunikasi terbuka dan meningkatkan kesempatan untuk mendapatkan dukungkan dari segala bidang.

Kehidupan kita sekarang perlahan lahan mulai berubah dari dulunya era industri berubah menjadi era informasi di balik pengaruh majunya era globalisasi dan informatikamenjadikan computer, internet dan pesatnya perkembangan teknologi informasi sebagai bagian utama yang harus ada atau tidak boleh kekurangan dikehidupan kita. Aktifitas network globalisasi ekonomi yang disebabkan oleh kemajuan dari teknologi informasi bukan hanya mengubah pola produktivitas ekonomi tetapi juga meningkatkan tingkat produktivitas;dan pada saat bersamaan juga menyebabkan perubahan structural dalam kehidupan politik, kebudayaan, kehidupan sosial masyarakat dan juga konsep waktu dalam dalam berbagai lapisan masyarakat.

Tanggung jawab sekolah dalam memasuki era globalisasi baru ini yaitu harus menyiapkan siswa untuk menghadapi semua tantangan yang berubah sangat cepat dalam masyarakat kita. Kemampuan untuk berbicara bahasa asing dan kemahiran komputer adalah dua kriteria yang biasa diminta masyarakat untuk memasuki era globalisasi baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Maka dengan adanya komputer yang telah merambah di segala bidang kehidupan manusia hal itu membutuhkan tanggung jawab sangat tinggi bagi sistem pendidikan kita untuk mengembangkan kemampuan berbahasa siswa dan kemahiran komputer.

3.5 Pengaruh Globalisasi di Bidang Hukum

Globalisasi hukum akan menyebabkan peraturan-peraturan negara-negara berkembang mengenai investasi,perdagangan, jasa-jasa dan bidang-bidang ekonomi lainnyamendekati negara-negara maju (converagence). Namun tidak ada jaminan peraturanperaturan tersebut memberikan hasil yang sama disemua tempat. Hal mana dikarenakan perbedaan sistim politik. ekonomi dan budaya. Hukum itu tidak sama dengan kuda, Orang tidak akan menamakan keledai :uau icbra adalah kuda, walau bentuknya hampir sama. Kuda adalah kuda, Hukum tidak demikian. Apa yang disebut hukum itu tergantung kepada persepsi masyarakatnya. Friedman, mengatakan bahwa tegaknya peraturan peraturan hokum tergantung kepada budaya hukum masyarakat. budaya hukum masyarakat tergantung kepada budaya hukum anggota-anggotanya yang dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, lingkungan, budaya, posisi atau kedudukan, bahkan kepentingan kepentingan. Dalam menghadapi hal yang demikian itu perlu “check and balance” dalam bernegara. “Check and balance” hanya bisa dicapai dengan Parlemen yang kuat. Pengadilan yang mandiri, dan partisipasi masyarakat melalui lembaga-lembaganya.
Pendidikan Hukum Memasuki Abad 21 Globalisasi ekonomi membawa globalisasi hukum dan globalisasi praktek hukum. Mereka yang baru tamat dari Fakultas Hukum hari ini menghadapi dunia baru. Tidak saja lahirnya negara-negara baru diatas peta bumi, tetapi juga tipe baru hubungani ekonomi dan politik antar bangsa. Hukum sebagai sistim dari ketertiban sosial juga terpengaruh oleh perubahan ini, dan pendidikan hukum sebagai langkah pertama untuk terjun dalam praktek hukum harus kembali dirancang menghadapi tantangan akibat perubahan yang terjadi.
Berdasarkan prospek profesi hukum dalam masa yang tidak terlalu lama ini, pendidikan hukum harus menekankan lagi bahwa hukum merupakan alat perubahan sosial untuk membawa perbaikan bagi masyarakat dan sistim hukum. Akibat dari globalisasi, pendidikan hukum harus mengakui tanggung jawabnya kepada masyarakat. Di negara maju disadari juga, globalisasi bisa mendatangkan kerugian bagi golongan masyarakat tertentu. Perdagangan bebas dikatakan akan membawa keuntungan ekonomi bagi para pesertanya dan akan mengurangi kesenjangan antar negara. “Free trade” akan meningkatkan “economic growth” yang selanjutnya akan membawa perbaikan standar kehidupan. Hal tersebut ditandai dengan kenaikan GNP.
Dalam kenyataannya, hal itu adalah sebagian dan skenario. Globalisasi adalah gerakan perluasan pasar, dan disemua pasar yang berdasarkan persaingan, selalu ada yang menang dan yang kalah. Perdagangan bebas bisa juga menambah kesenjangan antara negara-negara maju dan negara-negara dipinggiran (periphery), yang akan membawa akibat pada komposisi masyarakat dan kondisi kehidupan mereka. Ini adalah kecenderungan sejak berakhirnya Perang Dunia II. Bertambahnya utang negara- negara dunia ketiga. Tidak seimbangnya neraca perdagangan, buruknya kondisi kehidupan buruh, dan lingkungan hidup adalah sebagian gejala-gejala negeri-negeri yang kalah dalam perdagangan bebas, Oleh karena itu pendidik harus bisa mengusahakan mahasiswanya mengerti hokum dan profesi hukum dalam konteks sosial dan keterikatan (commitment) kepada keadilan dan tanggung jawab sosial.
Fakultas Hukum hendaknya melahirkan sarjana hukum yang berpengetahuan luas dan memiliki ketrampilan hukum. Berkenaan dengan hubungan praktek hukum dan pendidikan hukum, di Amerika Serikat sendiri, umpamanya, ada kekhawatiran bahwa apa yang diberikan dalam kuliah berbeda dengan hukum dalam kenyataan. Sebagian besar kuliah mengajarkan teori atau hal-hal yang normatif sifamya, doctrinal dan deskriptif. Timbul usul agar staf pengajar melakukan ‘empirical research”. Untuk melahirkan sarjana hukum yang kompeten dan professional, diusulkan agar staf pengajar dalam masa liburnya perlu bekerja di kantor Pengacara atau Konsultan Hukum, kantor pemerintahan dan pengadilan.
Selanjutnya adalah salah bila menganggap praktek hukum semata-mata proses advokasi. Bahkan dalam praktek yang tradisional sekalipun, hanya sebagian kecil pekerjaan hukum diselesaikan melalui pengadilan. “Legal drafting.’ keahlian bernegosiasi dan perencanaan hukum, adalah ketrampilan-ketrampilan yang harus dimiliki oleh sebagian besar sarjana hukum.38 Di Australia ada usul agar Fakultas Hukum di negara tersebut menentukan misinya didunia untuk menyambut abad 21, sehingga dapat ditentukan tujuan dari kurikulum dan memutuskan strategi pcerkuliahan yang bagaimana untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam hubungan ini antara lain kebijaksanaan dan syarat-syarat penerimaan mahasiswa baru perlu diperketat.
Australia menyadari pula, perlunya pendidikan hukum diarahkan ke Asia, termasuk Indonesia. Pertama, karena hubungan ekonomi dan politik Australia bergeser dari Eropah ke Asia dan kawasan lain. Kedua, makin banyak kantor Konsutan Hukum Australia membuka praktek disegala penjuru. Oleh karena itu perlu lebih banyak mata kuliah mengenai hukum interinasional, perdagangan intenasional, perbandingan hukum dan bahasa asing.39 Bagaimam kita di Indonesia menghadapi globalisasi hukum dan globalisasi praktek hukum tersebut?
Pendidikan hukum di Indonesia dalam kurikulum nasionalnya sudah menjurus kepada penguasaan hukum yang berdimensi sosial, disamping penguasaan ketrampilan hukum. Namun dalam era globalisasi kurikulum nasional dan lokal tersebut perlu diisi dengan materi kuliah yang sifatnya perbandingan dan berhuhungan dengan kenyataan. Sarjana Hukum masa kini dalam era globalisasi, baik karena kebutuhan praktek maupun kesamaan model institusi-institusi hukum dan peraturan-peraturannya, perlu mengetahui berbagai peraturan hukum negara lain dan bagaimana ia berjalan dalam perbedaan sistim hukum, budaya dan tradisi.40 Sebagai kesimpulan, Fakultas Hukum dalam era globalisasi harus mempersiapkan mahasiswanya dengan pendidikan yang cukup. Disatu pihak pendidikan hokum menghasilkan sarjana hukum yang mempunyai ketrampilan dalam praktek hukum yang mengandung unsur internasional ; di pihak lain membekali mereka dengan kemampuan menghadapi berbagai masalah yang dihadapi masyarakat, termasuk memberikan jalan bantuan hukum bagi mereka yang paling terkena proses globalisasi.

3.6 Pengaruh Globalisasi di Bidang Pertahanan Keamanan
Berakhirnya Perang Dingin dan berkembangnya fenomena globalisasi, mendorong perubahan terhadap konsentrasi keamanan negara. Secara tradisional, keamanan didefinisikan dari perspektif geo-politik, dengan menekankan pada aspek-aspek seperti strategi penangkalan (detterence), perimbangan kekuatan (power Balancing), dan strategi militer. Pemahaman keamanan secara tradisional ini, menjadi tidak penting seiring dengan berkembangnya multi isu, multi aktor, dan perubahan sistem internasional sebagai gambaran globalisasi. Negara dituntut ekstra sensitif dalam menjamin keamanan negaranya dalam fenomena globalisasi.
Dengan segala dampak menguntungan dan merugikan dari globalisasi, yang terproses dalam dimensi yang beragam pula, menuntut negara untuk lebih memperhatikan keamanan dari perpektif non-konvensional. Dimana aspek-aspek ideologi, ekonomi, budaya, sosial-politik, teknologi, militer, pertahanan negara, dan seterusnya, sebagai dimensi yang mampu menciptakan ancaman. Seperti apa yang telah digambarkan sebelumnya, bahwa proses globalisasi menciptakan integrasi masyarakat dan segenap dimensi kehidupannya menjadi sebuah masyarakat global. Kemajuan teknologi, memberikan akses yang cepat dan mudah dalam penyebaran nilai-nilai dan ide-ide, termasuk akses untuk memaksakan isu tertentu.
Munculnya perusahaan-perusahan multinasional, serta semakin banyaknya rezim internasional, membuat batas-batas negara semakin tidak terlihat. Gambaran singkat situasi yang diciptakan globalisasi ini menumbuhkan ancaman baru yang harus diantisipasi oleh negara. Dimensi-dimensi tersebut sekaligus memberikan kewajiban besar bagi elit-elit negara untuk menjaga kesimbangan antara tuntutan globalisasi kejadian lokal (globalizing local dynamics) dan lokalisasi peristiwa global (localizing global dynamics).
Era globalisasi secara langsung maupun tidak langsung telah mempengaruhi signifikansi geopolitik dalam interaksi antaraktor dalam hubungan internasional. Globalisasi seolah-olah menciptakan sebuah aturan yang memaksa aktor-aktor didalamnya untuk menemukan suatu strategi yang tepat bagaimana mereka mengatur dirinya dan bersikap terhadap aktor lain dengan tidak hanya, bahkan dengan tidak menggunakan instrumen-instrumen konvensional, yaitu militer dan power politics.
Dalam globalisasi, suatu negara juga harus mengikuti aturan-aturan yang ada. Negara-negara harus memilki mekanisme yang mendorong terciptanya efektifitas dan efesiensi agar dapat bertahan dalam era ini. Bahkan negara-negara tersebut pada tahap tertentu mau tidak mau harus mengorbankan kedaulatannya. Globalisasi memang telah menciptakan sebuah keterikatan diantara negara-negara sekaligus menciptakan ancaman baru dan rasa tidak aman bagi negara. Rasa tidak aman (insecurity) negara tersebut merefleksikan sebuah kombinasi antara ancaman-ancaman (threats) dan kerawanan (vulnerabilitties) yang lahir dari fenomena globalisasi.
Seperti apa globalisasi menjadi ancaman bagi keamanan negara, akan diuraikan secara singkat berdasarkan beberapa dimensi penting dalam globalisasi, sebagai berikut.

 Globalisasi Ekonomi, akan menciptakan ancaman dengan menipisnya kemampuan negara dalam hak-hak nasional ekonomi. Hal ini disebabkan adanya ekonomi global yang memunculkan insitusi-institusi dan lembaga ekonomi internasional seperti IMF, Bank dunia dan sebagainya), yang membuat negara-negara bergantung. Persoalaannya adalah insitusi internasional tersebut seringkali memiliki regulasi dalam prasayarat bantuannya, seperti memaksa negara untuk menerapkan atau melakukan nilai-nilai tertentu, ide-ide, serta isu tertentu. Selain itu, institusi tersebut juga sering menjadi alat mencapai kepentingan negara-negara yang menjadi donatur terbesar atau yang mempunyai power dalam institusi internasional tersebut. Hal ini tentunya, menjadi ancaman dan dilema tersendiri bagi keamanan negara, dimana disatu sisi negara tidak mampu menolak globalisasi ekonomi, bahkan menggantungkan hidupnya pada institusi-institusi ekonomi internasional, dan pada sisi yang lain, negara harus bersiap-siap menghadapi intervensi asing terhadap negaranya yang masuk melalui kebijakan institusi-institusi ekonomi tersebut.

 Globalisasi Ideologi, menciptakan ancaman ketika globalisme menberikan peluang bagi terjadinya perang ideologi. Globalisasi yang membuka sekat diantara identitas budaya, keyakinan serta nilai-nilai bangsa tertentu membuat batas wilayah tidak lagi mampu membatasi pengaruh yang masuk kedalam negara. Negara harus menghadapi datangnya ideologi asing. Dalam hal ini, globalisme menjadi ancaman terhadap negara, saat ia mampu mempengaruhi masyrakat untuk memusuhi negaranya, mengurangi loyalitas terhadap negara, bahkan melemahkan semangat nasionalsime masyarakat negara tertentu.

 Globalisasi Sosial, bentuk ancamannya adalah dengan majunya teknologi yang merupakan rangkaian dalam globalisasi yang tidak dapat dibendung. Teknologi canggih membuat proses integrasi sosial menjadi sangat cepat bahkan tidak terkendalikan. Informasi mengalir tanpa batas, penyebaran budaya juga dengan mudah memasuki negara. Persoalannya adalah munculnya ancaman terhadap identitas lokal, akibat pengaruh asing yang sulit dibendung. Dalam situasi ini negara dengan kemapuan teknologi tinggi tentu akan lebih mudah memberikan pengaruhnya.

 Globalisasi militer, pada akhirnya menciptakan pertanyaan mengenai arti dan pelaksanaan kedaulatan serta otonomi sebuah negara. Kerjasama-kerjasama militer yang dilakukan, secara tidak langsung mengancam kedaulatan dan otonomi/ kekebasan negara dalam aspek pengambilan keputusan, secara institusional dan struktural. Dalam hal pengambilan keputusan misalnya organisasi-oraganisasi militer internasional seringkali membatasi otoritas negara untuk mengambil keputusan keamanan, dan seringkali justru memaksakan keputusan sepihak dari negara yang mempunyai power dalam organisasi tersebut. Globalisasi militer juga menjadi dilema bagi keamanan nasional dalam melakukan pertahanan nasional atau bergabung melakukan cooperative security. Karena banyaknya benturan kepentingan nasional dengan kepentingan kelompok. Lebih jauh globalisasi militer menciptakan dilema keamanan dengan maraknya perdagangan senjata di seluruh dunia.

BAB IV

PENUTUP

4.1 SIMPULAN

Globalisasi memang tidak dapat dipisahkan. Baik secara historis maupun ideologis akan selalu ada di balik setiap proses dan peristiwa sosial di era globalisasi ini. Bahkan disinyalir bahwa globalisasi adalah misi yang harus dapat di hadapi tidak hanya Negara Indonesia saja, melainkan seluruh dunia harus mampu mengendalikan globalisasi. Oleh sebab itu adalah benar apabila membicarakan globalisasi dalam hubungan dengan agama dan adalah suatu keharusan untuk meminta pertanggungjawaban moral, etika dan spiritual dari agama-agama tentang ragam persoalan kemanusiaan dan lingkungan alam yang terjadi dewasa ini. siswa sebagai bagian dari komunitas ilmiah dan komunitas beragama yang akan mewarisi masa depan sudah seharusnya memahami realitas globalisasi dan permasalahannya serta diperkenalkan dengan solusi-solusi konseptual agar mereka dapat mengambil sikap positif, kritis, realistis, dan konstruktif terhadap globalisasi itu sendiri

4.2 SARAN

Dari hasil pembahasan diatas, dapat dilakukan beberapa tindakan untuk mencegah terjadinya globalisasi yang merugikan Negara Indonesia yaitu :
1. Pemerintah perlu mengkaji ulang perturan-peraturan yang dapat menyebabkan pergeseran budaya bangsa
2. Masyarakat perlu berperan aktif dalam pelestarian budaya daerah masing-masing khususnya dan budaya bangsa pada umumnya
3. Para pelaku usaha media massa perlu mengadakan seleksi terhadap berbagai berita, hiburan dan informasi yang diberikan agar tidak menimbulkan pergeseran budaya
4. Masyarakat perlu menyeleksi kemunculan globalisasi di berbagai bidang, sehingga globalisasi yang masuk tidak merugikan dan berdampak negative.
5. Masyarakat harus berati-hati dalam meniru atau menerima globalisasi baru, sehingga pengaruh globalisasi di negara kita tidak terlalu berpengaruh pada kebudayaan yang merupakan jati diri bangsa kita.
Bagi para pelajar kami tekankan harus mampu mengendalikan segala bentuk globalisasi. Karena sesungguhnya semua itu masih bisa di kendalikan sesuai batasnya asalkan, kita semua warga Negara Indonesia bekerjasama untuk saling menyaring, mengawasi dan melaksanakan globalisasi sesuai batasnya. .

Daftar Pustaka

Laksono, Agung. 2008. Pengertian globalisasi. (online), (http://www.google.co.id, diakses tanggal 15 Januari 2010).
Wafiq, Abdul. 2009. Pengaruh globalisasi di Indonesia. (online), (http://tipzsangguru.wordpress.com, diakses tanggal 15 Januari 2010).
Wahono, Adji. 2008. Sejarah globalisasi. (online), (http://www.google.co.id, diakses tanggal 15 Januari 2010).

Panji Laras

Leave a comment

Once upon a time, there was a poor woman lived in the forest. Her house was very small, and it was made of dry banana leaves.
She had a son. His name was “Panji Laras”. He had a pet. It was a strong and big cock. The name of his cock was “Cindelaras”. He loved his cook. He took Cindelaras wherever he went. Cindelaras always won on every cock fighting competition.
On day he took Cindelaras to the city. He participated the cock fighting that was hold by the king’s son. Fortunately Cindelaras was the winner.
The king’s son was angry to “Panji Laras”, because his cock died. Panji Laras was accused and he had to be responsible for the accident in front of the king.
Panji’s mother worried that her son hadn’t come yet. She went to find him and she saw her son was in dangerous luckily when the king was angry to Panji, his mother came. It was a great surprise. The king was happy to meet his wife and his brave son. After that they live a together in a happy live.
Generic structure of narrative text
Title : Panji Laras
Orientation :
Once upon a time, there was a poor women lived in the forest. Her house was very small, and it was made of dry banana leaves, she had a son. His name was “Panji Laras”.
Complication :
1. The king’s son was angry to “Panji Laras”, because his cock died
2. Panji Laras hadn’t came yet
Resolution :
1. Panji Laras had to accused and responsible to the king
2. His mother went to find Panji Laras in the city
Re-Orientation :
After that they live a together in happy live.

Sejarah Kerajaan Islam di Indonesia

Leave a comment

PENDAHULUAN

Pada tahun 30 Hijriah atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.
Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.
Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil’alamin.
Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah – terutama Belanda – menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.
Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.
Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi’i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).

A. Kerajaan Samudera Pasai
Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Malik Al-saleh dan sekaligus sebagai raja pertama pada abad ke-13. Kerajaan Samudera Pasai terletak di sebelah utara Perlak di daerah Lhok Semawe sekarang (pantai timur Aceh).
Sebagai sebuah kerajaan, raja silih berganti memerintah di Samudra Pasai. Raja-raja yang pernah memerintah Samudra Pasai adalah seperti berikut.
(1) Sultan Malik Al-saleh berusaha meletakkan dasar-dasar kekuasaan Islam dan berusaha mengembangkan kerajaannya antara lain melalui perdagangan dan memperkuat angkatan perang. Samudra Pasai berkembang menjadi negara maritim yang kuat di Selat Malaka.
(2) Sultan Muhammad (Sultan Malik al Tahir I) yang memerintah sejak 1297-1326. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Perlak kemudian disatukan dengan Kerajaan Samudra Pasai.
(3) Sultan Malik al Tahir II (1326 – 1348 M). Raja yang bernama asli Ahmad ini sangat teguh memegang ajaran Islam dan aktif menyiarkan Islam ke negeri-negeri sekitarnya. Akibatnya, Samudra Pasai berkembang sebagai pusat penyebaran Islam. Pada masa pemerintahannya, Samudra Pasai memiliki armada laut yang kuat sehingga para pedagang merasa aman singgah dan berdagang di sekitar Samudra Pasai. Namun, setelah muncul Kerajaan Malaka, Samudra Pasai mulai memudar. Pada tahun 1522 Samudra Pasai diduduki oleh Portugis. Keberadaan Samudra Pasai sebagai kerajaan maritim digantikan oleh Kerajaan Aceh yang muncul kemudian.
Catatan lain mengenai kerajaan ini dapat diketahui dari tulisan Ibnu Battuta, seorang pengelana dari Maroko. Menurut Battuta, pada tahun 1345, Samudera Pasai merupakan kerajaan dagang yang makmur. Banyak pedagang dari Jawa, Cina, dan India yang datang ke sana. Hal ini mengingat letak Samudera Pasai yang strategis di Selat Malaka. Mata uangnya uang emas yang disebur deureuham (dirham).
Di bidang agama, Samudera Pasai menjadi pusat studi Islam. Kerajaan ini menyiarkan Islam sampai ke Minangkabau, Jambi, Malaka, Jawa, bahkan ke Thailand. Dari Kerajaan Samudra Pasai inilah kader-kader Islam dipersiapkan untuk mengembangkan Islam ke berbagai daerah. Salah satunya ialah Fatahillah. Ia adalah putra Pasai yang kemudian menjadi panglima di Demak kemudian menjadi penguasa di Banten.

B.Kerajaan Islam Di Aceh
Kerajaan Islam di Aceh berdiri berkaitan dengan runtuhnya Kerajaan Malaka pada tahun 1511, banyak Orang melayu menyebrang Selat Malaka dan bermukim di Aceh . Menurut sejarah Melayu , Kerajaan Aceh pertama dipimpin oleh Sultan Ali Mughayat Syah (1513-1528). Perdagangan , pemerintahan yang teratur dan terpeliharanya kebudayaan Islam merupakan faktor penting yang menyebabkan Aceh bisa bersaing dengan kerajaan islam lainya seperti Turki Utsmani dan Maroko.
kerajaan ini berdiri ditandai dengan adanya perebutan hegemoni yang dipimpin oleh Sultan Alaudin Al-Kahar di Selat Malaka dari kekuasaan Portugis dan Johor yang pada akhirnya berhasil menangkap Sultan Johor. Serangan berikutnya dilakukan ke Malaka oleh Sultan Aru , namun pada akhirnya gagal bersamaandengan gugurnya beliau.
Gagal merebut Malaka , Kerajaan Aceh meluaskan wilayahnya ke Sumatera bagian tengah dan selatan serta Semenanjung Malaka. Usaha perluasan wilayah tersebut terjadi pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636) yang membawa Aceh ke puncak kejayaanya. Aceh dipilih sebagai transitnya para pedagang dari Barat dan Timur karena letaknya strategis sehingga terdapat hubungan diplomatik dengan kerajaan lain.
Ciri-ciri yang menonjol dari Kerjaan Aceh adalah Raja-raja Aceh sangat menaruh perhatian dalam kehidupan agama Islam. Dalam pelaksanaan kehidupan beragama, rakyat Aceh mendapat pengaruh Sufi dan Tassawuf. Namun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Tani , ajaran tersebut ditekan karena dianggap menyimpang dan memilih Ajaran Islam murni akan tetapi gagal.
Dengan semakin meningkatnya hubungan dengan negeri Arab , maka pengaruh ajaran Islam dari Timur Tengah makin meningkat, lambat laun pengaruh tassawuf menurun yang akhirnya mampu mempertahankan citranya sebagai kerajaan Islam yang taat sehingga Aceh dijuluki sebagai “Serambi Mekkah” .

C. Kerajaan Islam di Malaka

Kerajaan Malaka yang semula tumbuh di sekitar pelabuhan Malaka berkembang menjadi kerajaan Islam yang paling berpengaruh di sekitar selat Malaka. Tidak di ketahui dengan pasti bagaimana awal berdirinya dan pergantian raja-rajanya. Menurut versi melayu dan majapahit, kerajaan ini didirikan oleh seorang pangeran Majapahit bernama Paramisora, yang melarikan diri ke Tumasit kemudian ke Malaka. Seteleh memeluk islam, dia menganti nama nya menjadi nama islam yaitu Iskandar syah
Raja pertama Malaka ini diganti oleh Muhammad Iskandar Syah (1414-1424) dan menikah dengan putri Pasai, Sultan Munfadzat Syah, Sultan Mansur Syah (1458-1477), sultan Alaudin Syah (1488-1511). Kerajaan ini mengalami keruntuhan setalah direbut oleh bangsa portugis di bawah pimpinan Alfonso d Alburquerque tahun 1511
Walaupun Paramisora dianggap sebagai pendiri kerajaan Malaka Awal abad ke 15, Sebanarnya pelabuhan Malaka telah berkembang menjadi pelabuhan penting sekitar satu sampai dua abad yang lalu.
Sejalan dengan pesatnya perdagangan, kerajaan ini memiliki hegemoni atas selat Malaka. Selama kurang lebih satu abad, kerajaan ini memiliki pengaruh politik atas kerajaan – kerajaan kecil di sekitar selat malaka.
Kerajaan Malaka memiliki peran yang sangat besar di bidang perdagangan. Bidang ini merupakan sumber utama kehidupan ekonomi penduduknya. Pada masa Kejayaannya, para pedagang Indonesia banyak yang berlabuh di pelabuhan Malaka dan mengadakan transaksi dagang dari Arab, Persia, Gujarat, Benggala, Cina dan negeri lainya. Ada beberapa hal yang dapat dikemukakan mengenai perdagangan di malaka.
Pertama, raja dan pejabat tinggi krajaan terlibat dalam kegiatan dagang. Meraka memiliki kapal dan nahkoda dan awak yang bekerja kepadanya. Selain itu, mereka juga menanamkan modal pada perusahaan-perusahaan pelayaran dan menjual barang melalui kapal-kapal milik pedagang lain.

Kedua, pajak bea cukai yang dikenakan pada setiap barang dibedakan atas asal barang. Misalnya barang yang berasal dari barat dikenakan bea sebesar 6%, sedangkan dari timur termasuk pedagang dari kepulauan nusantara tidak dikenakan bea.
Ketiga, perdagang dijalankan dalam 2 jenis, yaitu 1) pedagang memasukan modal dalam barang dangan yang diangkut dengan kapal untuk dijual ke negeri lain, dan 2)pedangan menitipkan barang kepada nahkoda atau meminjamkan uang kepada nahkoda yang akan membagi, keuntungan nya dengan pedangan ynag memberi modal.
Keempat, agar perdagangan berjalan lancar, kerajaan mengeluarkan berbagi undang-undang yang mengatur perdangangan dikerajaan tersebut.dlam undang-undang itu diatur masalah sarat-sarat sebuah kapal untuk berlayar, nama-nama jabatan dan tanggung jawabnya, saat berlabunya kapal di pelabuhan, dan sebagainya.
Kehidupan politik Malaka berpusat pada struktur politiknya. Struktur politik kerajaan Malaka terdiri dari beberapa lapis. Di puncak kekuasan terdapat seorang raja yang membawai patih yang disebut paduka raja dimalaka. Patih membawahi semua pajabat tinggi kerajaan, seperti bendahara, bupati, dan seterusnya.
Dalam struktur politik tingkat bawah lebih berkaitan dengan urusan perdagangang. Dalam struktur ini terdapat struktur tumenggung atau kepala pemerintahan kota yang memiliki kewenagan dalam urusan pajak dan perdagangan di wilayahnya . sejajar dengan tumenggung adalah para Syahbandar yang meiliki kekuasan politik atas pelabuahan-pelabuhan di Malaka terdapat syahbandar-syahbandar yang tugasnya mengurusi pedagang-pedangan asing. Ditingkat lebih bawah terapat golongan bangsawan yang juga memiliki, kekuasan politik di daerah tertentu. Bangsawan- Bangsawan tersebut kebanyakan dari suku melayu. Sebagai Golongan ksatria, yang dalam tradisinya harus memiliki keterampilan berperang mereka sangat dihormati dan ditakuti. Gaya hidupnya sangat feodal, hidup mewah dengan berbagi lambang kebesarannya.
Gaya hidup feodal raja, pembesar, dan golongan bansawan berakibat pada melemahnya Malaka di di bidanng politik dan pertahanan. Mereka menjadi lupa akan pertahanan Negara. Dengan demikian, ketika bangsa Portugis datang ke Malaka dan berambisi menaklukkan kekuatan-kekuatan Islam, Malaka tidak memiliki persiapan untuk menghadapinya. Dengan mudah kerajaan ini dapat di taklukkan bangsa portugis pada 1511.

D. Kerajaan Islam Di Demak
Dalam sejarah Indonesia, Kerajaan Demak dianggap sebagai Kerajaan Islam pertama di Jawa. Pendiri Kerajaan ini adalah Raden patah seorang putra Raja Majapahit yang beristrikan seorang Cina. Kerajaan Demak mengalami kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Trenggono (1521-1546) dan mengalami kemunduran pada masa penggantinya di sebabkan perselisihan di antara anggota keluarga dalam perebutan tahta kerajaan.
Kerajaan Demak dianggap sebagai :
• Pusat penyebaran ajaran Islam sekaligus penakhluk kekuasaan Hindu Majapahit.
 Sebagai penyebaran ajaran Islam, demak banyak melahirkan para wali dari wali Songo, seperti Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Kudus, dan Sunan Muria. Peranan sunan-sunan tersebut sangat besar dalam penyebaran Islam di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Realisasi penyebaran Islam tersebut adalah dengan didirikannya masjid-masjid besar di Demak dan Kudus.
 Dua masjid yang terkenal dalam sejarah adalah masjid Raya Demak dan Masjid Raya Kudus dengan arsitektur perpaduan antara gaya Jawa (Hindu) dan gaya Islam.
 Dalam waktu singkat , pemeluk Islam di Jawa Tengah dan Jawa Timur semakin meningkat, walaupun para penganutnya tidak melepaskan unsure-unsur Hindu dalam kehidupan tradisi yang mereka jalankan sehari-hari. Kebudayaan yang berkembang di Demak merupakan perpaduan antara kebudayaan Islam dan kebudayaan Jawa dalam bentuk akulturasi seperti terlihat dalm bangunan ibadah dan kehidupan masyarakat sehari-hari.

• Sebagai penakhluk kekuasaan Hindu Majapahit.
 Demak telah melakukan ekspansi ke kerajaan-kerajaan kecil, antara lain Banyumas, Bagelen, Klingkung, Pengiang, Terung, dan Tuban. Pada 1527 ibu kota kerajaan Majapahit derebut dan dengan demikian riwayat kerajaan Majapahit pun berakhir. Kerajaan – kerajaan kecil bercorak Hindu satu per satu di takhlukan .
a. Kerajaan Wirasari pada tahun 1528
b. Kerajaan Madiim pada tahun 1529
c. Kerajaan Blora pada tahun 1530
d. Kerajaan Surabaya pada tahun 1531
e. Kerajaan Pasuruan pada tahun 1535
f. Kerajaan lamongan, Blitar, Wirasaba pada tahun 1535
g. Kerajaan Kediri pada tahun 1549
h. Kerajaan Blambangan pada tahun 1946.

 setelah menakhlukan kerajaan kecil di pedalaman, dan pesisir pantai utara Jawa, perdagangan Demak semakin bertambah pesat. Sebagai kerajaan Islam yang memiliki wilayah di pedalaman, Demak menaruh perhatian pada sector agrarian. Bera merupakan salah satu hasil utama yang di jadikan komoditi dagang.

Pengangguran di Indonesia

Leave a comment

Masalah Pengangguran di Indonesia
________________________________________
Masalah Pengangguran di Indonesia
Pengangguran dan Pengertiannya Dalam indikator ekonomi makro ada tiga hal terutama yang menjadi pokok permasalahan ekonomi makro. Pertama adalah masalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dapat dikategorikan baik jika angka pertumbuhan positif
dan bukannya negatif. Kedua adalah masalah inflasi. Inflasi adalah indikator pergerakan harga-harga barang dan jasa secara umum, yang secara bersamaan juga berkaitan dengan kemampuan daya beli. Inflasi mencerminkan stabilitas harga, semakin rendah nilai suatu inflasi berarti semakin besar adanya kecenderungan ke arah stabilitas harga. Namun masalah inflasi tidak hanya berkaitan dengan melonjaknya harga suatu barang dan jasa. Inflasi juga sangat berkaitan dengan purchasing power atau daya beli dari masyarakat. Sedangkan daya beli masyarakat sangat bergantung kepada upah riil. Inflasi sebenarnya tidak terlalu bermasalah jika kenaikan harga dibarengi dengan kenaikan upah riil. Masalah ketiga adalah pengangguran.
Memang masalah pengangguran telah menjadi momok yang begitu menakutkan khususnya di negara-negara berkembang seperti di Indonesia. Negara berkembang seringkali dihadapkan dengan besarnya angka pengangguran karena sempitnya lapangan pekerjaan dan besarnya jumlah penduduk. Sempitnya lapangan pekerjaan dikarenakan karena faktor kelangkaan modal untuk berinvestasi. Masalah pengangguran itu sendiri tidak hanya terjadi di negara-negara berkembang namun juga dialami oleh negara-negara maju. Namun masalah pengangguran di negara-negara maju jauh lebih mudah terselesaikan daripada di negara-negara berkembang karena hanya berkaitan dengan pasang surutnya business cycle dan bukannya karena faktor kelangkaan investasi, masalah ledakan penduduk, ataupun masalah sosial politik di negara tersebut. Melalui artikel inilah saya mencoba untuk mengangkat masalah pengangguran dengan segala dampaknya di Indonesia yang menurut pengamatan saya sudah semakin memprihatinkan terutama ketika negara kita terkena imbas dari krisis ekonomi sejak tahun
1997 .
Apa itu pengangguran? Pengangguran adalah suatu kondisi di mana orang tidak dapat bekerja, karena tidak tersedianya lapangan pekerjaan. Ada berbagai macam tipe pengangguran, misalnya pengangguran teknologis, pengangguran friksional dan pengangguran struktural. Tingginya angka pengangguran, masalah ledakan penduduk, distribusi pendapatan yang tidak merata, dan berbagai permasalahan lainnya di negara kita menjadi salah satu faktor utama rendahnya taraf hidup para penduduk di negara kita. Namun yang menjadi manifestasi utama sekaligus faktor penyebab rendahnya taraf hidup di negara-negara berkembang adalah terbatasnya penyerapan sumber daya, termasuk sumber daya manusia. Jika dibandingkan dengan negara-negara maju, pemanfaatan sumber daya yang dilakukan oleh negara-negara berkembang relatif lebih rendah daripada yang dilakukan di negara-negara maju karena buruknya efisiensi dan efektivitas dari penggunaan sumber daya baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Dua penyebab utama dari rendahnya pemanfaatan sumber daya manusia adalah karena tingkat pengangguran penuh dan tingkat pengangguran terselubung yang terlalu tinggi dan terus melonjak.Pengangguran penuh atau terbuka yakni terdiri dari orang-orang yang sebenarnya mampu dan ingin bekerja, akan tetapi tidak mendapatkan lapangan pekerjaan sama sekali.
Berdasarkan data dari Depnaker pada tahun 1997 jumlah pengangguran terbuka saja sudah mencapai sekitar 10% dari sekitar 90 juta angkatan kerja yang ada di Indonesia, dan jumlah inipun belum mencakup pengangguran terselubung. Jika persentase pengangguran total dengan melibatkan jumlah pengangguran terselubung dan terbuka hendak dilihat angkanya, maka angkanya sudah mencapai 40% dari 90 juta angkatan kerja yang berarti jumlah penganggur mencapai sekitar 36 juta orang. Adapun pengangguran terselubung adalah orang-orang yang menganggur karena bekerja di bawah kapasitas optimalnya. Para penganggur terselubung ini adalah orang-orang yang bekerja di bawah 35 jam dalam satu minggunya. Jika kita berasumsi bahwa krisis ekonomi hingga saat ini belum juga bisa terselesaikan maka angka-angka tadi dipastikan akan lebih melonjak. Ledakan Pengangguran Akibat krisis finansial yang memporak-porandakan perkonomian nasional, banyak para pengusaha yang bangkrut karena dililit hutang bank atau hutang ke rekan bisnis. Begitu banyak pekerja atau buruh pabrik yang terpaksa di-PHK oleh perusahaan di mana tempat ia bekerja dalam rangka pengurangan besarnya cost yang dipakai untuk membayar gaji para pekerjanya. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu terjadinya ledakan pengangguran yakni pelonjakan angka pengangguran dalam waktu yang relatif singkat.
Awal ledakan pengangguran sebenarnya bisa diketahui sejak sekitar tahun 1997 akhir atau 1998 awal. Ketika terjadi krisis moneter yang hebat melanda Asia khususnya Asia Tenggara mendorong terciptanya likuiditas ketat sebagai reaksi terhadap gejolak moneter. Di Indonesia, kebijakan likuidasi atas 16 bank akhir November 1997 saja sudah bisa membuat sekitar 8000 karyawannya menganggur. Dan dalam selang waktu yang tidak relatif lama, 7.196 pekerja
dari 10 perusahaan sudah di PHK dari pabrik-pabrik mereka di Jawa Barat, Jakarta, Yogyakarta, dan Sumatera Selatan berdasarkan data pada akhir Desember 1997. Ledakan pengangguranpun berlanjut di tahun 1998, di mana sekitar 1,4 juta pengangguran terbuka baru akan terjadi. Dengan perekonomian yang hanya tumbuh sekitar 3,5 sampai 4%, maka tenaga kerja yang bisa diserap
sekitar 1,3 juta orang dari tambahan angkatan kerja sekitar 2,7 juta orang. Sisanya menjadi tambahan pengangguran terbuka tadi. Total pengangguran jadinya akan melampaui 10 juta orang. Berdasarkan pengalaman, jika kita mengacu pada data-data pada tahun 1996 maka pertumbuhan ekonomi sebesar 3,5 sampai 4% belumlah memadai, seharusnya pertumbuhan ekonomi yang ideal bagi negara berkembang macam Indonesia adalah di atas 6%.
Berdasarkan data sepanjang di tahun 1996, perekonomian hanya mampu menyerap
85,7 juta orang dari jumlah angkatan kerja 90,1 juta orang. Tahun 1996 perekonomian mampu menyerap jumlah tenaga kerja dalam jumlah relatif besar karena ekonomi nasional tumbuh hingga 7,98 persen. Tahun 1997 dan 1998, pertumbuhan ekonomi dapat dipastikan tidak secerah tahun 1996. Pada tahun 1998 krisis ekonomi bertambah parah karena banyak wilayah Indonesia yang diterpa musim kering, inflasi yang terjadi di banyak daerah, krisis moneter di dalam negeri maupun di negara-negara mitra dagang seperti sesama ASEAN, Korsel dan Jepang akan sangat berpengaruh. Jika kita masih berpatokan dengan asumsi keadaan di atas, maka ledakan pengangguran diperkirakan akan berlangsung terus sepanjang tahun-tahun ke depan.
Memang ketika kita menginjak tahun 2000, jumlah pengangguran di tahun 2000 ini sudah menurun dibanding tahun 1999. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi tahun 2000 yang meningkat menjadi 4,8 persen. Pengangguran tahun 1999 yang semula 6,01 juga turun menjadi 5,87 juta orang. Sedang setengah pengangguran atau pengangguran terselubung juga menurun dari 31,7 juta menjadi 30,1 juta orang pada tahun 2000. Jumlah pengangguran saat ini mencatat sekitar 35,97 juta orang, namun pemerintah masih memfokuskan penanggulangan pengangguran
ini pada 16,48 juta orang. Jumlah pengangguran saat ini yaitu pada tahu 2001 mencapai 35,97 juta orang yang diperkirakan bisa bertambah bila pemulihan ekonomi tidak segera berjalan dengan baik. Karena hal inilah maka pemerintah perlu berusaha semaksimal mungkin untuk mencari investor asing guna menanamkan modalnya di sini sehingga lapangan pekerjaan baru dapat tercipta untuk dapat menyerap sebanyak mungkin tenaga kerja.
Berdasarkan perhitungan maka pada saat ini perekonomian negara kita memerlukan pertumbuhan ekonomi minimal 6 persen, meski idealnya diatas 6 persen, sehingga bisa menampung paling tidak 2,4 juta angkatan kerja baru. Sebab dari satu persen pertumbuhan ekonomi bisa menyerap sektiar 400 ribu angkatan kerja. Ini juga ditambah dengan peluang kerja di luar negeri yang rata-rata bisa menampung 500 ribu angkatan kerja setiap tahunnya. Untuk
memacu pertumbuhan ekonomi yang pesat maka mau tidak mau negara kita terpaksa harus menarik investasi asing karena sangatlah sulit untuk mengharapkan banyak dari investasi dalam negeri mengingat justru di dalam negeri para pengusaha besar banyak yang berhutang ke luar negeri. Hal ini bertambah parah karena hutang para pengusaha (sektor swasta) dan pemerintah
dalam bentuk dolar. Sementara pada saat ini nilai tukar rupiah begitu rendah (undervalue) terhadap dolar. Namun menarik para investor asingpun bukan merupakan pekerjaan yang mudah
jika kita berkaca pada situasi dan kondisi sekarang ini. Suhu politik yang semakin memanas, kerawanan sosial, teror bom, faktor desintegrasi bangsa, dan berbagai masalah lainnya akan membuat para investor asing enggan untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Karena itulah maka situasi dan kondisi yang kondusif haruslah diupayakan dan dipertahankan guna menarik investor asing masuk kemari dan menjaga agar para investor asing yang sudah menanamkan modalnya asing tidak lagi menarik modalnya ke luar yang nantinya akan berakibat capital outflow.
Masalah Pengangguran dan Krisis Sosial Jika masalah pengangguran yang demikian pelik dibiarkan berlarut-larut maka sangat besar kemungkinannya untuk mendorong suatu krisis sosial. Suatu krisis sosial ditandai dengan meningkatnya angka kriminalitas, tingginya angka kenakalan remaja, melonjaknya jumlah anak jalanan atau preman, dan besarnya kemungkinan untuk terjadi berbagai kekerasan sosial yang senantiasa menghantui masyarakat kita.
Bagi banyak orang, mendapatkan sebuah pekerjaan seperti mendapatkan harga diri. Kehilangan pekerjaan bisa dianggap kehilangan harga diri. Walaupun bukan pilihan semua orang, di zaman serba susah begini pengangguran dapat dianggap sebagai nasib. Seseorang bisa saja diputus hubungan kerja karena perusahaannya bangkrut. Padahal di masyarakat, jutaan penganggur juga antri menanti tenaganya dimanfaatkan. Besarnya jumlah pengangguran di Indonesia lambat-laun akan menimbulkan banyak masalah sosial yang nantinya akan menjadi suatu krisis sosial, karena banyak orang yang frustasi menghadapi nasibnya. Pengangguran yang terjadi tidak saja menimpa para pencari kerja yang baru lulus sekolah, melainkan juga menimpa orangtua yang kehilangan pekerjaan karena kantor dan pabriknya tutup. Indikator masalah sosial bisa dilihat dari begitu banyaknya anak-anak yang mulai turun ke jalan. Mereka menjadi pengamen, pedagang asongan maupun pelaku tindak kriminalitas. Mereka adalah generasi yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan maupun pembinaan yang baik.
Salah satu faktor yang mengakibatkan tingginya angka pengangguran di negara kita adalah terlampau banyak tenaga kerja yang diarahkan ke sektor formal sehingga ketika mereka kehilangan pekerjaan di sektor formal, mereka kelabakan dan tidak bisa berusaha untuk menciptakan pekerjaan sendiri di sektor informal. Justru orang-orang yang kurang berpendidikan bisa melakukan inovasi menciptakan kerja, entah sebagai joki yang menumpang di mobil atau
joki payung kalau hujan. Juga para pedagang kaki lima dan tukang becak, bahkan orang demo saja dibayar. Yang menjadi kekhawatiran adalah jika banyak para penganggur yang mencari jalan keluar dengan mencari nafkah yang tidak halal. Banyak dari mereka yang menjadi pencopet, penjaja seks, pencuri, preman, penjual narkoba, dan sebagainya. Bahkan tidak sedikit mereka yang dibayar untuk berbuat rusuh atau anarkis demi kepentingan politik salah satu
kelompok tertentu yang masih erat hubungannya dengan para pentolan Orba. Ada juga yang menyertakan diri menjadi anggota laskar jihad yang dikirim ke Ambon dengan dalih membela agama. Padahal di sana mereka cuma jadi perusuh yang doyan menjarah, memperkosa, dan membunuh orang-orang Maluku yang tidak berdosa. Hal inilah yang harus diperhatikan oleh pemerintah jika krisis sosial tidak ingin berlanjut terus.
Masalah Pengangguran dan Pendidikan Pengangguran intelektual di Indonesia cenderung terus meningkat dan semakin mendekati titik yang mengkhawatirkan. Diperkirakan angka pengangguran intelektual yang pada tahun 1995 mencapai 12,36 persen, pada tahun 1995
diperkirakan akan meningkat menjadi 18,55 persen, dan pada tahun 2003 meningkat lagi menjadi 24,5 persen. Pengangguran intelektual ini tidak terlepas dari persoalan dunia pendidikan yang tidak mampu menghasilkan tenaga kerja berkualitas sesuai tuntutan pasar kerja sehingga seringkali tenaga kerja terdidik kita kalah bersaing dengan tenaga kerja asing. Fenomena inilah yang sedang dihadapi oleh bangsa kita di mana para tenaga kerja yang terdidik banyak yang menganggur walaupun mereka sebenarnya menyandang gelar.
Meski ada kecenderungan pengangguran terdidik semakin meningkat namun upaya perluasan kesempatan pendidikan dari pendidikan menengah sampai pendidikan tinggi tidak boleh berhenti. Akan tetapi pemerataan pendidikan itu harus dilakukan tanpa mengabaikan mutu pendidikan itu sendiri. Karena itu maka salah satu kelemahan dari sistem pendidikan kita adalah sulitnya memberikan pendidikan yang benar-benar dapat memupuk profesionalisme seseorang dalam berkarier atau bekerja. Saat ini pendidikan kita terlalu menekankan pada segi teori dan bukannya praktek. Pendidikan seringkali disampaikan dalam bentuk yang monoton sehingga membuat para siswa menjadi bosan. Di negara-negara maju, pendidikkan dalam wujud praktek lebih diberikan dalam porsi yang lebih besar. Di sanapun, cara pembelajaran dan pemberian
pendidikkan diberikan dalam wujud yang lebih menarik dan kreatif. Di negara kita, saat ini ada kecenderungan bahwa para siswa hanya mempunyai kebiasaan menghafal saja untuk pelajaran-pelajaran yang menyangkut ilmu sosial, bahasa, dan sejarah atau menerima saja berbagai teori namun sayangnya para siswa tidak memiliki kemampuan untuk menggali wawasan pandangan yang lebih luas serta cerdas dalam memahami dan mengkaji suatu masalah. Sedangkan untuk
ilmu pengetahuan alam para siswa cenderung hanya diberikan latihan soal-soal yang cenderung hanya melatih kecepatan dalam berpikir untuk menemukan jawaban dan bukannya mempertajam penalaran atau melatih kreativitas dalam berpikir. Contohnya seperti seseorang yang pandai dalam mengerjakan soal-soal matematika bukan karena kecerdikan dalam melakukan analisis
terhadap soal atau kepandaian dalam membuat jalan perhitungan tetapi karena dia memang sudah hafal tipe soalnya. Seringkali seseorangpun hanya sekedar bisa mengerjakan soalnya dengan menggunakan rumus tetapi tidak tahu asal muasal rumus tersebut. Kenyataan inilah yang menyebabkan sumber daya manusia kita ketinggalan jauh dengan sumber daya manusia yang ada di negara-negara maju. Kita hanya pandai dalam teori tetapi gagal dalam praktek dan dalam
profesionalisme pekerjaan tersebut. Rendahnya kualitas tenaga kerja terdidik kita juga adalah karena kita terlampau melihat pada gelar tanpa secara serius membenahi kualitas dari kemampuan di bidang yang kita tekuni. Sehingga karena hal inilah maka para tenaga kerja terdidik sulit bersaing dengan tenaga kerja asing dalam usaha untuk mencari pekerjaan.
Jika kita melihat dari sudut pandang ekonomi, pengangguran tenaga kerja terdidik cenderung meningkat pada saat masyarakat mengalami proses modernisasi dan industrialisasi. Dalam proses perubahan itu terjadi pergeseran tenaga kerja antarsektor, yaitu dari sektor ekonomi subsistem ke sektor ekonomi renumeratif. Setelah kembali mapan, pengangguran akan cenderung rendah kembali. Proses industrialisasi tidak hanya terjadi pada suatu titik waktu akan tetapi merupakan suatu proses yang berkelanjutan. Pergeseran ekonomi dalam proses industrialisasi tidak hanya berlangsung dari pertanian ke industri tetapi juga terus terjadi dari industri berteknologi rendah ke teknologi, dan selanjutnya menuju industri yang berbasis informasi dan intelektualitas. Pada tahap ini, lanjutnya, perubahan itu terus berlangsung dari waktu ke waktu yang mengakibatkan tenaga kerja harus terus-menerus menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan teknologi. Akibatnya pengangguran merupakan suatu kondisi normal di negara-negara maju yang teknologinya terus berubah. Masalah pengangguran terdidik di Indonesia, tuturnya, sudah mulai mencuat sejak sekitar tahun 1980-an saat Indonesia
mulai memasuki era industri. Pada tahun 1970-an pemerintah melakukan investasi besar-besaran pada sektor-sektor yang berkaitan dengan kebutuhan dasar, seperti pertanian dan pendidikan dasar. Memasuki dasawarsa 1980-an, output pendidikan SD dalam jumlah besar telah mendorong pertumbuhan besar-besaran pada jenjang pendidikan menengah dan tinggi. Namun masalah pendidikan menjadi dilematis, di satu sisi pendidikan dianggap sangat lambat mengubah struktur angkatan kerja terdidik karena angkatan kerja lulusan pendidikan tinggi baru 3,05 persen dari angkatan kerja nasional. Namun di sisi lain, pendidikan juga dipersalahkan karena mengeluarkan lulusan pendidikan tinggi yang terlalu banyak sehingga menjadi penganggur.
Salah satu penyebab pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi adalah karena kualitas pendidikan tinggi di Indonesia yang masih rendah. Akibatnya lulusan yang dihasilkanpun kualitasnya rendah sehingga tidak sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Pengangguran terdidik dapat saja dipandang sebagai rendahnya efisiensi eksternal sistem pendidikan. Namun bila dilihat lebih jauh, dari sisi permintaan tenaga kerja, pengangguran terdidik dapat dipandang sebagai ketidakmampuan ekonomi dan pasar kerja
dalam menyerap tenaga terdidik yang muncul secara bersamaan dalam jumlah yang terus berakumulasi.
Masalah Pengangguran dan Inflasi Setelah dalam sepuluh tahun terakhir laju inflasi nasional mampu dipertahankan di bawah angka sepuluh persen, namun pada tahun 1997 laju inflasi akhirnya menembus angka dua digit, yaitu 11,05 persen. Laju inflasi tahun 1997 itu jauh lebih tinggi jika dibandingkan inflasi 1996 yang 6,47 persen. Hal itu terjadi, di samping karena kemarau panjang, antara lain juga akibat krisis moneter yang akhirnya melebar jadi krisis ekonomi. Inflasi bulan Desember 1997 saja tercatat 2,04 persen. Dengan angka inflasi 11,05
persen, sekaligus menempatkan Indonesia sebagai negara yang memiliki angka inflasi tertinggi di ASEAN, setidaknya dalam tiga tahun terakhir ini. Tingginya angka inflasi karena tidak seimbangnya antara permintaan dan penawaran barang dan jasa.
Ini membuktikan tingginya laju inflasi di negara kita lebih banyak dipengaruhi sektor riil, bukan sektor moneter. Jika kita mengambil kesimpulan mengenai masalah inflasi di Indonesia bahwa ternyata laju inflasi tidak semata ditentukan faktor moneter, tapi juga faktor fisik. Ada empat faktor yang menentukan tingkat inflasi. Pertama, uang yang beredar baik uang tunai maupun giro. Kedua, perbandingan antara sektor moneter dan fisik barang yang tersedia. Ketiga, tingkat suku bunga bank juga ikut mempengaruhi laju inflasi. Suku bunga di Indonesia termasuk lebih tinggi dibandingkan negara di kawasan Asia. Keempat, tingkat inflasi ditentukan faktor fisik prasarana. Melonjaknya inflasipun karena dipicu oleh kebijakan pemerintah yang menarik subisidi sehingga harga listrik dan BBM meningkat. Kenaikan BBM ini telah menggenjot tingkat inflasi bulan Juni 2001 menjadi 1,67 persen. Dampak ini masih terasa sampai bulan Juli 2001 yang akan memberikan sumbangan inflasi antara 0,3-1 persen. Efek domino yang ditimbulkan pun masih menjadi pemicu kenaikan harga lainnya. Diperkirakan inflasi tahun ini tembus dua digit. Kebijakan kenaikan harga BBM per 15 Juni 2001, menjadi pemicu kenaikan harga-harga kebutuhan pokok lainnya. Kenaikan BBM tersebut cukup memberatkan masyarakat lapisan bawah karena dapat menimbulkan multiplier effect, mendorong kenaikan harga jenis barang lainnya yang dalam proses produksi maupun distribusinya menggunakan BBM.
Tingginya angka inflasi selanjutnya akan menurunkan daya beli masyarakat. Untuk bisa bertahan pada tingkat daya beli seperti sebelumnya, para pekerja harus mendapatkan gaji paling tidak sebesar tingkat inflasi. Kalau tidak, rakyat tidak lagi mampu membeli barang-barang yang diproduksi. Jika barang-barang yang diproduksi tidak ada yang membeli maka akan banyak
perusahaan yang berkurang keuntungannya. Jika keuntungan perusahaan berkurang maka perusahaan akan berusaha untuk mereduksi cost sebagai konsekuensi atas berkurangnya keuntungan perusahaan. Hal inilah yang akan mendorong perusahaan untuk mengurangi jumlah pekerja/buruhnya dengan mem-PHK para buruh. Salah satu dari jalan keluar dari krisis ini adalah menstabilkan rupiah. Membaiknya nilai tukar rupiah tidak hanya tergantung kepada money
suplly dari IMF, tetapi juga investor asing (global investment society) mengalirkan modalnya masuk ke Indonesia (capital inflow). Karena hal inilah maka pengendalian laju inflasi adalah penting dalam rangka mengendalikan angka pengangguran.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam Pidato Kenegaraan 16 Agustus 2008 lalu melaporkan telah berhasil menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran secara signifikan. Klaim tersebut segera menimbulkan keraguan masyarakat karena tidak sesuai dengan fakta yang dirasakan. Klaim tersebut juga tidak konsisten dengan jumlah keluarga miskin yang layak menerima subsidi langsung tunai maupun program beras untuk rakyat miskin dalam teks pidato yang sama.Angka kemiskinan atau pengangguran bisa dipresentasikan telah naik atau turun, tergantung perspektif dan relatif terhadap apa. Karena itu, sah-sah saja dan tidak bohong ketika Presiden menyatakan telah terjadi penurunan angka kemiskinan dan pengangguran.Tetapi, kapan dan dalam periode apa penurunan tersebut terjadi? Apakah datanya masih relevan atau sudah kedaluwarsa? Demikian juga, apakah telah membandingkan periode data secara konsisten sehingga diperoleh perbandingan apple to apple atau tidak. Statistik hanyalah sebuah alat, yang terpenting adalah kejujuran dalam penggunaannya. Kesalahan penggunaan statistik selain tidak mampu menggambarkan fenomena yang terjadi, juga dapat menyesatkan penyelesaian masalah.
Peningkatan kemiskinan dan pengangguran sudah dapat diprediksi jauh hari karena merupakan konsekuensi logis dari paradigma kebijakan Tim Ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu. Dengan pendekatannya yang superkonservatif dan monetaris, tim ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu akan lebih memprioritaskan rendahnya defisit anggaran daripada memacu pertumbuhan sektor riil dan memberikan stimulus ekonomi. Juga sudah diperkirakan tim ekonomi KIB akan lebih memilih menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), tarif listrik, dan harga pupuk, dibandingkan mendahulukan pengurangan subsidi bunga obligasi bank rekap maupun negosiasi pengurangan pembayaran utang.
Kebijakan ekonomi juga sudah diperkirakan akan lebih fokus pada pencapaian “indikator antara” seperti defisit anggaran, inflasi, suku bunga, dan nilai tukar. Dengan pilihan tersebut, dapat dipastikan akan terjadi peningkatan pengangguran dan kemiskinan. Padahal di negara mana pun, indikator keberhasilan diukur dari kemampuan pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan. Tim ekonomi dengan “mudah” menyalahkan penurunan daya beli hanya disebabkan oleh kenaikan harga minyak bumi. Penjelasan tersebut tidak sepenuhnya benar karena penurunan daya beli juga disebabkan oleh ketidakmampuan melakukan stabilisasi harga 11 kebutuhan pokok seperti beras, gula, pupuk, dan lain-lain. Ketidakmampuan melakukan stabilisasi tersebut lebih merupakan kelemahan visi dan kepemimpinan yang tidak ada kaitannya dengan kenaikan harga BBM.
Bukan hal baru
Praktik akrobat statistik seperti pada pidato Presiden yang lalu sebenarnya bukan hal baru bagi pejabat di Kabinet Indonesia Bersatu. Pejabat yang sama pernah melakukan hal serupa saat menjabat sebagai menteri keuangan pada era Megawati. Untuk mengesankan bahwa menteri keuangan berhasil menekan defisit anggaran di bawah 2 persen dari produk domestik bruto, sejumlah langkah akrobatik dilakukan pada APBN tahun 2003 dan 2004. Pertama, menunda pembayaran tagihan Pertamina sehingga Pertamina mengalami kesulitan cash-flow. Kedua, mentransfer sekitar Rp 10 triliun kepada lima departemen besar, seperti Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, tetapi tidak boleh dipergunakan karena kemudian ditarik kembali sehingga pengeluaran seolah-olah sesuai target. Ketiga, menunda pembayaran tagihan Bank Indonesia untuk biaya keikutsertaan di berbagai lembaga internasional dan biaya operasi moneter. Keempat, memasukkan dana Sisa Anggaran Lebih (SAL) dari tabungan tahun-tahun sebelumnya. Kebiasaan untuk melakukan akrobat akunting sekadar untuk memberikan kesan berprestasi, diulang kembali dengan melakukan akrobat statistik untuk memberikan kesan seolah-olah terjadi pengurangan kemiskinan dan pengangguran. Kebiasaan tersebut tidak hanya membahayakan Presiden, tetapi juga merugikan rakyat Indonesia. Karena itu, sudah waktunya kita bersikap jujur sehingga dapat mencari solusi yang lebih efektif untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran.

Budidaya Kacang Panjang

Leave a comment

1. Pendahuluan
Sayuran dalam kehidupan manusia sangat berperan dalam pemenuhan
kebutuhan pangan dan peningkatan gizi, karena sayuran merupakan salah satu
sumber mineral dan vitamin yang sangat dibutuhkan manusia. Konsumsi sayuran
pada saat ini sudah mulai meningkat, karena mulai adanya kesadaran bahwa
dengan mengkonsumsi sayuran berarti hidup akan bertambah sehat (Nugrohati dan
Untung, 1986).
Kacang panjang merupakan salah satu sayuran yang sangat digemari oleh
berbagai kalangan masyarakat dengan jumlah produksi yang cukup besar. Sayuran
kacang panjang juga mudah diperoleh di pasar tradisional maupun pasar swalayan.
Bali dengan luas panen kacang panjang sebesar 1.017 Ha, produksinya mencapai
2.466 ton, yang merupakan penghasil kacang panjang yang cukup besar di
Indonesia (Anonim, 2003a).
Kebanyakan (54 %) kacang panjang dijual di pasar tradisional yang ada di
kota Denpasar berasal dari Kabupaten Tabanan. Produksi kacang panjang terbanyak
(76 %) terdapat di Kabupaten Tabanan dengan luas panen 246 Ha dan hasil
produksi 1.884 ton (Anonim, 2003b). Produksi kacang panjang di Kecamatan
Tabanan, Kabupaten Tabanan yaitu sebesar 776 kuintal dan luas tanam kacang
panjang 52 Ha. Hasil produksi itu merupakan data produksi komoditi kacang
panjang Tahun 2003 (Anonim, 2004).
Salah satu kendala yang dihadapi di dalam budidaya tanaman kacang
panjang adalah masalah hama, terutama hama penggerek polong (Maruca
testulasis), tungau merah (Tetranychus bimaculatus) dan kutu daun (Aphistavaresi).
3
Ketiga hama ini umumnya menyerang pada musim kemarau dan bila tidak
dilakukan usaha pengendalian hama, maka tanaman sayuran menjadi tidak
produktif, bahkan dapat gagal panen (Sunarjono, 2003).
Salah satu usaha agar produktivitas sayuran dapat ditingkatkan diperlukan
tindakan dalam pengendalian hama dan penanganan pasca panen yang efektif dan
efisien. Metode pengendalian hama yang digunakan oleh petani sayuran adalah
perlakuan dengan pestisida. Pestisida dianggap sebagai produk yang mudah
diterapkan, tersedia dengan mudah di tingkat petani, dan secara ekonomis sangat
menguntungkan. Pada umumnya pestisida yang dipergunakan adalah jenis
pestisida yang tergolong insektisida organofosfat dan karbamat. Permasalahan di
lokasi biasanya berkisar tentang dosis insektisida yang dipergunakan untuk menyemprot
hama dan berapa kadar residu yang terdapat pada polong kacang panjang pada saat
panen.
2. Metode Penelitian
2.1 Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Tabanan, Bali. Kabupaten Tabanan
yang mempunyai luas wilayah 839,33 km2 atau 14,90 % dari luas Propinsi Bali
(5.632,86 Km2). Kabupaten Tabanan memiliki 24 desa di Kecamatan Selemadeg,
15 desa di Kecamatan Kerambitan, 11 desa di Kecamatan Tabanan, 15 desa di
Kecamatan Kediri, 12 desa di Kecamatan Marga, 12 desa di Kecamatan Baturiti,
17 desa di Kecamatan Penebel dan 11 desa di Kecamatan Pupuan (Anonim,
2003b). Analisis residu insektisida Sidazinon dilaksanakan di Laboratorium
Forensik, Poltabes Denpasar.
4
Tabel 2.1
Luas tanam dan produksi kacang panjang di Bali (2003) dan Tabanan (2003)
Kacang Panjang Luas Tanam (Ha) Produksi (ton/ Ha)
Bali (2003)
Tabanan (2003)
1.017
246
2,42
7,66
Sumber : Anonim, 2003a dan Anonim 2003b
2.2 Penentuan Sampel
Pengambilan sampel dilakukan di Kecamatan Tabanan dengan luas tanam
52 Ha, luas panen 48 Ha dan produksi kacang panjang sebesar 776 (Kw). Untuk
pemilihan desa di Kecamatan Tabanan dicari 10 % dari jumlah desa yang ada.
Pengambilan sampel petani di desa disesuaikan dengan luas lahan yang dimiliki,
sebanyak 10 % dari luas lahan kacang panjang di desa bersangkutan. Di
Kecamatan Tabanan dengan luas lahan 52 Ha (10 %), sampel yang diambil
dengan lahan 5,2 Ha dari lima petani kacang panjang. Berdasarkan atas hasil
pengamatan dan penjelasan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, desa
Tunjuk Selatan merupakan desa penghasil kacang panjang terbanyak di Kecamatan
Tabanan, sehingga desa Tunjuk Selatan merupakan desa tempat pengambilan sampel
kacang panjang.
Pengambilan sampel kacang panjang di kebun diambil dari tepi luar (yang
berhadapan dengan jalan), tengah dan tepi dalam yang diambil ± 0,5 kg (pada
setiap tepi) dari setiap lahan petani. Selama perjalanan ke laboratorium untuk
analisis kimia, sampel tersebut ditempatkan pada tempat/ toples plastik yang ditutup
rapat. Pengambilan sampel dilakukan dua kali yakni pada awal panen dan
pertengahan panen. Analisis residu insektisida Sidazinon dilakukan satu kali pada
5
setiap sampel. Penentuan sampel (petani kacang panjang) dilakukan dengan cara
proportional dan purposive sampling (Hadi, 1976). Untuk mengetahui tentang
penggunaan pestisida dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kacang panjang pada
masing-masing petani di tiap Kecamatan, para petani diberikan kuesioner.
2.3 Analisis Laboratorium
Bahan dan peralatan penelitian
Sampel yang digunakan untuk analisis adalah polong kacang panjang yang
diperoleh dari 5 petani kacang panjang yang ada di Desa Tunjuk Selatan, Kecamatan
Tabanan, Kabupaten Tabanan.
Bahan-bahan kimia yang diperlukan adalah solven/ pelarut (aseton, CH2Cl2,
petroleum eter), sodium sulfat (anhidrous), dan florisil (particle size 0,150-0,250
mm, for column chromatography) dan insektisida Sidazinon 600 EC.
Peralatan analisis yang dipergunakan adalah blender, erlenmeyer (ukuran 125 ml
dan 250 ml), beaker glass (ukuran 25 ml dan 50 ml), corong, kertas saring, gelas ukur
(ukuran 100 ml dan 10 ml), pipet mikro, syrine (10 μl), timbangan (Mettler Toledo),
Evaporator (Airflow Monitor, Mach-Aire Ltd), tabung uji, kolom kromatografi dan
Gas Chromatography (Model 8000 TOP).
Prosedur Analisis Residu Pestisida
Analisis residu insektisida dikerjakan berdasarkan AOAC (1990) dengan
menggunakan Gas Chromatography (Model 8000 TOP yang dilengkapi dengan
Electron Capture Detector). Tahapan analisis meliputi: ekstraksi polong kacang
panjang, pemurnian (Clean up), pembuatan larutan standar dan analisis kuantitatif
(perhitungan kadar residu).
6
Recovery test merupakan patokan untuk menilai apakah metode yang
digunakan sudah cukup baik. Recovery test yang diperoleh pada penelitian ini
sebesar 69,23 %.
Ekstraksi Polong Kacang Panjang
Sampel kacang panjang yang diambil dari tepi luar, tengah dan tepi dalam
yang diambil ± 0,5 kg (pada setiap tepi) dari setiap lahan petani, ditempatkan
pada wadah penampungan dan dicampur. Sebanyak 25 g sampel diambil acak lalu
diblender, ditambahkan 50 ml petroleum eter dan 50 ml dikloro metan, kemudian
diblender selama dua menit dengan kecepatan tinggi. Ekstrak (± 80 ml) disaring
dengan corong yang dilapisi kertas saring (Whatman No. 40) dan ditempatkan
pada beaker glass 50 ml. Ekstrak (± 50 ml) diuapkan (dengan Air Flow suhu
270C) selama 30 menit sampai larutan tinggal ± 2 ml.
Pemurnian (clean up)
Ekstrak (± 2 ml) dimasukkan ke dalam kolom kromatografi yang telah diisi
florisil (15,7 cc) dan sodium sulfat anhidrous (9,42 cc). Elusi dengan larutan
petroleum eter (42,5 ml). Eluat (hasil pemurnian ± 20 ml) ditampung dalam
beaker glass 25 ml, kemudian diuapkan (dengan Air Flow suhu 270 C) sampai
agak kering (± 1 ml), larutan dipindahkan ke dalam tabung uji dengan bantuan
larutan aseton sampai volume 5 ml (Harun, 1995).
Pembuatan Larutan Standar
Larutan standar untuk penelitian ini diperoleh dengan melarutkan insektisida
Sidazinon 16,7 μl ke dalam 10 ml aseton sehingga diperoleh larutan standar
7
Sidazinon 1000 ppm. Konsentrasi larutan standar yang digunakan 0 ppm, 0,5 ppm,
1 ppm dan 3 ppm.
Analisis Kuantitatif (perhitungan kadar residu).
Gas Chromatography dengan kondisi siap pakai (standar) pada suhu kolom
2000C, suhu injektor 2300C, kecepatan alir N2 40 ml/ menit, H2 1,3 kg/cm2 dan
tekanan udara 1 kg/cm2. Analisis dilakukan pada kondisi tersebut dengan
menyuntikkan 4 μl larutan standar dan larutan sampel ke dalam Gas
Chromatography dan menghasilkan kromatogram dengan waktu retensi tertentu.
Konsentrasi residu insektisida dalam sampel dapat dihitung dari grafik
kromatogram yang dihasilkan, kemudian dibandingkan dengan kromatogram standar.
Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah kadar residu insektisida
Sidazinon pada polong kacang panjang. Kadar residu insektisida (R) yang diperoleh
dari hasil analisis di laboratorium dapat dihitung dengan rumus:
Sx Ngs Fv
R = —- x —— x —–
Ulx Ss W
Dimana :
R = Kadar residu insektisida Sidazinon (mg/kg atau ppm)
Sx = Area sampel
Ulx = Volume ekstrak sampel polong kacang panjang yang disuntikkan (μl)
Ngs = Jumlah insektisida standar yang disuntikkan
(Volume standar yang disuntikkan/ μl x konsentrasi standar/ ppm)
Ss = Area standar
Fv = Volume akhir ekstrak (ml)
W = Berat sampel polong kacang panjang yang digunakan (g)
8
Adanya residu insektisida pada sampel kacang panjang di masing-masing
petani dibandingkan dengan nilai MRL (Maximum Residue Limit) untuk sayuran.
3. Hasil Dan Pembahasan
3.1 Hasil Survai
Berdasarkan hasil survai di Desa Tunjuk Selatan, Kecamatan Tabanan
diperoleh penggunaan insektisida Sidazinon berkisar 17 – 20 ml setiap kali
pemakaian penyemprotan. Para petani menggunakan alat pengukur obat berupa
tutup botol Sidazinon karena tidak memiliki alat ukur khusus. Insektisida ini
langsung dituangkan ke dalam air yang ditempatkan pada ember plastik (± 10 L).
Untuk mengaduk larutan dipergunakan sebatang kayu dengan ukuran ± 0,5 m.
Setelah Sidazinon bercampur merata dengan air, larutan tersebut dimasukkan ke
tangki penyemprotan pestisida (isi ± 10 L). Pelaksanaan penyemprotan pestisida
dilakukan pada sore hari pukul 16.00 – 18.00 Wita dan pagi hari pukul 07.00 –
09.00 Wita sesuai dengan jenis hama yang akan dikendalikan.
Pestisida yang digunakan petani tidak ada sisa karena terus terpakai untuk
proses penyemprotan selanjutnya. Jenis pestisida yang dipergunakan petani di
Kabupaten Tabanan yaitu Curacron 500 EC, Marshal 200 EC, Topsin 70 WP,
Solusi, Score 250 EC, Dharmabas 500 EC, Festonal, Sidazinon 600 EC, Super
bionik dan Confidor 200 LC.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan Kepala Cabang Dinas Kecamatan
sering datang menghampiri petani untuk memberitahukan tentang tata cara
penggunaan pestisida, namun sebagian besar petani sudah mengetahuinya dari buku
9
bacaan pertanian ataupun media televisi. Dampak negatif dari penggunaan pestisida
bagi lingkungan sekitarnya telah diketahui oleh sebagian besar petani, diantaranya
kematian organisme lain yang bukan sasaran, pencemaran (air, udara, tanah) dan
dapat meracuni tubuh para petani.
Kacang panjang dipanen ketika berumur 48 hari (rata-rata 5 petani kacang
panjang). Hasil panen langsung dijual di Pasar Badung atau diambil langsung oleh
pembeli. Kacang panjang sehabis panen tidak dicuci oleh petani, karena nantinya
pembeli yang akan mencuci. Pada umumnya panen bisa mencapai 11 – 20 kali, di mana
hasil sekali panen berkisar 2 – 5 kg/ are.
Luas lahan yang ditanami kacang panjang bagi tiap petani ± 40 are, setiap
are memiliki kapasitas ± 150 pohon kacang panjang. Status kepemilikan tanah
yang digarap petani ada yang mengontrak dan ada juga hak milik pribadi petani.
Berdasarkan hasil survai, ternyata terdapat perbedaan dosis yang dipergunakan
oleh petani kacang panjang. Petani menggunakan tutup botol insektisida Sidazinon
sebagai takaran/ ukuran pemakaiannya.
Tabel 3.1
Dosis insektisida Sidazinon yang dipergunakan oleh petani kacang panjang di
Desa Tunjuk Selatan, Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan
Petani Frekuensi
(kali)
ml Sidazinon yang
digunakan di lapangan
Rerata Dosis
(ml/ are)
1 3 20 18 18 – 18,67 9,335
2 3 20 18 17 – 18,33 9,165
3 4 18 18 17 18 18,50 9,250
4 4 18 20 19 18 18,75 9,375
5 4 18 20 18 18 18,50 9,250
Rerata dosis (ml/are) 9,275
Keterangan :
• Frekuensi = frekuensi penggunaan Sidazinon pada saat musim tanam kacang
panjang (kali)
• Alat ukur yang digunakan di lapangan adalah tutup obat Sidazinon
10
• Dosis = volume/ berat insektisida Sidazinon yang dipergunakan untuk
menyemprot satu satuan luas pertanaman kacang panjang (ml/ are).
3.2 Data Residu Insektisida Sidazinon pada Polong Kacang Panjang
Nilai rata-rata residu insektisida Sidazinon pada polong kacang yang
dihasilkan di Desa Tunjuk Selatan, Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan dapat
dilihat pada Tabel 3.2.
Tabel 3.2
Nilai rata-rata residu insektisida Sidazinon pada polong kacang panjang
Petani Residu (ppm) Rerata
I II
1 0,03306 0,03551 0,03429
2 0,00800 0,01662 0,01231
3 0,04163 0,04506 0,04335
4 0,03837 0,03906 0,03872
5 0,01795 0,02923 0,02359
Rata-rata Residu (ppm) 0,03045
Penggunaan pestisida secara konvensional untuk menekan dan
mengendalikan hama serta penyakit pada tanaman demi meningkatkan hasil dan
mutu komoditas sayuran, diperkirakan menyebabkan adanya deposit atau residu
pestisida yang tertinggal dalam sayuran yang dikonsumsi oleh masyarakat.
Pada Tabel 3.2 terlihat bahwa kadar residu insektisida Sidazinon pada polong
kacang panjang di Desa Tunjuk Selatan, ditemukan masih di bawah nilai MRL
(Maximum Residue Limit). Hal tersebut disebabkan oleh sifat insektisida golongan
organophosfat mudah terurai, sehingga tidak/ ditemukan dalam jumlah sedikit dalam
hasil (polong) sesudah panen. Kadar residu insektisida Sidazinon dipengaruhi oleh
dosis yang dipergunakan dalam aplikasi insektisida Sidazinon di lapangan.
11
Penggunaan Sidazinon sebanyak 4 kali penyemprotan (yaitu mulai tanaman
berumur 26 hari) dengan dosis rata-rata 9,275 ml/ are, yang kemudian setelah 6 hari
(rata-rata panen kacang panjang dari 5 petani) dari penyemprotan terakhir dianalisis
residu pestisida, maka masih ada kadar Sidazinonnya yaitu berkisar 0,00800 –
0,04163 ppm.
Jumlah residu Diazinon yang terdapat pada sayur-sayuran semakin sedikit
apabila tenggang waktu antara penyemprotan dengan waktu panen diperbesar. Pada
penelitian Dibyantoro (1979) diperoleh residu Diazinon pada sayur selada akan
menurun dari 6,7 ppm pada hari pertama setelah penyemprotan, menjadi 0,8 ppm
pada hari ke tujuh setelah penyemprotan.
Insektisida Sidazinon adalah pestisida yang bekerja sebagai racun kontak
atau kontak langsung dengan bagian tubuh organisme pengganggu tanaman sasaran,
sehingga residu yang terdapat pada polong kacang panjang sebagian besar adalah
residu permukaan. Menurut Tarumingkeng (1977), residu permukaan yang
tertinggal pada tanaman pada saat disemprot dapat hilang karena pencucian atau
pembilasan. Pencucian bukan hanya terhadap pestisida yang larut dalam air, akan
tetapi juga terhadap pestisida yang lipofilik. Dalam jumlah sedikit pestisida dalam
tanaman dapat hilang sama sekali karena proses pertumbuhan tanaman tersebut.
Diazinon dapat larut dalam air walaupun dalam jumlah kecil (0,004 %)
pada suhu 200C. Dilihat dari sifat kelarutan Diazinon di dalam air, proses
pencucian dapat terjadi. Penelitian tentang reduksi residu pada sayuran dan buah
karena pencucian telah lama dilakukan, diantaranya adalah pencucian sayur bayam
12
dapat mengurangi residu diazinon dari 1,8 ppm menjadi 0,77 ppm (Suwantapura,
1982).
Selain pencucian oleh air hujan, pestisida dapat berkurang akibat sinar
matahari. Sinar matahari mempercepat penguraian Diazinon melalui proses
dekomposisi.
Menurut Amstrong (1974), reaksi kimia yang disebabkan oleh radiasi
gelombang elektromegnetik merupakan salah satu faktor penting dalam penguraian
pestisida. Untuk mengalami dekomposisi, molekul pestisida harus mengabsorpsi
energi cahaya. Energi cahaya yang diabsorpsi oleh molekul pestisida menyebabkan
ikatan kimia pada molekul pestisida tidak stabil dan membentuk radikal bebas
yang lebih reaktif. Hasil dari reaksi fotodekomposisi berupa reaksi isomerasi,
substitusi atau oksidasi. Tipe reaksi yang terjadi tergantung dari sifat fisika
pestisida, jenis pelarut dan adanya reaktan lain seperti oksigen. Pada kondisi di
bawah sinar matahari, pengaruh proses penuaan terhadap penguraian Diazinon
sebesar 33,38 % dan pengaruh sinar matahari mempercepat penguraian Diazinon
sebesar 66,62 %.
Pestisida walaupun digunakan untuk mencegah dan mengendalikan hama
serta penyakit tanaman asal sesuai peraturan, maka residu pestisida yang tertinggal
di dalam sayuran masih berada di bawah ambang batas yang diperkenankan untuk
dikonsumsi, baik ditinjau dari ADI (Acceptable Daily Intake/ jumlah residu pestisida
yang boleh dicerna selama hidup, yang tidak memberikan pengaruh buruk terhadap
kesehatan manusia) maupun MRL (Maximum Residue Limit). Nilai ADI (Acceptable
Daily Intake) Diazinon 0,002 mg/kg/hari (Atmawidjaja, 1986) dan MRL (Maximum
13
Residue Limit) untuk sayuran 0,5 ppm (Harun, 1995). Rata-rata residu insektisida
Sidazinon pada polong kacang panjang yang dihasilkan di Kecamatan Tabanan
sebesar 0,01231 – 0,04335 ppm masih di bawah nilai MRL (Maximum Residue
Limit) untuk sayuran.
4. Simpulan dan Saran
4.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik simpulan sebagai berikut residu
insektisida Sidazinon pada polong kacang panjang di Kecamatan Tabanan sebesar
0,030450 ppm dan penggunaan dosis yaitu 9,275 ml/are. Residu ini masih berada di
bawah nilai MRL (Maximum Residue Limit) untuk sayuran yaitu 0,5 ppm,
sehingga polong kacang panjang yang dihasilkan di Kabupaten Tabanan cukup
aman untuk dikonsumsi.
4.2 Saran
Perlu dilakukan pemantauan terhadap residu pestisida pada tanaman kacang
panjang dan juga sayuran lainnya, agar kadar residunya tidak melebihi MRL
(Maximum Residue Limit) dan sebaiknya sayuran sebelum diolah atau dikonsumsi
dicuci terlebih dahulu dengan air bersih.
Daftar Pustaka
Amstrong, D. F. and J. G Konrad. 1974. Nonbiological Degradation of Pesticides. In:
Guenzi W. D, Ahlrichs J. L, Chesters G, Bloodworth M. E, Nash R.G., editor.
Pesticides in Soil and Water. Second edition. Madison: Soil Science Socirty of
America, Inc., Publisher.
Anonim. 2003a. Survei Pertanian Produksi Tanaman Sayuran dan Buah-buahan.
Jakarta : Badan Pusat Statistik.
14
Anonim. 2003b. Tabanan dalam Angka 2003. Tabanan : Bappeda Kabupaten
Tabanan, BPS Kabupaten Tabanan.
Anonim. 2004. Data Luas Tanam, Luas Panen dan Produksi Komoditi Kacang
Panjang Tahun 2003. Tabanan : Dinas Pertanian Tanaman Pangan
Kabupaten Tabanan.
A.O.A.C. 1990. Official Methods of Analysis of The Association of Official
Analytical Chemists. Editor. Kenneth Helrich, 15th
. Virginia, USA : The
Association of Official Analytical Chemists, Inc.
Dibyantoro, H. A. 1979. A Case Study of Organophosphate Pesticide Residue in
Lectuce and Carrot. Buletin Penelitian Holtikultura VII (5) : 17-23.
Hadi, S. 1976. Metodologi Research. Yogyakarta : Penerbit Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada.
Harun, Y. 1995. Telaah Tingkat Jenis Residu Pestisida pada Beberapa Sayuran
yang Dijual di Pasar Swalayan dan Pasar Umum Bogor (tesis). Bogor:
Institut Pertanian Bogor
Nugrohati, S. dan K. Untung. 1986. Pestisida dalam Sayuran. Seminar Keamanan
Pangan dalam Pengolahan dan Penyajian. Yogyakarta 1 – 3 September.
Sunarjono, H. H. 2003. Seri Agribisnis: Bertanam 30 Jenis Sayur. Jakarta :
Penebar Swadaya.
Suwantapura, D. 1982. Kadar Residu Pestisida Diazinon pada Sayuran Petsai
(Brassica pekinensis L) setelah Pengolahan Biasa (tesis). Bogor : Institut
Pertanian Bogor
Tarumingkeng, R. C. 1977. Dinamika dalam Lingkungan: Aspek Pestisida di
Indonesia. Lembaga Pusat Penelitian Pertanian, Bogor.
Ucapan Terima Kasih
Penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada Bapak
Nyoman Arya (alm), Bapak Dewa Ngurah Suprapta dan Bapak-bapak petani di Desa
Tunjuk Selatan, Tabanan yang telah banyak membimbing dan memberikan informasi
selama penulis menyelesaikan penelitian ini. Semoga semua bantuan ini bermanfaat bagi
para pembaca.

KACANG PANJANG

Leave a comment

BUDIDAYA KACANG PANJANG
SYARAT PERTUMBUHAN
Tanaman tumbuh baik pada tanah Latosol / lempung berpasir, subur, gembur, banyak mengandung bahan organik dan drainasenya baik, pH sekitar 5,5-6,5. Suhu antara 20-30 derajat Celcius, iklimnya kering, curah hujan antara 600-1.500 mm/tahun dan ketinggian optimum kurang dari 800 m dpl.

PEMBIBITAN
– Benih kacang panjang yang baik dan bermutu adalah sebagai berikut: penampilan bernas/kusam, daya kecambah tinggi di atas 85%, tidak rusak/cacat, tidak mengandung wabah hama dan penyakit. Keperluan benih untuk 1 hektar antara 15-20 kg.
– Benih tidak usah disemaikan secara khusus, tetapi benih langsung tanam pada lubang tanam yang sudah disiapkan.

PENGOLAHAN MEDIA TANAM
– Bersihkan lahan dari rumput-rumput liar, dicangkul/dibajak hingga tanah menjadi gembur.
– Buatlah bedengan dengan ukuran lebar 60-80 cm, jarak antara bedengan 30 cm, tinggi 30 cm, panjang tergantung lahan. Untuk sistem guludan lebar dasar 30-40 cm dan lebar atas 30-50 cm, tinggi 30 cm dan jarak antara guludan 30-40 cm
– Lakukan pengapuran jika pH tanah lebih rendah dari 5,5 dengan dolomit sebanyak 1-2 ton/ha dan campurkan secara merata dengan tanah pada kedalaman 30 cm
– Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis ± 1 botol (500 cc) POC NASA diencerkan dengan air secukupnya untuk setiap 1000 m2(10 botol/ha). Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA, cara penggunaannya sebagai berikut:
alternatif 1 : 1 botol Super Nasa diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan Super Nasa untuk menyiram 10 meter bedengan.

TEKNIK PENANAMAN
– Jarak lubang tanam untuk tipe merambat adalah 20 x 50 cm, 40 x 60 cm, 30 x 40 cm. Dan jarak tanam tipe tegak adalah 20 x 40 cm dan 30 x 60 cm.
– Waktu tanam yang baik adalah awal musim kemarau/awal musim penghujan, tetapi dapat saja sepanjang musim asal air tanahnya memadai
– Benih direndam POC NASA dosis 2 tutup/liter selama 0,5 jam lalu tiriskan
– Benih dimasukkan ke dalam lubang tanam sebanyak 2 biji, tutup dengan tanah tipis/dengan abu dapur.

PENYULAMAN
Benih kacang panjang akan tumbuh 3-5 hari setelah tanam. Benih yang tidak tumbuh segera disulam.

PENYIANGAN
Penyiangan dilakukan pada waktu tanaman berumur 2-3 minggu setelah tanam, tergantung pertumbuhan rumput di kebun. Penyiangan dengan cara mencabut rumput liar/membersihkan dengan alat kored.

PEMANGKASAN / PEREMPELAN
Kacang panjang yang terlalu rimbun perlu diadakan pemangkasan daun maupun ujung batang. Tanaman yang terlalu rimbun dapat menghambat pertumbuhan bunga.

PEMUPUKAN
Dosis pupuk makro sebagai berikut:
Waktu Dosis Pupuk Makro (per ha)
Urea (kg) SP-36 (kg) KCl (kg)
Dasar 50 75 25
Umur 45 hari 50 25 75
TOTAL 100 100 100

Catatan : Atau sesuai rekomendasi setempat.
Pupuk diberikan di dalam lubang pupuk yang terletak di kiri-kanan lubang tanam. Jumlah pupuk yang diberikan untuk satu tanaman tergantung dari jarak tanam
POC NASA diberikan 1-2 minggu sekali semenjak tanaman berumur 2 minggu, dengan cara disemprotkan (4-8 tutup POC NASA/tangki). Kebutuhan total POC NASA untuk pemeliharaan 1-2 botol per 1000 M2 (10-20 botol/ha). Akan lebih bagus jika penggunaan POC NASA ditambahkan HORMONIK (3-4 tutup POC NASA + 1 tutup Hormonik/tangki). Pada saat tanaman berbunga tidak dilakukan penyemprotan, karena dapat mengganggu penyerbukan (dapat disiramkan dengan dosis + 2 tutup/10 liter air ).

PENGAIRAN
Pada fase awal pertumbuhan benih hingga tanaman muda, penyiraman dilakukan rutin tiap hari. Pengairan berikutnya tergantung musim.

PENGELOLAAN HAMA DAN PENYAKIT
a. Lalat kacang (Ophiomya phaseoli Tryon)
Gejala: terdapat bintik-bintik putih sekitar tulang daun, pertumbuhan tanaman yang terserang terhambat dan daun berwarna kekuningan, pangkal batang terjadi perakaran sekunder dan membengkak. Pengendalian: dengan cara pergiliran tanaman yang bukan dari famili kacang-kacangan dan penyemprotan dengan PESTONA.

b. Kutu daun (Aphis cracivora Koch)
Gejala: pertumbuhan terlambat karena hama mengisap cairan sel tanaman dan penurunan hasil panen. Kutu bergerombol di pucuk tanaman dan berperan sebagai vektor virus. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dengan tanaman bukan famili kacang-kacangan dan penyemprotan Natural BVR

c. Ulat grayak (Spodoptera litura F.)
Gejala: daun berlubang dengan ukuran tidak pasti, serangan berat di musim kemarau, juga menyerang polong. Pengendalian: dengan kultur teknis, rotasi tanaman, penanaman serempak, Semprot Natural VITURA

d. Penggerek biji (Callosobruchus maculatus L)
Gejala: biji dirusak berlubang-lubang, hancur sampai 90%. Pengendalian: dengan membersihkan dan memusnahkan sisa-sisa tanaman tempat persembunyian hama. Benih kacang panjang diberi perlakuan minyak jagung 10 cc/kg biji.

e. Ulat bunga ( Maruca testualis)
Gejala: larva menyerang bunga yang sedang membuka, kemudian memakan polong. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dan menjaga kebersihan kebun dari sisa-sisa tanaman. Disemprot dengan PESTONA

f. Penyakit Antraknose ( jamur Colletotricum lindemuthianum )
Gejala serangan dapat diamati pada bibit yang baru berkecamabah, semacam kanker berwarna coklat pada bagian batang dan keping biji. Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perlakuan benih sebelum ditanam dengan Natural GLIO dan POC NASA dan membuang rumput-rumput dari sekitar tanaman.

g. Penyakit mozaik ( virus Cowpea Aphid Borne Virus/CAMV).
Gejala: pada daun-daun muda terdapat gambaran mosaik yang warnanya tidak beraturan. Penyakit ditularkan oleh vektor kutu daun. Pengendalian: gunakan benih sehat dan bebas virus, semprot vector kutu daun dan tanaman yang terserang dicabut dan dibakar.

h. Penyakit sapu ( virus Cowpea Witches-broom Virus/Cowpea Stunt Virus.)
Gejala: pertumbuhan tanaman terhambat, ruas-ruas (buku-buku) batang sangat pendek, tunas ketiak memendek dan membentuk “sapu”. Penyakit ditularkan kutu daun. Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit mosaik.

i. Layu bakteri ( Pseudomonas solanacearum )
Gejala: tanaman mendadak layu dan serangan berat menyeabkan tanaman mati. Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perbaikan drainase dan mencabut tanaman yang mati dan gunakan Natural GLIO pada awal tanam.

PANEN DAN PASCA PENEN
– Ciri-ciri polong siap dipanen adalah ukuran polong telah maksimal, mudah dipatahkan dan biji-bijinya di dalam polong tidak menonjol
– Waktu panen yang paling baik pada pagi/sore hari. Umur tanaman siap panen 3,5-4 bulan
– Cara panen pada tanaman kacang panjang tipe merambat dengan memotong tangkai buah dengan pisau tajam.
– Selepas panen, polong kacang panjang dikumpulkan di tempat penampungan, lalu disortasi
– Polong kacang panjang diikat dengan bobot maksimal 1 kg dan siap dipasarkan.

keramik mesopotamia gaya ubaid

Leave a comment

ATAS PERADABAN Mendadak

1.UNTUK WAKTU PANJANG pria, percaya bahwa peradaban Barat adalah karunia Roma dan Yunani. Namun filsuf Yunani sendiri menulis berulang kali bahwa mereka telah ditarik pada sumber bahkan lebih awal. Kemudian, wisatawan kembali ke Eropa melaporkan adanya piramida di Mesir mengenakan dan kuil-kota setengah terkubur di pasir, dijaga oleh binatang batu aneh yang disebut patung sphinx.

2. Ketika Napoleon tiba di Mesir pada 1799, ia mengambil sertanja sarjana untuk belajar dan menjelaskan monumen-monumen kuno. Salah satu perwira Rosetta ditemukan di dekat batu slab yang diukir proklamasi dari 196 SM ditulis dalam penulisan piktografik Mesir kuno (hieroglif) serta dalam dua skrip lainnya.

3.The penguraian naskah Mesir kuno dan bahasa, dan upaya arkeologi yang diikuti, mengungkapkan kepada orang Barat bahwa peradaban tinggi telah ada di Mesir baik sebelum munculnya peradaban Yunani. catatan Mesir berbicara tentang dinasti kerajaan yang dimulai sekitar tahun 3100 SM – Dua ribu tahun penuh sebelum awal peradaban Hellenic. Mencapai jatuh tempo pada abad kelima dan keempat SM, Yunani adalah orang yg terlambat daripada seorang pencipta.

Apakah asal-usul peradaban kita, lalu, di Mesir?

4.Sebagai kesimpulan logis yang akan tampak, fakta militated menentangnya. sarjana Yunani tidak menggambarkan kunjungan ke Mesir, tetapi sumber-sumber kuno pengetahuan yang mereka berbicara yang ditemukan di tempat lain. Pra-Hellenic budaya dari Laut Aegean – yang Minoan di Pulau Kreta dan Mycenaean pada bukti menunjukkan daratan Yunani – bahwa Dekat Timur, bukan Mesir, budaya telah diadopsi. Suriah dan Anatolia, bukan Mesir, adalah jalan utama di mana sebuah peradaban sebelumnya menjadi tersedia untuk orang-orang Yunani.

5. Memperhatikan bahwa invasi Dorian Yunani dan invasi Israel Kanaan setelah Keluaran dari Mesir terjadi pada waktu yang sama (sekitar abad ketiga belas SM), para sarjana telah tertarik untuk menemukan semakin banyak kesamaan antara peradaban Hellenic Semit dan .

Profesor Cyrus H. Gordon (Lupa Skrip; Bukti untuk Bahasa Minoan) membuka lapangan kerja baru dengan menunjukkan bahwa skrip awal Minoan, disebut Linear A, merupakan bahasa Semit.

6. Dia menyimpulkan bahwa “pola (yang berbeda dari isi) dari bahasa Ibrani dan peradaban Minoan sama sampai batas yang luar biasa,” menunjuk dan bahwa nama pulau itu, Kreta, dieja dalam Minoan-ta kembali Ke-, adalah sama sebagai kata Ibrani Ke-ulang-et kota (“berdinding”) dan memiliki mitra di sebuah kisah Semit dari raja Keret.

7. Bahkan Hellenic alfabet, dari mana huruf Latin dan berasal kita sendiri, berasal dari Timur Dekat. Para sejarawan Yunani kuno sendiri menulis bahwa Fenisia bernama Kadmus (“kuno” membawa) mereka abjad, terdiri dari jumlah huruf yang sama, dalam urutan yang sama, seperti dalam bahasa Ibrani, melainkan hanya alfabet Yunani pada saat Perang Troya berlangsung. Jumlah surat dinaikkan menjadi 26 oleh penyair Simonides CEO pada abad kelima SM

8. Bahwa tulisan Yunani dan Latin, dan dengan demikian seluruh dasar kebudayaan Barat, yang diadopsi dari Timur Dekat dengan mudah dapat ditunjukkan dengan membandingkan urutan, nama, tanda, dan bahkan nilai-nilai numerik yang asli alfabet Timur Dekat dengan banyak kemudian kuno Yunani dan Latin yang lebih baru.

9.Para ulama sadar, tentu saja, kontak Yunani dengan Timur Dekat pada milenium pertama SM, mencapai puncaknya dengan kekalahan Persia oleh Alexander Macedonia pada 331 SM

10catatan Yunani berisi banyak informasi tentang ini Persia dan tanah mereka (yang secara kasar sejajar hari ini Iran). Dilihat oleh nama-nama raja-raja mereka – Cyrus, Darius, Xerxes – dan nama-nama dewa mereka, yang tampaknya milik batang linguistik Indo-Eropa, ulama sampai pada kesimpulan bahwa mereka adalah bagian dari Arya (“agung”) orang yang muncul dari suatu tempat di dekat Laut Kaspia menuju akhir milenium kedua SM dan menyebar ke Asia Minor barat, timur ke India, dan selatan untuk apa yang Perjanjian Lama disebut “tanah dari Media dan Parsees.”

Namun, semua itu tidak sesederhana itu. Meskipun diasumsikan asing asal penjajah ini, Perjanjian Lama memperlakukan mereka sebagai bagian dari peristiwa alkitabiah. Cyrus, misalnya, dianggap sebagai “diurapi Yahweh” – cukup hubungan biasa antara Allah Ibrani dan non-Ibrani.

Menurut Alkitab Kitab Ezra, Cyrus mengakui misi untuk membangun kembali Bait Allah di Yerusalem, dan menyatakan bahwa ia bertindak atas perintah yang diberikan oleh Yahweh, yang dia sebut “Allah di surga.” Cyrus dan raja-raja lain dari dinastinya menyebut diri mereka Achaemenids – setelah judul diadopsi oleh pendiri dinasti, yang Hacham-Anish.

Itu bukan Arya tapi judul Semit yang sempurna, yang berarti “orang bijak.”

Pada umumnya, para ahli telah lalai untuk menyelidiki menyebabkan banyak yang dapat menunjukkan kesamaan antara Allah Ibrani Yahweh dan dewa Achaemenids disebut “Tuhan Maha Bijaksana,” yang mereka digambarkan sebagai melayang di langit dalam Globe bersayap, seperti yang ditunjukkan pada kerajaan meterai Darius.

Telah dibentuk sekarang bahwa akar budaya, agama, dan bersejarah dari Persia Lama kembali ke awal kerajaan Babel dan Asyur, yang luas dan jatuh dicatat dalam Perjanjian Lama.

Simbol-simbol yang menyusun naskah yang muncul di monumen Achaemenid dan segel pada awalnya dianggap sebagai desain dekoratif. Engelbert Kampfer, yang mengunjungi Persepolis, ibukota Persia Lama, pada 1686, menggambarkan tanda-tanda sebagai “cuneates,” atau jejak berbentuk baji. Script sejak itu dikenal sebagai paku.

Sebagai upaya mulai menguraikan prasasti Achaemenid, menjadi jelas bahwa mereka ditulis dalam naskah yang sama seperti prasasti yang ditemukan pada artefak kuno dan tablet di Mesopotamia, lembah dan dataran tinggi yang terletak antara sungai Tigris dan Efrat. Tertarik dengan menemukan tersebar, Paul Emile Botta ditetapkan pada 1843 untuk melakukan penggalian tujuan utama pertama.

Dia memilih situs di Mesopotamia utara, di dekat Mosul saat ini, sekarang disebut Khorsabad. Botta segera dapat menetapkan bahwa prasasti berbentuk baji bernama tempat Dur Sharru Kin. Mereka Semit prasasti, dalam bahasa Ibrani saudara perempuan, dan nama berarti “kota bertembok dari raja benar.” buku kami menyebutnya raja Sargon II.

Ini ibukota raja Asyur itu sebagai pusatnya dan sebuah istana kerajaan megah yang dindingnya dilapisi dengan dipahat-relief bas, yang, jika ditempatkan ujung ke ujung, akan membentang selama lebih dari satu mil.

Panglima kota dan senyawa kerajaan merupakan langkah piramida disebut Ziggurat sebuah; itu menjabat sebagai tangga “ke Surga” bagi para dewa.

Tata letak kota dan patung menggambarkan cara hidup dalam skala besar.

Istana, kuil, rumah, kandang, gudang, dinding, pintu, kolom, dekorasi, patung, karya seni, menara, benteng, teras, taman – semua diselesaikan hanya dalam waktu lima tahun. Menurut Georges Contenau (La Vie Quotidienne sebuah Babylone et en Assyrie), “kata gulungan imajinasi sebelum potensi kekuatan suatu kerajaan yang bisa mencapai begitu banyak dalam waktu singkat,” sekitar 3.000 tahun yang lalu.

Tidak mau kalah oleh Perancis, Inggris muncul di adegan dalam pribadi Sir Austen Henry Layard, yang dipilih sebagai tempat situs nya sepuluh beberapa kilometer ke Sungai Tigris dari Khorsabad. Penduduk asli menyebutnya Kuyunjik; ternyata menjadi modal Asiria Niniwe.

nama Alkitab dan acara sudah mulai datang ke hidup. Niniwe adalah ibukota kerajaan Asyur di bawah penguasa terakhirnya tiga besar: Sanherib, Esarhaddon, dan Ashurhanipal.

“Sekarang, dalam tahun keempat belas pemerintahan Raja Hizkia, tidak raja Asyur datang memerangi semua kota yang berkubu di Yehuda,” mengaitkan (Perjanjian Lama II Raja-raja 18:13), dan ketika Malaikat Tuhan memukul pasukannya, “Sanherib berangkat dan kembali, dan tinggal di Niniwe.”

Gundukan di mana Niniwe dibangun oleh Sanherib dan Ashurbanipal mengungkapkan istana, candi, dan karya seni yang melebihi orang-orang Sargon.

Daerah dimana sisa-sisa istana Esarhaddon yang dipercaya untuk berbohong tidak dapat digali, karena sekarang menjadi situs sebuah masjid Muslim didirikan di tempat pemakaman diklaim nabi Yunus, yang ditelan oleh ikan paus ketika dia menolak ID membawa pesan Yahwe ke Niniwe.

Layard telah membaca dalam catatan Yunani kuno bahwa seorang perwira dalam tentara Alexander melihat tempat “piramida dan sisa-sisa sebuah kota kuno” – sebuah kota yang sudah dikubur dalam waktu Alexander! Layard menggalinya juga, dan ternyata menjadi Nimrud, pusat militer Asyur itu. Di sanalah Shalmaneser II mendirikan sebuah tugu untuk merekam ekspedisi militer dan penaklukan. Sekarang pada pameran di Museum British, daftar obelisk, antara raja yang diciptakan untuk membayar upeti, “Yehu bin Omri, raja Israel.”

Sekali lagi, prasasti Mesopotamia dan teks-teks Alkitab saling mendukung!

Terkejut oleh pembuktian semakin sering kisah-kisah Alkitab oleh temuan arkeologis, yang Assyriologists, sebagai sarjana ini kemudian disebut, berbalik ke bab kesepuluh dari Kitab Kejadian. Ada Nimrod – “pemburu kuat oleh kasih karunia Yahweh” – adalah des6ribed sebagai pendiri dari segala kerajaan di Mesopotamia.

Dan awal kerajaan-Nya:

Babel dan Erech dan Akkad, semuanya di Tanah Shin’ar.
Keluar dari sana terpancar Tanah Ashur mana
Niniwe dibangun, sebuah kota di jalan-jalan yang luas, dan Khalah, dan Ressen – kota besar
yang antara Niniwe dan Khalah.

Memang ada gundukan yang pribumi disebut Kalah, berbaring di antara Niniwe dan Nimrud.

Ketika tim di bawah W. Andrae digali daerah 1903-1914, mereka menemukan reruntuhan Ashur, pusat keagamaan Asiria dan modal awal. Dari semua kota-kota Asyur disebutkan dalam Alkitab, hanya Ressen masih harus ditemukan. Namanya berarti “tali kekang kuda”, mungkin itu adalah lokasi istal kerajaan Asyur.

Pada waktu yang sama dengan Ashur sedang digali, tim di bawah R. Koldewey telah menyelesaikan penggalian Babel, Babel alkitabiah – tempat besar istana, kuil, taman-taman gantung, dan Ziggurat tak terelakkan. Sebelum lama, artefak dan prasasti meluncurkan sejarah dari dua kerajaan bersaing dari Mesopotamia: Babilonia dan Asyur, yang berpusat di selatan, yang lain di utara.

Naik dan turun, perkelahian, dan hidup bersama, kedua merupakan sebuah peradaban yang tinggi yang mencakup sekitar 1.500 tahun, keduanya naik sekitar 1900 SM

Asyur dan Niniwe akhirnya ditangkap dan dihancurkan oleh Babel tahun 614 dan 612 SM, masing-masing. Seperti yang diramalkan oleh para nabi Alkitab, Babel sendiri datang berakhir memalukan ketika Koresy menaklukkan Achaemenid di 539 SM

Meskipun mereka rival sepanjang sejarah mereka, orang itu akan sulit sekali untuk menemukan perbedaan yang signifikan antara Asyur dan Babilonia dalam hal budaya atau materi. Meskipun disebut dewa Asyur utamanya Ashur (“semua melihat”) dan memanggil Babilonia Marduk (“bin gundukan murni”), para Pantheon yang sebaliknya hampir sama.

Banyak museum di dunia menghitung antara pameran hadiah mereka gerbang seremonial, sapi jantan bersayap, bas-relief, kereta, alat, perkakas, perhiasan, patung, dan benda-benda lainnya yang terbuat dari setiap bahan yang mungkin yang telah digali dari gundukan Asyur dan Babel.

Tapi harta yang sejati dari kerajaan adalah catatan tertulis mereka:

ribuan prasasti dalam naskah berbentuk baji, termasuk cerita cosmologic, puisi epik, sejarah raja-raja, catatan kuil, kontrak komersial, perkawinan dan perceraian catatan, tabel astronomi, ramalan astrologi, rumus-rumus matematika, daftar geografis, tata bahasa dan kosa kata teks sekolah, dan, paling tidak semua, teks berurusan dengan nama, silsilah, julukan, perbuatan, kekuasaan, dan tugas para dewa.

Bahasa umum yang membentuk ikatan budaya, sejarah, dan agama antara Asyur dan Babilonia adalah Akkadia. Itu adalah bahasa Semit pertama yang diketahui, yang serupa dengan tapi mendahului bahasa Ibrani, Aram, Phoenicia, dan Kanaan. Tetapi Asyur dan Babel tidak meletakkan klaim untuk memiliki menemukan bahasa atau script nya, memang, banyak dari mereka menanggung tablet postscript bahwa mereka telah disalin dari aslinya sebelumnya.

Siapa, kemudian, menemukan script runcing dan mengembangkan bahasa, tata bahasa dan kosa kata yang tepat kaya? Yang menulis “asli sebelumnya”? Dan mengapa orang-orang Asyur dan Babel panggilan bahasa Akkadia?

Perhatian sekali lagi berfokus pada Kitab Kejadian. Dan awal kerajaan-Nya: Babel dan Erech dan Akkad. “Akkad – ada bisa benar-benar telah seperti ibukota kerajaan, sebelumnya Babel dan Niniwe?

Reruntuhan Mesopotamia telah memberikan bukti yang meyakinkan bahwa sekali pada waktu yang ada memang ada sebuah kerajaan dengan nama Akkad, yang didirikan oleh seorang penguasa jauh lebih awal, yang menyebut dirinya sharrukin sebuah (“penguasa benar”). Dia menyatakan dalam prasasti bahwa kerajaannya membentang, dengan rahmat-Nya Enlil dewa, dari Laut Hilir (Teluk Persia). Ke Laut Atas (diyakini Mediterania). Dia menyombongkan diri bahwa “di dermaga dari Akkad, ia membuat kapal merapat” dari tanah jauh banyak.

Para ulama berdiri terpesona: Mereka telah menemukan sebuah kerajaan Mesopotamia pada milenium ketiga SM! Ada lompatan – mundur – dari sekitar 2.000 tahun dari Asiria Sargon Dur Sharrukin untuk Sargon dari Akkad. Namun gundukan yang digali dibawa ke sastra cahaya dan seni, ilmu pengetahuan dan politik, perdagangan dan komunikasi – peradaban penuh – jauh sebelum munculnya Babilonia dan Asyur. Selain itu, jelas pendahulu dan sumber kemudian: peradaban Mesopotamia; Asyur dan Babilonia itu hanya cabang dari trunk Akkadia.

Misteri seperti awal peradaban Mesopotamia diperdalam, bagaimanapun, sebagai prasasti rekaman prestasi dan silsilah Sargon dari Akkad ditemukan. Mereka menyatakan bahwa judul lengkapnya adalah “Raja dari Akkad, Raja Kish”, mereka menjelaskan bahwa sebelum ia diasumsikan takhta, ia telah menjadi konselor ke “penguasa dari Kish.” Apakah ada, maka – ulama-tanya sendiri – sebuah kerajaan bahkan sebelumnya, bahwa dari Kish, yang didahului Akkad?

Sekali lagi, ayat-ayat Alkitab yang diperoleh secara signifikan.

Dan Kush melahirkan Nimrod;
Dia pertama kali menjadi Hero di Tanah ….
Dan awal kerajaan-Nya:
Babel dan Erech dan Akkad.

Banyak sarjana berspekulasi bahwa Sargon dari Akkad adalah Nimrod Alkitab.

Jika kita membaca “Kish” untuk “Kush” dalam ayat-ayat Alkitab di atas, akan terlihat Nimrod memang didahului oleh Kish, seperti diklaim oleh Sargon. Para ahli kemudian mulai menerima harfiah sisa inskripsi-Nya:

“Ia mengalahkan Uruk dan merobohkan tembok … dia menang dalam pertempuran dengan penduduk Ur … ia mengalahkan seluruh wilayah dari Lagash sejauh laut.”

Apakah Alkitab Erech identik dengan prasasti Uruk Sargon? Sebagai situs kini disebut Warka digali itu, yang ditemukan kasus ini. Dan Ur disebut oleh Sargon tak lain dari Ur Alkitab, tempat kelahiran Abraham Mesopotamia.

Tidak hanya melakukan penemuan-penemuan arkeologi membela catatan Alkitab, hal itu juga muncul beberapa kerajaan yang ada pasti dan kota-kota dan peradaban di Mesopotamia bahkan sebelum milenium ketiga SM Satu-satunya pertanyaan adalah: Bagaimana jauh kembali melakukan satu harus pergi untuk menemukan kerajaan beradab pertama?

Kunci yang membuka kunci teka-teki tersebut belum bahasa lain.

Sarjana cepat menyadari bahwa nama memiliki makna yang tidak hanya dalam bahasa Ibrani dan dalam Perjanjian Lama tetapi di seluruh Timur Dekat kuno. Semua Akkadia, Babilonia, Asiria dan nama-nama orang dan tempat-tempat itu arti. Tapi nama-nama penguasa yang didahului Sargon dari Akkad tidak masuk akal sama sekali: Raja di pengadilan yang Sargon adalah seorang konselor disebut Urzababa; raja yang memerintah di Erech bernama Lugalzagesi, dan sebagainya.

Ceramah sebelum Royal Asiatic Society pada tahun 1853, Sir Henry Rawlinson menunjukkan bahwa nama-nama seperti itu tidak Semit atau Indo-Eropa; memang,

“Mereka sepertinya tidak milik kelompok yang dikenal dari bahasa atau masyarakat.”

Tapi kalau nama memiliki makna, apa bahasa misterius di mana mereka telah artinya?

Para ahli mengambil lagi melihat prasasti Akkadia. Pada dasarnya, script paku Akkadia adalah suku kata: Setiap tanda berdiri untuk suku kata yang lengkap (ab, ba, bat, dll).

Namun script membuat ekstensif menggunakan tanda-tanda yang tidak fonetik suku kata tapi menyampaikan makna “dewa,” “kota”, “negara,” atau “hidup,” “ditinggikan,” dan sejenisnya. Satu-satunya penjelasan yang mungkin untuk fenomena ini adalah tanda-tanda ini adalah sisa sebuah metode penulisan yang digunakan pictographs sebelumnya. Akkadia, maka, pasti didahului oleh bahasa lain yang menggunakan metode penulisan mirip dengan hiroglif Mesir.

Ia segera jelas bahwa bahasa sebelumnya, dan tidak nafsu bentuk tulisan sebelumnya, terlibat di sini. Para ahli menemukan bahwa prasasti Akkadia dan teks dibuat ekstensif menggunakan kata-kata pinjaman – kata utuh dipinjam dari bahasa lain (dengan cara yang sama bahwa Prancis modern akan meminjam kata dalam bahasa Inggris akhir pekan). Hal ini terutama berlaku di mana terminologi ilmiah atau teknis terlibat, dan juga dalam hal berhubungan dengan para dewa dan langit.

Salah satu menemukan teks Akkadia terbesar adalah reruntuhan sebuah perpustakaan berkumpul di Niniwe oleh Ashurbanipal; Layard dan rekan-rekannya dibawa jauh dari situs 25.000 tablet, banyak yang digambarkan oleh para ahli Taurat kuno sebagai salinan dari “teks-teks kuno.” Sekelompok 23 tablet berakhir dengan pernyataan: “tablet 23: bahasa Shumer tidak berubah.”

teks lain melahirkan suatu pernyataan misterius oleh Ashurbanipal sendiri:

Dewa dari ahli-ahli Taurat telah diberikan pada saya karunia pengetahuan seninya.
Saya telah diinisiasi ke dalam rahasia menulis.
Saya bahkan dapat membaca tablet rumit di Shumerian;
Saya memahami kata-kata misterius dalam ukiran batu dari hari-hari sebelum banjir.

Klaim oleh Ashurbanipal bahwa ia bisa membaca tablet rumit dalam “Shumerian” dan memahami kata-kata yang tertulis pada tablet dari “hari-hari sebelum air bah” hanya meningkat misteri.

Tetapi pada Januari 1869 Jules Oppert disarankan untuk Masyarakat Perancis pengetahuan tentang pengumpulan mata uang dan Arkeologi bahwa pengakuan diberikan kepada keberadaan pra-bahasa Akkadia dan orang-orang. Menunjukkan bahwa penguasa awal Mesopotamia menyatakan legitimasi mereka dengan mengambil judul “Raja Sumer dan Akkad,” ia menyarankan agar orang-orang disebut “Sumeria,” dan tanah mereka, “Sumer.”

Kecuali untuk salah mengucapkan nama – seharusnya Shumer, tidak Sumer – Oppert benar. Sumer bukanlah tanah, misterius jauh, tapi nama awal untuk Mesopotamia selatan, seperti Kitab Kejadian telah jelas menyatakan: Kota-kota kerajaan Babel dan Akkad dan Erech berada di “Tanah Shin’ar.” (Sinear adalah nama alkitabiah untuk Shumer.)

Setelah para ulama telah menerima kesimpulan ini, banjir gerbang dibuka. Referensi Akkadia untuk • dengan “teks-teks kuno” menjadi bermakna, dan sarjana segera menyadari bahwa tablet dengan kolom panjang Kata-kata itu sebenarnya leksikon Sumeria Akkadia dan kamus, disusun Asyur dan Babilonia untuk belajar sendiri bahasa tertulis pertama, Sumeria .

Tanpa kamus dari masa lalu, kita masih akan jauh dari mampu membaca Sumeria.

Dengan bantuan mereka, sebuah harta karun sastra dan budaya yang luas terbuka. Juga menjadi jelas bahwa naskah Sumeria, awalnya piktografik dan diukir di batu di kolom vertikal, kemudian berbalik horisontal dan, kemudian, bergaya untuk baji menulis pada tablet tanah liat lunak menjadi tulisan paku yang diadopsi oleh Akkadians, Babel, Asyur, dan negara-negara lain di Timur Dekat kuno.

The penguraian bahasa Sumeria dan script, dan kesadaran bahwa bangsa Sumeria dan budaya mereka adalah sumber utama – prestasi Akkadia Babilonia-Asiria, mendorong pencarian arkeologis di Mesopotamia selatan.

Semua bukti menunjukkan bahwa mulai sekarang itu ada di sana.

Penggalian signifikan pertama dari situs Sumeria dimulai pada tahun 1877 oleh arkeolog Perancis, dan menemukan dari situs ini tunggal begitu luas yang lain terus menggali di sana hingga tahun 1933 tanpa menyelesaikan pekerjaan.

Dipanggil oleh penduduk asli Telloh (“gundukan”), situs ini terbukti merupakan kota Sumeria awal, sangat Lagash dari yang penaklukan Sargon dari Akkad membual. Memang sebuah kota kerajaan yang melahirkan penguasa judul yang sama telah mengadopsi Sargon, kecuali bahwa itu adalah dalam bahasa Sumeria: EN.SI (“penguasa benar”). dinasti mereka sudah mulai sekitar 2900 sebelum Masehi dan berlangsung selama hampir 650 tahun. Selama waktu ini, empat puluh tiga ENSI yang memerintah tanpa gangguan Lagash: Nama-nama mereka, silsilah, dan panjang dalam aturan semua dicatat rapi.

Prasasti memberikan banyak informasi. Menarik bagi para dewa “menyebabkan gabah kecambah tumbuh untuk panen … untuk menyebabkan menyiram tanaman untuk menghasilkan gandum,” membuktikan keberadaan pertanian dan irigasi.

Secangkir tertulis untuk menghormati dewi oleh “pengawas dari lumbung” menunjukkan bahwa butiran disimpan, diukur, dan diperdagangkan.

Sebuah ENSI bernama Eannatum meninggalkan prasasti di batu bata tanah liat yang membuat jelas bahwa para penguasa Sumeria bisa berasumsi takhta hanya dengan persetujuan para dewa. Dia juga mencatat penaklukan kota lain, memperlihatkan kepada kita keberadaan negara-kota lain di Sumer pada awal SM milenium ketiga

pengganti Eannatum’s, Entemena, menulis bangunan candi dan menghiasinya dengan emas dan perak, penanaman kebun, memperbesar bata berlapis sumur. Dia membanggakan membangun benteng dengan menara pengawas dan fasilitas docking kapal.

Salah satu penguasa yang lebih terkenal adalah Gudea Lagash. Ia memiliki sejumlah besar patung yang terbuat dari dirinya sendiri, semua menunjukkan kepadanya dalam posisi nazar, berdoa kepada dewanya. Sikap ini adalah pura-pura tidak: Gudea memang mengabdikan diri untuk adorasi Ningirsu, dewa utama, dan dengan konstruksi dan pembangunan kembali candi.

banyak prasasti-Nya mengungkapkan bahwa, dalam mencari bahan bangunan yang indah, ia memperoleh emas dari Afrika dan Anatolia, perak dari Pegunungan Taurus, pohon aras dari Libanon, kayu langka lainnya dari Ararat, tembaga dari rentang Zagros, diorit dari Mesir, Akik dari Ethiopia, dan bahan lainnya dari tanah yang belum teridentifikasi oleh para sarjana.

Ketika Musa membangun untuk Jahwe, Allah sebuah Residence “” di padang gurun, ia melakukannya sesuai dengan petunjuk yang sangat rinci yang diberikan oleh Tuhan. Ketika Raja Salomo mendirikan Bait Suci pertama di Yerusalem, ia melakukannya setelah Tuhan telah “diberikan kepadanya hikmah.”

Nabi Yehezkiel menunjukkan rencana yang sangat rinci untuk Bait Allah Kedua,

“Dalam visi Ilahi” oleh orang “yang memiliki penampilan dari perunggu dan yang diselenggarakan di tangannya string berwarna kuning muda dan sebuah tongkat pengukur.”

Ur-Nammu, penguasa Ur, digambarkan dalam milenium sebelumnya bagaimana tuhannya, memerintahkan dia untuk membangun sebuah kuil untuknya dan memberinya petunjuk terkait, mengulurkan tongkat pengukur dan tali berguling untuk pekerjaan itu.

Seribu dua ratus tahun sebelum Musa, Gudea membuat pernyataan, yang sama.

Instruksi, ia tercatat dalam salah satu prasasti yang sangat panjang, yang diberikan kepadanya dalam visi. “Seorang pria yang bersinar seperti surga,” oleh pihak yang berdiri “burung ilahi,” “memerintahkan aku untuk membangun bait-Nya.” Orang ini “,” yang “dari mahkota di kepalanya jelas dewa,” kemudian diidentifikasi sebagai Ningirsu dewa.

Dengan dia adalah seorang dewi yang “memegang tablet bintang menguntungkan dirinya dari langit”; tangannya yang lain “mengadakan stylus suci,” yang ia ditunjukkan untuk Gudea “planet yang menguntungkan.” Orang ketiga, juga dewa, yang diselenggarakan di tangannya sebuah tablet batu mulia; “rencana candi di dalamnya.”

Salah satu patung Gudea menunjukkan dia duduk, dengan tablet ini di lututnya; pada tablet gambar ilahi jelas dapat dilihat.

Cerdik seperti dia, Gudea bingung dengan petunjuk arsitektur, dan ia mencari nasihat dari seorang dewi yang bisa menafsirkan pesan ilahi.

Dia menjelaskan kepadanya arti dari petunjuk, pengukuran rencana, dan ukuran dan bentuk batu bata yang akan digunakan. Gudea kemudian mempekerjakan seorang pawang “laki-laki, pembuat keputusan” dan pencari “rahasia perempuan” untuk menemukan situs, di pinggiran kota, di mana dewa ingin pelipisnya akan dibangun. Dia kemudian merekrut 216.000 orang untuk pekerjaan konstruksi.

bingung Gudea’s mudah dapat dipahami, karena-sederhana melihat “denah” seharusnya memberikan informasi yang diperlukan untuk membangun Ziggurat kompleks, naik tinggi oleh tujuh tahap. Menulis dalam Der Alte Timur pada tahun 1900, A-Billerbeck mampu menguraikan setidaknya bagian dari instruksi arsitektur ilahi.

Gambar kuno, bahkan pada sebagian patung yang rusak, disertai di bagian atas oleh kelompok-kelompok garis vertikal yang jumlahnya berkurang sebagai ruang antara mereka meningkat. Arsitek ilahi, tampaknya, mampu menyediakan, dengan rencana lantai satu, disertai oleh tujuh berbagai skala, petunjuk lengkap untuk pembangunan tahap tujuh-kuil bertingkat tinggi.

Dikatakan bahwa ‘perang taji Manusia untuk terobosan ilmiah dan material. Dalam Sumer kuno, tampaknya, konstruksi candi mendorong rakyat dan penguasa mereka menjadi prestasi teknologi yang lebih besar.

Kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan konstruksi sesuai dengan rencana utama arsitektur siap, untuk mengatur dan feed tenaga kerja yang besar, untuk meratakan tanah dan meningkatkan gundukan, untuk cetakan batu bata dan transportasi, untuk membawa logam langka dan bahan lain dari jauh, untuk logam timur dan bentuk peralatan dan ornamen – semua berbicara dengan jelas sebuah peradaban tinggi, sudah di mekar penuh di milenium ketiga SM

Sebagai ahli sebagai kuil Sumeria bahkan paling awal, namun mereka mewakili ujung gunung es dari lingkup dan kekayaan materi prestasi peradaban besar pertama dikenal Man.

Selain penemuan dan pengembangan menulis, tanpa peradaban tinggi yang tidak mungkin terjadi, Sumeria juga harus dikreditkan dengan ditemukannya percetakan. Millenia sebelum Johann Gutenberg “diciptakan” mencetak dengan menggunakan movable type, ahli-ahli Taurat Sumeria siap digunakan buatan “tipe” dari tanda-tanda berbagai piktografik, yang mereka digunakan sebagai kami sekarang menggunakan prangko karet untuk kesan urutan yang diinginkan dari tanda-tanda di tanah liat basah.

Mereka juga menemukan pendahulu kita menekan rotary – meterai silinder. Terbuat dari batu yang sangat keras, itu adalah sebuah silinder kecil ke yang pesan atau desain telah terukir di sebaliknya; setiap kali meterai itu berguling-guling di tanah liat basah, menanamkan menciptakan sebuah “positif” kesan pada tanah liat.

segel ini juga memungkinkan satu untuk menjamin keaslian dokumen, sebuah kesan baru dapat dibuat sekaligus untuk membandingkannya dengan kesan tua di dokumen.

Banyak catatan tertulis Sumeria dan Mesopotamia yang bersangkutan sendiri tidak harus dengan yang ilahi atau spiritual, tetapi dengan tugas-tugas sehari-hari seperti tanaman merekam, mengukur bidang, dan menghitung harga.

Memang, tidak ada peradaban tinggi akan mungkin terjadi tanpa sistem yang canggih paralel matematika.

Sistem Sumeria, disebut sexagesimal, menggabungkan 10 biasa dengan “surgawi” 6 untuk mendapatkan angka dasar 60. Sistem ini dalam beberapa hal lebih unggul dari yang sekarang kami dalam hal apapun, itu tidak diragukan lagi unggul untuk kemudian Yunani dan sistem Romawi. Ini memungkinkan Sumeria untuk membagi pecahan dan kalikan menjadi jutaan, untuk menghitung akar atau meningkatkan angka beberapa kekuasaan.

Ini bukan hanya sistem matematika pertama dikenal tapi juga salah satu yang memberi kita tempat “” konsep: Seperti halnya, dalam sistem desimal, 2 dapat 2 atau 20 atau 200, tergantung pada angka itu tempat, sehingga bisa sebuah Sumeria 2 berarti 2 atau 120 (2 x 60), dan seterusnya, tergantung pada tempat “.”

Lingkaran 360 derajat, kaki dan 12 perusahaan inci, dan selusin “” sebagai satu unit hanyalah beberapa contoh dari sisa-sisa matematika Sumeria masih terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

seiring prestasi mereka dalam astronomi, pembentukan kalender, dan prestasi matematika-langit yang sama akan menerima banyak belajar lebih dekat pada bab-bab mendatang.

Sama seperti sistem kita sendiri ekonomi dan sosial – buku-buku kami, pengadilan dan catatan pajak, kontrak komersial, sertifikat pernikahan, dan seterusnya – tergantung di atas kertas, Sumeria / Mesopotamia hidup bergantung pada tanah liat. Kuil, pengadilan, dan rumah-rumah perdagangan telah ahli-ahli Taurat mereka siap dengan tablet tanah liat basah yang untuk menuliskan keputusan, perjanjian, surat, atau menghitung harga, upah, area lapangan, atau jumlah batu bata yang dibutuhkan dalam konstruksi.

Clay juga bahan baku penting untuk pembuatan alat-alat untuk penggunaan sehari-hari dan kontainer untuk penyimpanan dan transportasi barang. Ini juga digunakan untuk membuat batu bata – lain “Sumeria pertama,” yang memungkinkan pembangunan rumah bagi rakyat, istana untuk raja, dan kuil-kuil megah untuk para dewa.

Sumeria dikreditkan dengan dua terobosan teknologi yang memungkinkan untuk menggabungkan ringan dengan kekuatan tarik untuk semua produk tanah liat: memperkuat dan menembak. arsitek modern telah menemukan bahwa beton bertulang, bahan bangunan sangat kuat, dapat dibuat dengan menuangkan semen ke dalam cetakan yang berisi batang besi; waktu lalu, Sumeria bata mereka memberikan kekuatan besar dengan mencampur tanah liat basah dengan alang-alang atau jerami cincang.

Mereka juga tahu bahwa produk-produk tanah liat dapat diberikan kekuatan tarik dan daya tahan dengan menembak mereka di sebuah tungku. pertama di dunia bangunan bertingkat tinggi dan lengkungan, serta keramik tahan lama, ini dimungkinkan oleh terobosan teknologi.

Penemuan tungku – tungku di mana suhu yang intens namun terkontrol dapat tercapai tanpa resiko mengkontaminasi produk dengan debu atau abu – dimungkinkan sebuah kemajuan teknologi yang lebih besar: Jaman Logam.

Telah diasumsikan bahwa manusia menemukan bahwa ia bisa palu “batu-batu lunak” – yang terjadi secara alami nugget emas serta tembaga dan perak senyawa – ke SM berguna atau bentuk menyenangkan, kadang-kadang sekitar 6000 The dipalu-artefak logam pertama ditemukan di dataran tinggi dari pegunungan Zagros dan Taurus.

Namun, sebagai RJ Forbes (The Old World Tempat lahir dari Metalurgi) mengatakan, “di Timur Dekat kuno, pasokan dari tembaga asli itu cepat lelah, dan penambang itu untuk berbelok ke bijih.” Hal ini diperlukan pengetahuan dan kemampuan untuk mencari dan mengekstrak biji besi, menghancurkan mereka, kemudian mencium dan memperbaiki mereka – proses yang tidak bisa dilakukan tanpa tungku-tungku jenis dan teknologi yang canggih umumnya.

Seni metalurgi segera mencakup kemampuan untuk paduan tembaga dengan logam lain, sehingga yang kami Castable, keras, tapi ditempa panggilan logam perunggu. Zaman Perunggu,, usia pertama metalurgi kami, juga merupakan kontribusi Mesopotamia untuk peradaban modern. Sebagian besar perdagangan kuno telah dikhususkan untuk perdagangan logam, tetapi juga membentuk dasar untuk pengembangan di Mesopotamia perbankan dan uang pertama – syikal perak (“ditimbang ingot”).

Banyak jenis logam dan paduan yang Sumeria dan Akkadia nama telah ditemukan dan terminologi yang luas membuktikan teknologi tingkat tinggi metalurgi di Mesopotamia kuno. Untuk sementara ini bingung para ulama karena Sumer, dengan demikian, adalah tanpa bijih logam, tapi metalurgi yang paling pasti mulai ada.

Jawabannya adalah energi. Peleburan, pemurnian, dan paduan, serta casting, tidak bisa dilakukan tanpa banyak pasokan bahan bakar ke api pembakaran, crucibles, dan tungku. Mesopotamia mungkin memiliki kekurangan biji besi, tapi itu bahan bakar yang berlimpah. Jadi Bijih dibawa ke bahan bakar, yang menjelaskan banyak prasasti yang menggambarkan awal membawa bijih logam dari jauh.

Bahan bakar yang membuat Sumer teknologi tertinggi yang bitumen dan aspal, minyak produk yang alami merembes sampai ke permukaan di banyak tempat di Mesopotamia. RJ Forbes (Bitumen dan Perminyakan dalam Kuno) menunjukkan bahwa deposito permukaan Mesopotamia adalah sumber utama dunia kuno bahan bakar dari zaman awal untuk era Romawi.

Kesimpulannya adalah bahwa penggunaan teknologi dari produk minyak bumi dimulai pada sekitar tahun 3500 SM Sumer, memang, ia menunjukkan bahwa penggunaan dan pengetahuan tentang bahan bakar dan sifat mereka yang lebih besar di masa peradaban Sumeria daripada di kemudian hari.

Jadi luas adalah penggunaan Sumeria dari produk ini minyak – tidak hanya sebagai bahan bakar tetapi juga sebagai bahan pembangunan jalan, untuk waterproofing, gala, lukisan, penyemenan, dan cetakan – bahwa ketika para arkeolog mencari Ur kuno mereka menemukannya terkubur dalam gundukan yang orang Arab lokal bernama “Gundukan Bitumen.” Forbes menunjukkan bahwa bahasa Sumeria memiliki persyaratan untuk setiap genus dan varian dari bahan aspal yang ditemukan di Mesopotamia.

Memang, nama-nama dan bahan aspal minyak dalam bahasa lain – Akkadia, Ibrani, Mesir, Koptik, Yunani, Latin, dan Sansekerta – jelas dapat ditelusuri ke asal Sumeria, misalnya, kata yang paling umum untuk minyak – Naphta – berasal dari napatu (“batu-batu yang menyala”).

Penggunaan produk minyak bumi Sumeria juga dasar untuk sebuah kimia lanjutan. Kita dapat menilai tingkat tinggi pengetahuan Sumeria tidak hanya oleh berbagai cat dan pigmen digunakan dan proses seperti kaca, tetapi juga oleh produksi buatan luar biasa dari batu semimulia, termasuk pengganti lapis lazuli.

Aspal juga digunakan dalam pengobatan Sumeria, lain bidang di mana standar itu mengesankan tinggi. Ratusan teks Akkadia yang telah ditemukan menggunakan istilah medis Sumeria dan frasa luas, menunjuk ke asal Sumeria seluruh obat Mesopotamia.

Perpustakaan Ashurbanipal di Niniwe memasukkan bagian medis. Teks-teks dibagi menjadi tiga kelompok – bultitu (“terapi”), shipir bel imti (“operasi”) dan mashmashshe urti (“perintah dan mantra”). Awal kode hukum termasuk bagian berurusan dengan biaya yang harus dibayar untuk ahli bedah untuk operasi sukses, dan hukuman yang akan dikenakan pada mereka dalam hal kegagalan: Seorang ahli bedah, dengan menggunakan pisau bedah untuk membuka kuil pasien, adalah kehilangan tangannya jika ia sengaja menghancurkan pasien mata.

Beberapa kerangka ditemukan di kuburan Mesopotamia dikenakan tanda cela dari operasi otak. Sebuah teks medis yang sebagian rusak berbicara tentang operasi pengangkatan bayangan “yang mencakup mata seorang pria,” mungkin katarak; teks lain menyebutkan penggunaan instrumen pemotongan, yang menyatakan bahwa “jika penyakit telah mencapai bagian dalam tulang, Anda akan mengikis dan menghapus. ”

orang sakit pada zaman Sumeria bisa memilih antara zu A. (“air dokter”) dan IA.ZU (“dokter minyak”). Sebuah tablet digali di Ur, hampir 5.000 tahun, nama seorang praktisi medis sebagai “Lulu, dokter.” Ada juga dokter hewan – dikenal baik sebagai “dokter lembu” atau sebagai “dokter keledai.”

Sepasang jepitan bedah digambarkan pada meterai silinder sangat awal, ditemukan di Lagash, milik “Urlugale-dina, dokter.” meterai juga menunjukkan ular di pohon – simbol obat untuk hari ini. Instrumen yang digunakan oleh bidan untuk memotong tali pusat juga sering digambarkan.

Sumeria teks medis menangani ke dalam diagnosis dan resep. Mereka tidak meninggalkan keraguan bahwa dokter Sumeria tidak memakai sihir atau ilmu sihir. Dia merekomendasikan pembersihan dan pencucian, perendaman dalam bak mandi air panas dan pelarut mineral; penerapan turunan nabati; menggosok dengan senyawa minyak bumi.

Obat dibuat dari tanaman dan senyawa mineral dan dicampur dengan cairan atau pelarut yang sesuai dengan metode aplikasi. Jika diambil oleh mulut, yang serbuk dicampur menjadi anggur, bir, atau madu, jika “dituangkan melalui dubur” – diberikan dalam enema – mereka dicampur dengan tanaman atau minyak sayur. Alkohol, yang memainkan peran penting dalam desinfeksi bedah dan sebagai dasar untuk obat-obatan banyak, mencapai bahasa kita melalui kohl Arab, dari kuhlu Akkadia.

Model hati menunjukkan obat yang diajarkan di sekolah-sekolah medis dengan bantuan model tanah liat organ tubuh manusia. Anatomi pasti ilmu lanjutan, untuk ritual kuil bernama untuk pembedahan rumit hewan kurban – hanya langkah dihapus dari pengetahuan yang sebanding anatomi manusia.

Beberapa gambaran di segel silinder atau tablet tanah liat menunjukkan orang berbaring pada beberapa jenis meja bedah, dikelilingi oleh tim dewa atau orang. Kita tahu dari epos dan teks heroik lainnya yang Sumeria dan pengganti mereka di Mesopotamia yang peduli dengan masalah hidup, sakit, dan kematian. Orang-orang seperti Gilgames, seorang raja Erech, mencari “Pohon Kehidupan” atau mineral (batu “”) yang dapat memberikan pemuda kekal.

Ada juga referensi untuk upaya untuk membangkitkan orang mati, terutama jika mereka kebetulan dewa:

Setelah mayat itu, tergantung dari tiang,
mereka diarahkan Gelombang dan Radiance;
Enam puluh kali Air Kehidupan,
Enam puluh kali Makanan Kehidupan,
mereka menaburkan di atasnya;
Dan Inanna muncul.

Apakah beberapa metode ultra modern, tentang apa yang kita hanya bisa berspekulasi, dikenal dan digunakan dalam upaya kebangkitan seperti itu?

Bahwa bahan-bahan radioaktif yang dikenal dan digunakan untuk mengobati penyakit tertentu jelas disarankan oleh satu scene perawatan medis digambarkan pada meterai silinder berasal awal peradaban Sumeria.

Ini menunjukkan, tanpa pertanyaan, seorang pria terbaring di tempat tidur khusus; wajahnya dilindungi oleh topeng, dan ia sedang mengalami beberapa jenis radiasi.

Salah satu prestasi awal Sumer’s material pengembangan industri tekstil dan pakaian.

kita sendiri Revolusi Industri dianggap telah dimulai dengan diperkenalkannya mesin tenun spinning dan di Inggris pada 1760-an. Sebagian besar negara berkembang menginginkan sejak untuk mengembangkan industri tekstil sebagai langkah pertama menuju industrialisasi. Bukti-bukti menunjukkan bahwa ini telah proses tidak hanya sejak abad kedelapan belas tapi sejak peradaban manusia pertama besar.

Manusia tidak bisa membuat kain tenunan sebelum munculnya pertanian, yang memberinya rami, dan domestikasi hewan, menciptakan sumber untuk wol. Grace M. Crowfoot (Tekstil, keranjang dan Mats dalam Kuno) ex-menekan skolastik konsensus dengan menyatakan bahwa menenun tekstil muncul pertama di Mesopotamia, sekitar 3800 SM

Sumer, apalagi, terkenal di zaman kuno tidak hanya untuk kain tenunan-nya, tetapi juga untuk pakaian nya. Kitab Yosua (7:21) melaporkan bahwa selama penyerbuan Yerikho orang tertentu tidak dapat menahan godaan untuk tetap “yang baik lapisan Shin’ar,” yang telah ditemukan di kota itu, meskipun hukuman adalah kematian . Jadi yang sangat berharga adalah pakaian Sinear (Sumer), bahwa orang-orang bersedia mengambil risiko hidup mereka untuk mendapatkan mereka.

Sebuah istilah yang kaya sudah ada di zaman Sumeria untuk menggambarkan kedua item pakaian dan pembuat mereka. Pakaian dasar disebut TUG – tanpa keraguan, pelopor dalam gaya serta nama toga Romawi.

pakaian seperti itu TUG.TU.SHE, yang pada Sumeria berarti “pakaian yang dikenakan melilit.”

Penggambaran kuno tidak hanya mengungkapkan suatu varietas yang mengagumkan dan kemewahan dalam hal pakaian, tapi juga elegan, di mana selera bagus dan koordinasi antara pakaian, tata rambut, hiasan kepala, dan perhiasan menang.

Prestasi lain Sumeria utama adalah pertanian. Dalam suatu negeri dengan hanya hujan musiman, sungai-sungai yang didaftarkan untuk tanaman air sepanjang tahun melalui sistem besar saluran irigasi.

Mesopotamia – Tanah Antara Rivers – adalah keranjang makanan benar di zaman kuno.

Pohon aprikot, kata Spanyol untuk yang damasco (“Damaskus pohon”), bears armeniaca nama Latin, sebuah loanword dari armanu Akkadia. The cherry – kerasos dalam bahasa Yunani, Kirsche di Jerman – berasal dari karshu Akkadia. Semua bukti menunjukkan bahwa ini dan lain buah-buahan dan sayuran mencapai Eropa dari Mesopotamia.

Begitu pula banyak bibit khusus dan rempah-rempah: kunyit kata kami berasal dari azupiranu Akkadia, crocus dari kurkanu (melalui krokos dalam bahasa Yunani), jinten dari kamanu, hisop dari zupu, mur dari murru. Daftar ini panjang, dalam banyak kasus, Yunani menyediakan jembatan fisik dan etimologis dimana produk ini dari tanah mencapai Eropa.

Bawang, lentil, kacang-kacangan, ketimun, kubis, dan selada adalah bahan umum diet Sumeria.

Apa yang sama-sama mengesankan adalah luas dan berbagai metode kuno Mesopotamia persiapan makanan, masakan mereka. Teks dan gambar mengkonfirmasi pengetahuan Sumeria mengubah sereal mereka telah tumbuh menjadi tepung, dari mana mereka membuat berbagai macam roti beragi dan tidak beragi, Bubur, kue kering, kue, dan biskuit.

Barley juga difermentasi untuk menghasilkan bir; “manual teknis” untuk produksi bir telah ditemukan di antara teks-teks. Anggur diperoleh dari anggur dan dari kurma. Susu yang tersedia dari domba, kambing, dan sapi, melainkan digunakan sebagai minuman, untuk memasak, dan untuk mengubah menjadi yoghurt, mentega, krim, dan keju. Ikan merupakan bagian umum dari makanan. Kambing sudah tersedia, dan daging babi, yang cenderung Sumeria di kawanan besar, dianggap benar lezat. Angsa dan bebek mungkin telah disediakan untuk tabel para dewa ‘.

Teks-teks kuno tidak meninggalkan keraguan bahwa haute cuisine Mesopotamia kuno yang dikembangkan di kuil-kuil dan dalam pelayanan para dewa.

Salah satu teks yang ditentukan menawarkan kepada dewa-dewa,

“Roti roti jelai … emmer roti, pasta dari madu dan krim, tanggal, kue kering … bir, anggur, susu … cedar getah, krim.”

Daging panggang ditawarkan dengan libations dari “bir prima, anggur, dan susu.”

Pemotongan khusus banteng disiapkan sesuai dengan resep yang ketat, yang menyerukan “tepung … dibuat ke adonan di air, bir prima, dan anggur,” dan dicampur dengan lemak hewani, “bahan aromatik yang terbuat dari hati tanaman , “kacang-kacangan, malt, dan rempah-rempah. Petunjuk untuk “korban harian kepada para dewa kota Uruk” dipanggil untuk melayani lima minuman yang berbeda dengan makanan, dan ditetapkan apa yang “pabrik di dapur” dan “koki bekerja di palung adonan” harus dilakukan.

kekaguman kami untuk seni kuliner Sumeria pasti tumbuh sebagai kita menemukan puisi yang menyanyikan pujian makanan yang halus. Memang, apa yang bisa seseorang mengatakan ketika seseorang membaca resep milenium-tua untuk “coq au vin”:

Dalam anggur minum, air beraroma Dalam, Dalam minyak pemberian minyak suci – burung ini telah saya memasak, dan dimakan.

Sebuah ekonomi yang berkembang, masyarakat dengan perusahaan seperti materi yang luas tidak dapat berkembang tanpa sistem transportasi yang efisien. Sumeria menggunakan dua mereka sungai besar dan jaringan buatan kanal untuk transportasi melalui air orang, barang, dan ternak. Beberapa penggambaran awal menunjukkan apa yang diragukan lagi perahu pertama di dunia.

Kita tahu dari teks-teks awal banyak bahwa Sumeria juga terlibat dalam pelayaran air dalam, menggunakan berbagai kapal untuk mencapai tanah jauh dalam pencarian logam, kayu langka dan batu, dan bahan lainnya yg tak dpt diperoleh di Sumer yang tepat. Sebuah kamus bahasa Akkadia Sumeria ditemukan berisi bagian tentang pengiriman, daftar istilah 105 Sumeria untuk berbagai kapal dengan ukuran mereka, tujuan, atau tujuan (untuk kargo, penumpang, atau untuk digunakan oleh para dewa tertentu).

69 istilah lain Sumeria terhubung dengan mengembangkan dan konstruksi kapal yang diterjemahkan ke dalam bahasa Akkadia. Hanya tradisi pelayaran yang panjang bisa diproduksi khusus seperti kapal dan istilah teknis.

Untuk transportasi darat, roda pertama kali digunakan di Sumer.

Its penemuan dan dimasukkan kedalam kehidupan sehari-hari memungkinkan berbagai kendaraan, dari kereta ke kereta, dan tidak ada keraguan juga diberikan Sumer memiliki perbedaan yang pertama menggunakan “kekuatan lembu” serta “daya kuda” untuk bergerak.

Pada tahun 1956 Profesor Samuel N. Kramer, salah satu Sumerologists besar waktu kita, mengkaji warisan sastra yang ditemukan di bawah gundukan Sumer.

Daftar isi dari Dari Tablet dari Sumer adalah permata itu sendiri, untuk setiap satu dari dua puluh lima bab menggambarkan sebuah Sumeria “pertama,” termasuk sekolah pertama, kongres dua kamar pertama, sejarawan pertama, farmakope pertama, almanak “pertama petani,” yang kosmogoni pertama dan kosmologi, yang “pertama Ayub,” yang pertama amsal dan nasihat, debat sastra pertama, “pertama Nuh,” katalog perpustakaan pertama dan pertama Man’s Heroic Age, hukum pertama kode dan reformasi sosial, obat pertama, pertanian, dan mencari perdamaian dunia dan harmoni.

Ini tidak berlebihan.

Sekolah pertama didirikan di Sumer sebagai hasil langsung dari penemuan dan pengenalan menulis. Bukti (baik arkeologi, seperti bangunan sekolah yang sebenarnya, dan tertulis, seperti tablet latihan) menunjukkan adanya sebuah sistem pendidikan formal pada awal milenium ketiga SM

Ada ribuan ahli Taurat di Sumer, mulai dari penulis junior untuk ahli-ahli Taurat yang tinggi, juru tulis kerajaan, juru tulis Bait Allah, dan ahli-ahli Taurat yang beranggapan kantor tinggi negara. Beberapa bertindak sebagai guru di sekolah, dan kita masih bisa membaca esai mereka di sekolah, tujuan mereka dan tujuan, kurikulum dan metode pengajaran.

Sekolah-sekolah tidak hanya mengajarkan bahasa dan menulis, tetapi juga ilmu-ilmu hari – botani, zoologi, geografi, matematika, dan teologi. Karya sastra masa lalu dipelajari dan disalin, dan yang baru disusun.

Sekolah-sekolah itu dipimpin oleh ummia itu (“profesor ahli”), dan fakultas selalu meliputi tidak hanya orang “yang bertanggung jawab gambar” dan orang “yang bertanggung jawab atas Sumeria,” tetapi juga orang “yang bertanggung jawab dari cambuk. ” Rupanya, disiplin ketat; salah satu alumnus sekolah dijelaskan di atas tablet tanah liat bagaimana dia telah hilang dicambuk untuk sekolah, untuk kerapian tidak cukup, untuk berkeliaran, karena tidak berdiam diri, karena nakal, dan bahkan untuk tidak memiliki tulisan tangan rapi.

Sebuah puisi epik berurusan dengan sejarah Erech keprihatinan sendiri dengan persaingan antara Erech dan kota-negara dari Kish. Teks epik berkaitan bagaimana utusan dari Kish melanjutkan Erech, menawarkan penyelesaian damai sengketa mereka. Tetapi penguasa Erech pada saat, Gilgames, lebih suka melawan daripada bernegosiasi.

Yang menarik adalah bahwa ia harus menempatkan masalah ini ke pemungutan suara di Majelis para penatua, para lokal “Senat”:

The Lord Gilgames,
Sebelum para tua-tua kota itu menempatkan masalah ini,
Mencari keputusan:
“Mari kita tidak menyerahkan ke rumah Kish,
mari kita memukul dengan senjata. ”

Majelis para penatua itu, namun, untuk negosiasi. Gentar, Gilgames membawa hal tersebut kepada orang-orang muda, majelis Men Fighting, yang memilih perang. Arti penting dari kisah tersebut terletak pada pengungkapannya Sumeria bahwa seorang penguasa harus menyerahkan masalah perang atau damai ke Kongres bikameral Pertama, sekitar 5.000 tahun yang lalu.

Judul Sejarahwan Pertama diberikan kepada oleh Kramer pada Entemena, raja Lagash, yang direkam pada silinder liat perang dengan Umma tetangga. Sementara teks-teks lain karya sastra atau puisi epik yang tema adalah peristiwa sejarah, prasasti oleh Entemena adalah prosa lurus, ditulis hanya sebagai catatan sejarah faktual.

Karena prasasti Asyur dan Babel telah diuraikan dengan baik sebelum catatan Sumeria, itu panjang percaya bahwa kode pertama undang-undang disusun dan ditetapkan oleh sekitar raja Hammurabi, Babilonia 1900 SM Tapi sebagai peradaban Sumer itu ditemukan, menjadi jelas bahwa “pengalaman pertama” untuk sistem hukum, untuk konsep tatanan sosial, dan untuk administrasi keadilan wajar milik Sumer.

Nah sebelum Hammurabi, seorang penguasa Sumeria negara-kota Eshnunna (timur laut Babel) dikodekan hukum yang menetapkan harga maksimum untuk makanan dan untuk penyewaan gerobak dan perahu sehingga masyarakat miskin tidak bisa tertindas. Ada juga hukum berurusan dengan pelanggaran terhadap orang dan harta benda, dan peraturan yang berkaitan dengan masalah keluarga dan untuk menguasai – hubungan hamba.

Bahkan sebelumnya, kode diresmikan oleh Lipit-Ishtar, seorang penguasa dari Isin. Tiga puluh delapan hukum yang tetap terbaca pada sebagian tablet diawetkan (salinan dari asli yang terukir pada tugu batu) berurusan dengan real estate, budak dan hamba, perkawinan dan warisan, pengangkatan kapal, sewa sapi, dan lalai dalam pajak.

Seperti yang dilakukan oleh Hammurabi setelah dia, Lipit-Ishtar dijelaskan dalam prolog untuk kode bahwa ia bertindak atas instruksi dari “para dewa besar,” yang telah memerintahkan dia “untuk membawa kesejahteraan ke Sumeria dan Akkadians.”

Namun bahkan Lipit-Ishtar bukan encoder hukum pertama Sumeria. Fragmen tablet tanah liat yang telah ditemukan mengandung salinan hukum dikode oleh Urnammu, seorang penguasa dari sekitar 2350 SM Ur – Lebih dari setengah milenium sebelum Hammurabi.

Undang-undang, diundangkan pada otoritas Nannar dewa, yang ditujukan untuk menghentikan dan menghukum “dengan tangan-tangan-lembu warga ‘, domba, dan keledai” sehingga “anak yatim tidak akan menjadi mangsa orang kaya, janda tidak akan menjadi mangsa yang berkuasa, orang satu syikal tidak akan menjadi mangsa orang dari 60 syikal, “Urnammu juga menetapkan” bobot jujur dan tidak dapat diubah dan pengukuran. ”

Namun sistem hukum Sumeria, dan penegakan keadilan, kembali bahkan lebih jauh lagi dalam waktu.

Dengan 2600 sebelum Masehi begitu banyak yang sudah pasti terjadi di Sumer bahwa Urukagina ENSI merasa perlu untuk mengadakan reformasi. Sebuah prasasti yang panjang oleh-Nya telah dipanggil oleh sarjana catatan berharga reformasi pertama sosial manusia berdasarkan rasa kebebasan, kesetaraan, dan keadilan – Revolusi “Perancis” yang dikenakan oleh raja 4.400 tahun sebelum 14 Juli 1789.

Keputusan reformasi Urukagina terdaftar kejahatan waktu pertama, maka reformasi. Kejahatan terdiri terutama dari penggunaan yang tidak adil oleh pengawas kekuasaan mereka untuk mengambil yang terbaik untuk dirinya, penyalahgunaan status resmi, sedangkan pemerasan harga tinggi oleh kelompok monopoli.

Semua ketidakadilan tersebut, dan banyak lagi, yang dilarang oleh dekrit reformasi. Seorang pejabat tidak bisa lagi menetapkan harga sendiri “untuk seekor keledai yang baik atau rumah.” Seorang pria “besar” tidak bisa lagi memaksa seorang warga negara biasa. Hak-hak, buta miskin, janda, dan yatim piatu telah disajikan kembali. Seorang wanita yang bercerai – hampir 5.000 tahun yang lalu – telah diberikan perlindungan hukum.

Sudah berapa lama peradaban Sumeria ada bahwa itu diperlukan suatu reformasi besar? Jelas, waktu yang lama, untuk Urukagina mengklaim bahwa itu miliknya Ningirsu dewa yang dipanggil dia “untuk mengembalikan dekrit mantan hari.” Implikasi yang jelas adalah bahwa kembali ke sistem bahkan lebih tua dan undang-undang sebelumnya dipanggil untuk.

Hukum Sumeria yang ditegakkan oleh sistem peradilan di mana proses dan penilaian serta kontrak dengan teliti dicatat dan disimpan. Hakim bertindak lebih seperti juri dari hakim; pengadilan biasanya terdiri dari tiga atau empat hakim, salah satunya adalah seorang hakim “profesional kerajaan” dan yang lain diambil dari sebuah panel tiga puluh enam orang.

Sementara Babel membuat aturan dan peraturan yang berlaku, Sumeria prihatin dengan keadilan, karena mereka percaya bahwa para dewa menunjuk raja terutama untuk menjamin keadilan di negeri ini.

Lebih dari satu paralel dapat ditarik di sini dengan konsep keadilan dan moralitas dari Perjanjian Lama. Bahkan sebelum Ibrani itu raja, mereka diperintah oleh hakim; raja dinilai tidak oleh penaklukan mereka atau kekayaan melainkan oleh sejauh mana mereka “melakukan hal yang benar.” Dalam agama Yahudi, Tahun Baru menandai periode sepuluh hari di mana perbuatan manusia ditimbang dan dievaluasi untuk menentukan nasib mereka di tahun mendatang.

Mungkin lebih dari suatu kebetulan bahwa Sumeria percaya bahwa dewa bernama Nanshe Manusia dinilai setiap tahun dengan cara yang sama, setelah semua, para patriark Ibrani pertama – Abraham – berasal dari kota Ur Sumeria, kota Ur-Nammu dan nya kode.

Perhatian Sumeria dengan keadilan atau tidak adanya perusahaan juga menemukan ekspresi dalam apa Kramer yang disebut “Job yang pertama ””. Pencocokan bersama fragmen tablet tanah liat di Museum of Antiquities Istanbul, Kramer mampu membaca bagian yang baik dari sebuah puisi Sumeria yang, Buku Alkitab seperti Ayub, berurusan dengan keluhan orang-orang benar yang, bukannya diberkati oleh para dewa, adalah dibuat menderita segala macam kerugian dan tidak hormat. “Kata orang benar saya telah berubah menjadi dusta,” teriak dia dalam kesedihan.

Dalam bagian kedua, petisi penderita anonim tuhannya dengan cara yang mirip dengan beberapa ayat dalam Mazmur Ibrani:

My god, Anda yang ayah saya, yang. melahirkan saya –mengangkat wajahku …. Berapa lama Anda akan mengabaikan aku, tinggalkan aku tanpa pelindung … tinggalkan aku tanpa bimbingan?
Kemudian diikuti suatu akhir yang bahagia. “Kata-kata benar, murni kata-kata yang diucapkan oleh dia, nya diterima tuhan; … tuhannya menarik tangannya dari pengumuman jahat.”
Kitab sebelumnya Alkitab Pengkhotbah oleh beberapa dua milenium, peribahasa Sumeria banyak menyampaikan konsep yang sama dan lelucon.
Jika kita ditakdirkan untuk mati – mari kita belanjakan; Jika kita akan hidup lama – mari kita simpan.
Ketika seorang miskin mati, jangan mencoba untuk menghidupkan kembali padanya.
Dia yang memiliki banyak perak, mungkin dengan senang hati; Dia yang memiliki barley banyak, mungkin dengan senang hati; Tapi siapa yang tidak ada sama sekali, bisa tidur!
Manusia: Untuk kesenangan-Nya: Pernikahan; Pada Nya memikirkannya: Perceraian.
Bukan hati yang mengarah ke permusuhan, itu adalah lidah yang mengarah ke permusuhan.
Di sebuah kota tanpa pengawas, rubah adalah pengawas.

Bahan dan prestasi spiritual dari peradaban Sumeria juga disertai dengan pengembangan yang luas dari seni pertunjukan.

Sebuah tim ilmuwan dari University of California di Berkeley membuat berita Maret 1974 ketika mereka mengumumkan bahwa mereka telah memecahkan lagu tertua di dunia.

Apa profesor Richard L. Crocker, Anne D. Kilmer, dan Robert R. Brown dicapai adalah untuk membaca dan benar-benar memainkan not musik yang ditulis pada tablet runcing dari sekitar 1800 SM, ditemukan di Ugarit di pantai Mediterania (sekarang di Suriah).

“Kami selalu tahu,” tim Berkeley menjelaskan, “bahwa (di sini musik di Assyrio-Babel peradaban sebelumnya, tetapi sampai mengartikan ini kita tidak tahu bahwa mereka memiliki skala diatonis heptatonic-sama yang menjadi ciri dari musik Barat kontemporer, dan musik Yunani dari milenium pertama SM ”

Sampai sekarang orang menganggap bahwa musik Barat berasal di Yunani, sekarang telah ditetapkan bahwa musik kami – sebagai banyak hal lain peradaban Barat – berasal dari Mesopotamia.

Hal ini seharusnya tidak mengherankan, untuk sarjana Yunani Philo sudah kaku bahwa Mesopotamians dikenal untuk “mencari harmoni di seluruh dunia dan serempak melalui nada musik.”

Tidak ada keraguan bahwa musik dan lagu juga harus diklaim sebagai “Sumeria pertama.” Memang, Profesor Crocker bisa memainkan lagu kuno hanya dengan membangun sebuah kecapi seperti yang telah ditemukan di reruntuhan Ur.

Teks dari milenium kedua sebelum Masehi menunjukkan adanya musik “angka kunci” dan teori musik koheren; dan Profesor Kilmer dirinya tulis sebelumnya (The Strings dari Alat Musik: Nama mereka, Bilangan dan Signifikansi) bahwa banyak teks himne Sumeria telah “apa yang tampak sebagai notasi musik dalam margin. ” “Bangsa Sumeria dan pengganti mereka memiliki kehidupan musik penuh,” kata dia.

Tidak heran, kemudian, bahwa kita menemukan berbagai macam alat musik – serta penyanyi dan penari melakukan – digambarkan di segel silinder dan tablet tanah liat.

Seperti banyak prestasi Sumeria lain, musik dan lagu juga berasal dari kuil-kuil. Tapi, mulai dalam pelayanan para dewa, seni pertunjukan ini segera juga lazim di luar kuil.

Mempekerjakan drama favorit Sumeria pada kata-kata, ungkapan populer Komentar tentang biaya yang dikenakan oleh penyanyi:

“Seorang penyanyi yang suaranya tidak manis adalah ‘miskin’ memang penyanyi.”

Banyak lagu-lagu cinta Sumeria telah ditemukan, dan mereka pasti dinyanyikan iringan musik. Kebanyakan menyentuh, bagaimanapun, adalah lagu nina-bobok yang terdiri seorang ibu dan menyanyi untuk anak sakit:

Ayo tidur, datang tidur, datang kepada anakku.
Cepat tidur untuk anak saya;
Pasang tidur mata gelisah itu. …
Anda kesakitan, Anakku;
Aku bermasalah, aku terpana,
Aku memandang ke bintang-bintang.
Bulan baru bersinar di atas wajah Anda;
bayangan Anda akan meneteskan air mata untuk Anda.
Lie, berbaring dalam tidurmu ….

Semoga dewi pertumbuhan menjadi sekutu Anda;

Semoga Anda memiliki wali fasih di surga;

Semoga Anda mencapai masa pemerintahan hari bahagia ….

Mungkin istri akan mendukung Anda;

Mungkin akan banyak anak masa depan Anda.

Apa yang mengejutkan tentang musik dan lagu-lagu tersebut tidak hanya pada kesimpulan bahwa Sumer adalah sumber musik Barat dalam struktur dan komposisi yang harmonis.

Tak kalah penting adalah kenyataan bahwa ketika kita mendengar musik dan membaca puisi, mereka tidak terdengar aneh atau asing sama sekali, bahkan dalam kedalaman perasaan dan sentimen mereka. Memang, sementara kita merenungkan peradaban Sumeria besar, kami menemukan bahwa tidak hanya moral dan rasa keadilan kita, hukum kita dan arsitektur dan seni dan teknologi yang berakar pada Sumer, tetapi lembaga Sumeria yang begitu akrab, begitu dekat. Pada jantung, tampaknya, kita semua Sumeria.

Setelah penggalian di Lagash, sekop arkeolog yang menemukan Nipper, pusat keagamaan mantan dari Sumer dan Akkad. Dari 30.000 teks ditemukan di sana, masih banyak dipelajari untuk hari ini.

Pada Shuruppak, schoolhouses berasal milenium ketiga SM ditemukan. Di Ur, para sarjana menemukan vas yang megah, perhiasan, senjata, kereta, helm yang terbuat dari emas, perak, tembaga, dan perunggu, sisa-sisa pabrik tenun, pengadilan catatan – Ziggurat menjulang dan reruntuhan yang masih mendominasi pemandangan.

Pada Eshnunna dan Adab para arkeolog menemukan kuil-kuil dan patung-patung seni dari zaman pra-Sargonic. Umma dihasilkan prasasti berbicara tentang kerajaan awal. Pada bangunan-bangunan monumental Kish dan Ziggurat dari sekitar 3000 SM digali.

Uruk (Erech) mengambil arkeolog kembali ke milenium keempat SM Di sana mereka menemukan gerabah berwarna pertama dipanggang di sebuah tungku, dan bukti penggunaan pertama dari roda tembikar. Sebuah trotoar blok batugamping adalah konstruksi batu tertua yang ditemukan sampai saat ini. Pada Uruk para arkeolog juga menemukan Ziggurat pertama – gundukan buatan yang luas, di atas mana berdiri sebuah kuil putih dan sebuah kuil merah. teks pertama di dunia tulisan juga ditemukan di sana, serta segel silinder pertama.

Yang terakhir, Jack Finegan (Light dari Masa Lalu Kuno) berkata,

“Keunggulan dari ketujuh meterai itu pada penampilan pertama mereka pada periode Uruk luar biasa.”

Situs-situs Lain bukti periode beruang Uruk dari munculnya Zaman Logam.

Pada tahun 1919, HR Hall menemukan reruntuhan kuno di sebuah desa sekarang disebut El-Ubaid.

Situs ini memberi nama untuk apa sarjana sekarang mempertimbangkan tahap pertama dari peradaban Sumeria besar. kota Sumeria periode yang – mulai dari Mesopotamia utara ke selatan kaki Zagros – menghasilkan penggunaan pertama dari batu bata tanah liat, menempel dinding, dekorasi mosaik, kuburan dengan batu bata berlapis kuburan, dicat dan dihiasi keramik dengan desain geometris, cermin tembaga, manik-manik dari pirus impor, cat untuk kelopak mata, tembaga berkepala “tomahawks,” kain, rumah, dan, di atas semua, bangunan candi yang monumental.

Lebih ke selatan, para arkeolog menemukan Eridu – Sumeria kota pertama, menurut teks-teks kuno. Sebagai ekskavator menggali lebih dalam, mereka tiba di sebuah kuil didedikasikan untuk enki, Sumer’s Allah Pengetahuan, yang tampaknya telah dibangun dan dibangun kembali berkali-kali.

Strata jelas memimpin para sarjana kembali ke awal dari peradaban Sumeria: 2500 SM, 2800 SM, 3000 SM, 3500 SM

Lalu sekop menemukan fondasi candi pertama yang didedikasikan untuk Enki.

Di bawah itu, ada tanah perawan – apa-apa telah dibangun sebelumnya. Saat itu sekitar tahun 3800 sebelum Masehi Saat itulah peradaban dimulai.

Bukan hanya peradaban pertama dalam arti sebenarnya dari istilah tersebut. Itu adalah peradaban yang paling luas, mencakup-semua, dalam banyak hal lebih maju dibandingkan dengan budaya kuno lain yang mengikutinya. Hal itu jelas peradaban yang kita sendiri didasarkan.

Setelah mulai menggunakan batu sebagai alat beberapa 2.000.000 tahun sebelumnya, Man dicapai peradaban ini belum pernah terjadi sebelumnya di sekitar 3800 SM Sumer Dan kenyataan membingungkan tentang ini adalah bahwa sampai hari ini para ulama memiliki firasat tidak siapa Sumeria itu, dari mana mereka berasal, dan bagaimana dan mengapa peradaban mereka muncul.

Untuk tampilan tiba-tiba, tak terduga, dan entah dari mana.

H. Frankfort (Katakan Uqair) menyebutnya “mengagumkan.” Pierre Amiet (Elam) istilahnya “luar biasa.” A. Parrot (Sumer) menggambarkannya sebagai “nyala api yang dirintisnya sampai begitu tiba-tiba.” Leo Oppenheim (Mesopotamia Kuno) menekankan “periode luar biasa singkat” di mana peradaban ini telah muncul.

Joseph Campbell (The Masker Allah) menyimpulkan dalam cara ini:

“Dengan keterjalan yang menakjubkan … ada muncul dalam lumpur taman kecil Sumeria … sindrom seluruh budaya yang merupakan unit sejak germinal dari semua peradaban tinggi dunia.”

Kembali ke Daftar Is



Older Entries