1. Pendahuluan
Sayuran dalam kehidupan manusia sangat berperan dalam pemenuhan
kebutuhan pangan dan peningkatan gizi, karena sayuran merupakan salah satu
sumber mineral dan vitamin yang sangat dibutuhkan manusia. Konsumsi sayuran
pada saat ini sudah mulai meningkat, karena mulai adanya kesadaran bahwa
dengan mengkonsumsi sayuran berarti hidup akan bertambah sehat (Nugrohati dan
Untung, 1986).
Kacang panjang merupakan salah satu sayuran yang sangat digemari oleh
berbagai kalangan masyarakat dengan jumlah produksi yang cukup besar. Sayuran
kacang panjang juga mudah diperoleh di pasar tradisional maupun pasar swalayan.
Bali dengan luas panen kacang panjang sebesar 1.017 Ha, produksinya mencapai
2.466 ton, yang merupakan penghasil kacang panjang yang cukup besar di
Indonesia (Anonim, 2003a).
Kebanyakan (54 %) kacang panjang dijual di pasar tradisional yang ada di
kota Denpasar berasal dari Kabupaten Tabanan. Produksi kacang panjang terbanyak
(76 %) terdapat di Kabupaten Tabanan dengan luas panen 246 Ha dan hasil
produksi 1.884 ton (Anonim, 2003b). Produksi kacang panjang di Kecamatan
Tabanan, Kabupaten Tabanan yaitu sebesar 776 kuintal dan luas tanam kacang
panjang 52 Ha. Hasil produksi itu merupakan data produksi komoditi kacang
panjang Tahun 2003 (Anonim, 2004).
Salah satu kendala yang dihadapi di dalam budidaya tanaman kacang
panjang adalah masalah hama, terutama hama penggerek polong (Maruca
testulasis), tungau merah (Tetranychus bimaculatus) dan kutu daun (Aphistavaresi).
3
Ketiga hama ini umumnya menyerang pada musim kemarau dan bila tidak
dilakukan usaha pengendalian hama, maka tanaman sayuran menjadi tidak
produktif, bahkan dapat gagal panen (Sunarjono, 2003).
Salah satu usaha agar produktivitas sayuran dapat ditingkatkan diperlukan
tindakan dalam pengendalian hama dan penanganan pasca panen yang efektif dan
efisien. Metode pengendalian hama yang digunakan oleh petani sayuran adalah
perlakuan dengan pestisida. Pestisida dianggap sebagai produk yang mudah
diterapkan, tersedia dengan mudah di tingkat petani, dan secara ekonomis sangat
menguntungkan. Pada umumnya pestisida yang dipergunakan adalah jenis
pestisida yang tergolong insektisida organofosfat dan karbamat. Permasalahan di
lokasi biasanya berkisar tentang dosis insektisida yang dipergunakan untuk menyemprot
hama dan berapa kadar residu yang terdapat pada polong kacang panjang pada saat
panen.
2. Metode Penelitian
2.1 Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Tabanan, Bali. Kabupaten Tabanan
yang mempunyai luas wilayah 839,33 km2 atau 14,90 % dari luas Propinsi Bali
(5.632,86 Km2). Kabupaten Tabanan memiliki 24 desa di Kecamatan Selemadeg,
15 desa di Kecamatan Kerambitan, 11 desa di Kecamatan Tabanan, 15 desa di
Kecamatan Kediri, 12 desa di Kecamatan Marga, 12 desa di Kecamatan Baturiti,
17 desa di Kecamatan Penebel dan 11 desa di Kecamatan Pupuan (Anonim,
2003b). Analisis residu insektisida Sidazinon dilaksanakan di Laboratorium
Forensik, Poltabes Denpasar.
4
Tabel 2.1
Luas tanam dan produksi kacang panjang di Bali (2003) dan Tabanan (2003)
Kacang Panjang Luas Tanam (Ha) Produksi (ton/ Ha)
Bali (2003)
Tabanan (2003)
1.017
246
2,42
7,66
Sumber : Anonim, 2003a dan Anonim 2003b
2.2 Penentuan Sampel
Pengambilan sampel dilakukan di Kecamatan Tabanan dengan luas tanam
52 Ha, luas panen 48 Ha dan produksi kacang panjang sebesar 776 (Kw). Untuk
pemilihan desa di Kecamatan Tabanan dicari 10 % dari jumlah desa yang ada.
Pengambilan sampel petani di desa disesuaikan dengan luas lahan yang dimiliki,
sebanyak 10 % dari luas lahan kacang panjang di desa bersangkutan. Di
Kecamatan Tabanan dengan luas lahan 52 Ha (10 %), sampel yang diambil
dengan lahan 5,2 Ha dari lima petani kacang panjang. Berdasarkan atas hasil
pengamatan dan penjelasan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, desa
Tunjuk Selatan merupakan desa penghasil kacang panjang terbanyak di Kecamatan
Tabanan, sehingga desa Tunjuk Selatan merupakan desa tempat pengambilan sampel
kacang panjang.
Pengambilan sampel kacang panjang di kebun diambil dari tepi luar (yang
berhadapan dengan jalan), tengah dan tepi dalam yang diambil ± 0,5 kg (pada
setiap tepi) dari setiap lahan petani. Selama perjalanan ke laboratorium untuk
analisis kimia, sampel tersebut ditempatkan pada tempat/ toples plastik yang ditutup
rapat. Pengambilan sampel dilakukan dua kali yakni pada awal panen dan
pertengahan panen. Analisis residu insektisida Sidazinon dilakukan satu kali pada
5
setiap sampel. Penentuan sampel (petani kacang panjang) dilakukan dengan cara
proportional dan purposive sampling (Hadi, 1976). Untuk mengetahui tentang
penggunaan pestisida dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kacang panjang pada
masing-masing petani di tiap Kecamatan, para petani diberikan kuesioner.
2.3 Analisis Laboratorium
Bahan dan peralatan penelitian
Sampel yang digunakan untuk analisis adalah polong kacang panjang yang
diperoleh dari 5 petani kacang panjang yang ada di Desa Tunjuk Selatan, Kecamatan
Tabanan, Kabupaten Tabanan.
Bahan-bahan kimia yang diperlukan adalah solven/ pelarut (aseton, CH2Cl2,
petroleum eter), sodium sulfat (anhidrous), dan florisil (particle size 0,150-0,250
mm, for column chromatography) dan insektisida Sidazinon 600 EC.
Peralatan analisis yang dipergunakan adalah blender, erlenmeyer (ukuran 125 ml
dan 250 ml), beaker glass (ukuran 25 ml dan 50 ml), corong, kertas saring, gelas ukur
(ukuran 100 ml dan 10 ml), pipet mikro, syrine (10 μl), timbangan (Mettler Toledo),
Evaporator (Airflow Monitor, Mach-Aire Ltd), tabung uji, kolom kromatografi dan
Gas Chromatography (Model 8000 TOP).
Prosedur Analisis Residu Pestisida
Analisis residu insektisida dikerjakan berdasarkan AOAC (1990) dengan
menggunakan Gas Chromatography (Model 8000 TOP yang dilengkapi dengan
Electron Capture Detector). Tahapan analisis meliputi: ekstraksi polong kacang
panjang, pemurnian (Clean up), pembuatan larutan standar dan analisis kuantitatif
(perhitungan kadar residu).
6
Recovery test merupakan patokan untuk menilai apakah metode yang
digunakan sudah cukup baik. Recovery test yang diperoleh pada penelitian ini
sebesar 69,23 %.
Ekstraksi Polong Kacang Panjang
Sampel kacang panjang yang diambil dari tepi luar, tengah dan tepi dalam
yang diambil ± 0,5 kg (pada setiap tepi) dari setiap lahan petani, ditempatkan
pada wadah penampungan dan dicampur. Sebanyak 25 g sampel diambil acak lalu
diblender, ditambahkan 50 ml petroleum eter dan 50 ml dikloro metan, kemudian
diblender selama dua menit dengan kecepatan tinggi. Ekstrak (± 80 ml) disaring
dengan corong yang dilapisi kertas saring (Whatman No. 40) dan ditempatkan
pada beaker glass 50 ml. Ekstrak (± 50 ml) diuapkan (dengan Air Flow suhu
270C) selama 30 menit sampai larutan tinggal ± 2 ml.
Pemurnian (clean up)
Ekstrak (± 2 ml) dimasukkan ke dalam kolom kromatografi yang telah diisi
florisil (15,7 cc) dan sodium sulfat anhidrous (9,42 cc). Elusi dengan larutan
petroleum eter (42,5 ml). Eluat (hasil pemurnian ± 20 ml) ditampung dalam
beaker glass 25 ml, kemudian diuapkan (dengan Air Flow suhu 270 C) sampai
agak kering (± 1 ml), larutan dipindahkan ke dalam tabung uji dengan bantuan
larutan aseton sampai volume 5 ml (Harun, 1995).
Pembuatan Larutan Standar
Larutan standar untuk penelitian ini diperoleh dengan melarutkan insektisida
Sidazinon 16,7 μl ke dalam 10 ml aseton sehingga diperoleh larutan standar
7
Sidazinon 1000 ppm. Konsentrasi larutan standar yang digunakan 0 ppm, 0,5 ppm,
1 ppm dan 3 ppm.
Analisis Kuantitatif (perhitungan kadar residu).
Gas Chromatography dengan kondisi siap pakai (standar) pada suhu kolom
2000C, suhu injektor 2300C, kecepatan alir N2 40 ml/ menit, H2 1,3 kg/cm2 dan
tekanan udara 1 kg/cm2. Analisis dilakukan pada kondisi tersebut dengan
menyuntikkan 4 μl larutan standar dan larutan sampel ke dalam Gas
Chromatography dan menghasilkan kromatogram dengan waktu retensi tertentu.
Konsentrasi residu insektisida dalam sampel dapat dihitung dari grafik
kromatogram yang dihasilkan, kemudian dibandingkan dengan kromatogram standar.
Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah kadar residu insektisida
Sidazinon pada polong kacang panjang. Kadar residu insektisida (R) yang diperoleh
dari hasil analisis di laboratorium dapat dihitung dengan rumus:
Sx Ngs Fv
R = —- x —— x —–
Ulx Ss W
Dimana :
R = Kadar residu insektisida Sidazinon (mg/kg atau ppm)
Sx = Area sampel
Ulx = Volume ekstrak sampel polong kacang panjang yang disuntikkan (μl)
Ngs = Jumlah insektisida standar yang disuntikkan
(Volume standar yang disuntikkan/ μl x konsentrasi standar/ ppm)
Ss = Area standar
Fv = Volume akhir ekstrak (ml)
W = Berat sampel polong kacang panjang yang digunakan (g)
8
Adanya residu insektisida pada sampel kacang panjang di masing-masing
petani dibandingkan dengan nilai MRL (Maximum Residue Limit) untuk sayuran.
3. Hasil Dan Pembahasan
3.1 Hasil Survai
Berdasarkan hasil survai di Desa Tunjuk Selatan, Kecamatan Tabanan
diperoleh penggunaan insektisida Sidazinon berkisar 17 – 20 ml setiap kali
pemakaian penyemprotan. Para petani menggunakan alat pengukur obat berupa
tutup botol Sidazinon karena tidak memiliki alat ukur khusus. Insektisida ini
langsung dituangkan ke dalam air yang ditempatkan pada ember plastik (± 10 L).
Untuk mengaduk larutan dipergunakan sebatang kayu dengan ukuran ± 0,5 m.
Setelah Sidazinon bercampur merata dengan air, larutan tersebut dimasukkan ke
tangki penyemprotan pestisida (isi ± 10 L). Pelaksanaan penyemprotan pestisida
dilakukan pada sore hari pukul 16.00 – 18.00 Wita dan pagi hari pukul 07.00 –
09.00 Wita sesuai dengan jenis hama yang akan dikendalikan.
Pestisida yang digunakan petani tidak ada sisa karena terus terpakai untuk
proses penyemprotan selanjutnya. Jenis pestisida yang dipergunakan petani di
Kabupaten Tabanan yaitu Curacron 500 EC, Marshal 200 EC, Topsin 70 WP,
Solusi, Score 250 EC, Dharmabas 500 EC, Festonal, Sidazinon 600 EC, Super
bionik dan Confidor 200 LC.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan Kepala Cabang Dinas Kecamatan
sering datang menghampiri petani untuk memberitahukan tentang tata cara
penggunaan pestisida, namun sebagian besar petani sudah mengetahuinya dari buku
9
bacaan pertanian ataupun media televisi. Dampak negatif dari penggunaan pestisida
bagi lingkungan sekitarnya telah diketahui oleh sebagian besar petani, diantaranya
kematian organisme lain yang bukan sasaran, pencemaran (air, udara, tanah) dan
dapat meracuni tubuh para petani.
Kacang panjang dipanen ketika berumur 48 hari (rata-rata 5 petani kacang
panjang). Hasil panen langsung dijual di Pasar Badung atau diambil langsung oleh
pembeli. Kacang panjang sehabis panen tidak dicuci oleh petani, karena nantinya
pembeli yang akan mencuci. Pada umumnya panen bisa mencapai 11 – 20 kali, di mana
hasil sekali panen berkisar 2 – 5 kg/ are.
Luas lahan yang ditanami kacang panjang bagi tiap petani ± 40 are, setiap
are memiliki kapasitas ± 150 pohon kacang panjang. Status kepemilikan tanah
yang digarap petani ada yang mengontrak dan ada juga hak milik pribadi petani.
Berdasarkan hasil survai, ternyata terdapat perbedaan dosis yang dipergunakan
oleh petani kacang panjang. Petani menggunakan tutup botol insektisida Sidazinon
sebagai takaran/ ukuran pemakaiannya.
Tabel 3.1
Dosis insektisida Sidazinon yang dipergunakan oleh petani kacang panjang di
Desa Tunjuk Selatan, Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan
Petani Frekuensi
(kali)
ml Sidazinon yang
digunakan di lapangan
Rerata Dosis
(ml/ are)
1 3 20 18 18 – 18,67 9,335
2 3 20 18 17 – 18,33 9,165
3 4 18 18 17 18 18,50 9,250
4 4 18 20 19 18 18,75 9,375
5 4 18 20 18 18 18,50 9,250
Rerata dosis (ml/are) 9,275
Keterangan :
• Frekuensi = frekuensi penggunaan Sidazinon pada saat musim tanam kacang
panjang (kali)
• Alat ukur yang digunakan di lapangan adalah tutup obat Sidazinon
10
• Dosis = volume/ berat insektisida Sidazinon yang dipergunakan untuk
menyemprot satu satuan luas pertanaman kacang panjang (ml/ are).
3.2 Data Residu Insektisida Sidazinon pada Polong Kacang Panjang
Nilai rata-rata residu insektisida Sidazinon pada polong kacang yang
dihasilkan di Desa Tunjuk Selatan, Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan dapat
dilihat pada Tabel 3.2.
Tabel 3.2
Nilai rata-rata residu insektisida Sidazinon pada polong kacang panjang
Petani Residu (ppm) Rerata
I II
1 0,03306 0,03551 0,03429
2 0,00800 0,01662 0,01231
3 0,04163 0,04506 0,04335
4 0,03837 0,03906 0,03872
5 0,01795 0,02923 0,02359
Rata-rata Residu (ppm) 0,03045
Penggunaan pestisida secara konvensional untuk menekan dan
mengendalikan hama serta penyakit pada tanaman demi meningkatkan hasil dan
mutu komoditas sayuran, diperkirakan menyebabkan adanya deposit atau residu
pestisida yang tertinggal dalam sayuran yang dikonsumsi oleh masyarakat.
Pada Tabel 3.2 terlihat bahwa kadar residu insektisida Sidazinon pada polong
kacang panjang di Desa Tunjuk Selatan, ditemukan masih di bawah nilai MRL
(Maximum Residue Limit). Hal tersebut disebabkan oleh sifat insektisida golongan
organophosfat mudah terurai, sehingga tidak/ ditemukan dalam jumlah sedikit dalam
hasil (polong) sesudah panen. Kadar residu insektisida Sidazinon dipengaruhi oleh
dosis yang dipergunakan dalam aplikasi insektisida Sidazinon di lapangan.
11
Penggunaan Sidazinon sebanyak 4 kali penyemprotan (yaitu mulai tanaman
berumur 26 hari) dengan dosis rata-rata 9,275 ml/ are, yang kemudian setelah 6 hari
(rata-rata panen kacang panjang dari 5 petani) dari penyemprotan terakhir dianalisis
residu pestisida, maka masih ada kadar Sidazinonnya yaitu berkisar 0,00800 -
0,04163 ppm.
Jumlah residu Diazinon yang terdapat pada sayur-sayuran semakin sedikit
apabila tenggang waktu antara penyemprotan dengan waktu panen diperbesar. Pada
penelitian Dibyantoro (1979) diperoleh residu Diazinon pada sayur selada akan
menurun dari 6,7 ppm pada hari pertama setelah penyemprotan, menjadi 0,8 ppm
pada hari ke tujuh setelah penyemprotan.
Insektisida Sidazinon adalah pestisida yang bekerja sebagai racun kontak
atau kontak langsung dengan bagian tubuh organisme pengganggu tanaman sasaran,
sehingga residu yang terdapat pada polong kacang panjang sebagian besar adalah
residu permukaan. Menurut Tarumingkeng (1977), residu permukaan yang
tertinggal pada tanaman pada saat disemprot dapat hilang karena pencucian atau
pembilasan. Pencucian bukan hanya terhadap pestisida yang larut dalam air, akan
tetapi juga terhadap pestisida yang lipofilik. Dalam jumlah sedikit pestisida dalam
tanaman dapat hilang sama sekali karena proses pertumbuhan tanaman tersebut.
Diazinon dapat larut dalam air walaupun dalam jumlah kecil (0,004 %)
pada suhu 200C. Dilihat dari sifat kelarutan Diazinon di dalam air, proses
pencucian dapat terjadi. Penelitian tentang reduksi residu pada sayuran dan buah
karena pencucian telah lama dilakukan, diantaranya adalah pencucian sayur bayam
12
dapat mengurangi residu diazinon dari 1,8 ppm menjadi 0,77 ppm (Suwantapura,
1982).
Selain pencucian oleh air hujan, pestisida dapat berkurang akibat sinar
matahari. Sinar matahari mempercepat penguraian Diazinon melalui proses
dekomposisi.
Menurut Amstrong (1974), reaksi kimia yang disebabkan oleh radiasi
gelombang elektromegnetik merupakan salah satu faktor penting dalam penguraian
pestisida. Untuk mengalami dekomposisi, molekul pestisida harus mengabsorpsi
energi cahaya. Energi cahaya yang diabsorpsi oleh molekul pestisida menyebabkan
ikatan kimia pada molekul pestisida tidak stabil dan membentuk radikal bebas
yang lebih reaktif. Hasil dari reaksi fotodekomposisi berupa reaksi isomerasi,
substitusi atau oksidasi. Tipe reaksi yang terjadi tergantung dari sifat fisika
pestisida, jenis pelarut dan adanya reaktan lain seperti oksigen. Pada kondisi di
bawah sinar matahari, pengaruh proses penuaan terhadap penguraian Diazinon
sebesar 33,38 % dan pengaruh sinar matahari mempercepat penguraian Diazinon
sebesar 66,62 %.
Pestisida walaupun digunakan untuk mencegah dan mengendalikan hama
serta penyakit tanaman asal sesuai peraturan, maka residu pestisida yang tertinggal
di dalam sayuran masih berada di bawah ambang batas yang diperkenankan untuk
dikonsumsi, baik ditinjau dari ADI (Acceptable Daily Intake/ jumlah residu pestisida
yang boleh dicerna selama hidup, yang tidak memberikan pengaruh buruk terhadap
kesehatan manusia) maupun MRL (Maximum Residue Limit). Nilai ADI (Acceptable
Daily Intake) Diazinon 0,002 mg/kg/hari (Atmawidjaja, 1986) dan MRL (Maximum
13
Residue Limit) untuk sayuran 0,5 ppm (Harun, 1995). Rata-rata residu insektisida
Sidazinon pada polong kacang panjang yang dihasilkan di Kecamatan Tabanan
sebesar 0,01231 – 0,04335 ppm masih di bawah nilai MRL (Maximum Residue
Limit) untuk sayuran.
4. Simpulan dan Saran
4.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik simpulan sebagai berikut residu
insektisida Sidazinon pada polong kacang panjang di Kecamatan Tabanan sebesar
0,030450 ppm dan penggunaan dosis yaitu 9,275 ml/are. Residu ini masih berada di
bawah nilai MRL (Maximum Residue Limit) untuk sayuran yaitu 0,5 ppm,
sehingga polong kacang panjang yang dihasilkan di Kabupaten Tabanan cukup
aman untuk dikonsumsi.
4.2 Saran
Perlu dilakukan pemantauan terhadap residu pestisida pada tanaman kacang
panjang dan juga sayuran lainnya, agar kadar residunya tidak melebihi MRL
(Maximum Residue Limit) dan sebaiknya sayuran sebelum diolah atau dikonsumsi
dicuci terlebih dahulu dengan air bersih.
Daftar Pustaka
Amstrong, D. F. and J. G Konrad. 1974. Nonbiological Degradation of Pesticides. In:
Guenzi W. D, Ahlrichs J. L, Chesters G, Bloodworth M. E, Nash R.G., editor.
Pesticides in Soil and Water. Second edition. Madison: Soil Science Socirty of
America, Inc., Publisher.
Anonim. 2003a. Survei Pertanian Produksi Tanaman Sayuran dan Buah-buahan.
Jakarta : Badan Pusat Statistik.
14
Anonim. 2003b. Tabanan dalam Angka 2003. Tabanan : Bappeda Kabupaten
Tabanan, BPS Kabupaten Tabanan.
Anonim. 2004. Data Luas Tanam, Luas Panen dan Produksi Komoditi Kacang
Panjang Tahun 2003. Tabanan : Dinas Pertanian Tanaman Pangan
Kabupaten Tabanan.
A.O.A.C. 1990. Official Methods of Analysis of The Association of Official
Analytical Chemists. Editor. Kenneth Helrich, 15th
. Virginia, USA : The
Association of Official Analytical Chemists, Inc.
Dibyantoro, H. A. 1979. A Case Study of Organophosphate Pesticide Residue in
Lectuce and Carrot. Buletin Penelitian Holtikultura VII (5) : 17-23.
Hadi, S. 1976. Metodologi Research. Yogyakarta : Penerbit Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada.
Harun, Y. 1995. Telaah Tingkat Jenis Residu Pestisida pada Beberapa Sayuran
yang Dijual di Pasar Swalayan dan Pasar Umum Bogor (tesis). Bogor:
Institut Pertanian Bogor
Nugrohati, S. dan K. Untung. 1986. Pestisida dalam Sayuran. Seminar Keamanan
Pangan dalam Pengolahan dan Penyajian. Yogyakarta 1 – 3 September.
Sunarjono, H. H. 2003. Seri Agribisnis: Bertanam 30 Jenis Sayur. Jakarta :
Penebar Swadaya.
Suwantapura, D. 1982. Kadar Residu Pestisida Diazinon pada Sayuran Petsai
(Brassica pekinensis L) setelah Pengolahan Biasa (tesis). Bogor : Institut
Pertanian Bogor
Tarumingkeng, R. C. 1977. Dinamika dalam Lingkungan: Aspek Pestisida di
Indonesia. Lembaga Pusat Penelitian Pertanian, Bogor.
Ucapan Terima Kasih
Penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada Bapak
Nyoman Arya (alm), Bapak Dewa Ngurah Suprapta dan Bapak-bapak petani di Desa
Tunjuk Selatan, Tabanan yang telah banyak membimbing dan memberikan informasi
selama penulis menyelesaikan penelitian ini. Semoga semua bantuan ini bermanfaat bagi
para pembaca.

About these ads